Stop Kebiasaan Mempermalukan Tubuh Anak saat Bersilaturahim!

Ilustrasi oleh SKR/MCU

Oleh: Mujtahidah*

Ummulqurahidayatullah.id- “MASYA ALLAH, udah besar-besar anaknya, ini yang dulu ganteng yah? Wah sudah menghitam sekarang, dulu putih imut!”

“Loh yang ini hitam, yang ini putih, kok bisa?”

“Kok gak ada yang mirip bapaknya?”

Demikian sedikit contoh komentar orang-orang yang mengaku sebagai “manusia dewasa”, saat bersua dengan teman, sanak keluarga di hari Raya.

Sebuah pertanyaan yang sebenarnya dia tahu bahwa yang ditanya tidak akan mampu menjawabnya.

Andaikan pertanyaannya adalah, “Kok kue nastarnya glowing sekali?” tentu bisa saja dijawab “oww itu ditambahi sedikit madu.”

Atau pertanyaan, “Kok kue sagu kejunya kecoklatan sekali?”, kita bisa menjawab, “Oh ya, agak telat diangkat, biasa emak rempong multi tasking.”

Tapi kalau yang ditanyakan, “Kok ini pesek? Kok kakaknya putih adeknya hitam?”

Kan gak logis kita jawab, “Oh itu karena lahirannya pas mati lampu.”

Oleh sebab itu, tolonglah wahai manusia-manusia dewasa, masih begitu banyak daftar pertanyaan positif yang bisa kita utarakan tanpa membuat bingung orang yang ditanya dan membuat sedih anak-anak yang mendengarnya.

Kita bisa bertanya tentang umurnya, sekolahnya, perasaannya hari ini, kue kesukaannya, atau tentang pengalaman puasanya.

Jika terbersit keheranan atas perbedaan warna kulit, hidung pesek, dll, cukup simpan dalam hatimu atau tanyakan langsung pada Sang Pencipta. Karena sungguh Allah hanya mengamanahkan para orang tua untuk mengandung dan melahirkan, namun dalam proses desain hidung, warna kulit, dll, Allah tidak pernah memberi kesempatan revisi desain sebelum anak-anak lahir.

Jika pertanyaan-pertanyaan itu dianggap hanya basa-basi atau bercanda, ketahuilah bahwa tidak semua anak-anak bisa menerima jokes yang unlogic tersebut.

Bisa jadi ada yang pulang membawa luka dan kesedihan, sampai menimbulkan trauma bertemu banyak orang, atau kehilangan kepercayaan diri, sementara orang tuanya tidak memiliki keahlian untuk menghibur dan menetralkan perasaannya.

Maka berhentilah jadikan anak kecil objek canda untuk membuat orang dewasa lainnya tertawa. Anak-anak adalah peniru dan sikap kita adalah referensi untuk dia gunakan saat dewasa nanti.

Mari melatih lidah dengan kalimat-kalimat positif saat berbicara dengan anak kecil.

Rasulullah adalah sebaik-baik teladan dalam perhatian, dan sikap baiknya terhadap anak kecil.

Bahkan beliau memberikan janji dalam sabdanya yang diriwayatkan Imam Abu Ya’la dari Sayyidah Aisyah
‎ إِنَّ في الجنة دارا يقال لها دار الفرح لا يدخلها إلا من فَرَّحَ الصبيان
“Sesungguhnya di surga ada satu rumah yang bernama Rumah Kegembiraan. Tiada yang memasukinya kecuali orang yang menggembirakan anak-anak kecil.”*

  • Penulis adalah pendidik di Gunung Tembak

You may also like...

1 Response

  1. Musdalifah Amran says:

    Jokes seperti itu hal biasa saja, tapi bagi yang jarang healing dan hidup terlalu serius hal itu dianggap sebagai penghinaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *