Usai Idul Fitri, Siap-siap Silaturahim Syawal 1446 H di Kampus Induk Hidayatullah
“Raih Berkah, Kokohkan Jamaah,” demikian tema yang diusung panitia pada Silatwal 1446 H.
Membangun Miniatur Peradaban Islam


“Raih Berkah, Kokohkan Jamaah,” demikian tema yang diusung panitia pada Silatwal 1446 H.
Ummulqurahidayatullah.id | GEMA takbir bersahut-sahutan memenuhi langit Gunung Tembak, Balikpapan, pertanda hari kemenangan tiba. Hilal telah tampak, menandakan bahwa bulan Ramadhan 1446 H telah berakhir. Namun, di balik sukacita menyambut Idul Fitri, ada rindu yang kami tahan, ada air mata yang kami sembunyikan. Kami, anak-anak rantau yang memilih untuk tidak mudik alias pulkam (pulang kampung), mencoba menghidupkan suasana Ramadhan dan Idul Fitri di Masjid Nurul Mukhlisin, masjid khusus putri. Aku memperhatikan satu per satu wajah teman-temanku. Senyum tetap terbit di bibir mereka, tetapi aku tahu, di dalam hati, ada kerinduan yang menggebu. Rindu rumah, rindu keluarga, rindu kebersamaan di meja makan saat sahur dan berbuka. Di tengah obrolan ringan, salah seorang teman bertanya kepadaku. “Kamu nggak pulang, Si?” “Nggak,” jawabku singkat. “Yah, kamu nggak birrul walidain dong?” lanjutnya, seakan-akan menganggap kepulangan adalah satu-satunya bentuk...
Oleh: Mujtahidah* Ummulqurahidayatullah.id- “MASYA ALLAH, udah besar-besar anaknya, ini yang dulu ganteng yah? Wah sudah menghitam sekarang, dulu putih imut!” “Loh yang ini hitam, yang ini putih, kok bisa?” “Kok gak ada yang mirip bapaknya?” Demikian sedikit contoh komentar orang-orang yang mengaku sebagai “manusia dewasa”, saat bersua dengan teman, sanak keluarga di hari Raya. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya dia tahu bahwa yang ditanya tidak akan mampu menjawabnya. Andaikan pertanyaannya adalah, “Kok kue nastarnya glowing sekali?” tentu bisa saja dijawab “oww itu ditambahi sedikit madu.” Atau pertanyaan, “Kok kue sagu kejunya kecoklatan sekali?”, kita bisa menjawab, “Oh ya, agak telat diangkat, biasa emak rempong multi tasking.” Tapi kalau yang ditanyakan, “Kok ini pesek? Kok kakaknya putih adeknya hitam?” Kan gak logis kita jawab, “Oh itu karena lahirannya pas mati lampu.” Oleh sebab itu, tolonglah wahai...
“Upaya perbaikan ini tidak cukup hanya dengan perbaikan diri sendiri saja, tetapi harus melakukan perbaikan terhadap umat dan bangsa”
“Allahumma unshur al-muslimina fi filasthina. Allahumma a’izza al-Islama wa al-muslimina. Allahumma ahlik al-kafarata wa al-musyrikina a’da-aka a’da- ad-dini”
Tak pelak, suasana haru sempat menyelimuti jamaah Masjid Ar-Riyadh terutama yang menyaksikan pemandangan itu.
“Semoga Allah menerima amal ibadah kita di bulan Ramadhan”
“Salut dan bangga kepada kru MI yang telah melatih anak-anak kita yang turut iktikaf”
Jika disuruh memilih, pastilah mereka memilih lelah mengurus anak dan pekerjaan rumah asalkan tetap bersama keluarga.
“Soalnya kan, imam, jadi gak mungkin bisa ngantuk”
More
[LENSA GUTEM] Berbunga-bunga di Pernikahan 58 Kader Hidayatullah
September 7, 2021
Recent Comments