Bunga Kertas UAT dan Kenangan yang Terus Melekat

Oleh: @irfatunazhifah02*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- BOLEH, kan, ya, sesekali bernostalgia?!
Sebab terkadang hidup berjalan terlalu cepat, hingga tanpa sengaja sekelebat ingatan datang mengetuk pelan. Membawa kembali aroma ruang kelas, suara lantunan ayat selepas subuh, juga wajah-wajah muda yang dulu sama-sama berjuang menghafal kalam Allah.
Aku tersenyum kecil setiap kali mengingatnya.
Bukan tentang jauhnya perjalanan yang ingin aku ceritakan. Tapi tentang bagaimana tempat itu diam-diam membentuk hidupku.
Darul Madinah Hidayatullah Madiun
Kampus pesantren yang menjadi saksi betapa seorang anak kecil belajar tentang disiplin, perjuangan, dan nikmatnya menjaga ayat-ayat Allah di dalam dada.
Di sana, aku merasa sangat beruntung. Sebab kami tidak hanya diajarkan mengejar hafalan, tetapi juga tetap belajar pelajaran umum.
Di tengah banyaknya lembaga yang menawarkan program tahfidz, tempat itu memiliki sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata: sistem yang tertata, ritme belajar yang hidup, dan suasana yang membuat kami percaya bahwa menghafal Al-Qur’an adalah perjalanan yang indah.
Dan dari sekian banyak kenangan, ada satu hal sederhana yang hingga kini masih begitu melekat dalam ingatan:
Bunga kertas UAT
Bunga-bunga kertas yang selalu menghiasi majelis Ujian Akhir Tahfidz (UAT) itu seolah menjadi penanda musim perjuangan. Warna-warni sederhana yang menggantung di ruangan, namun menghadirkan suasana haru, tegang, sekaligus penuh harapan.
Ikon kecil yang mungkin tampak biasa bagi orang lain, tetapi bagi kami adalah simbol dari ribuan ayat yang diulang setiap hari.
Simbol dari mata yang menahan kantuk saat muraja’ah.
Simbol dari suara yang serak karena terus mengulang hafalan.
Simbol dari doa-doa yang diam-diam dipanjatkan agar ayat itu tetap tinggal di hati.
Saat UAT tiba, kami diwajibkan menyetorkan hafalan sekali duduk sesuai jenjang. Santri SMP menyetorkan 6 juz, SMA 10 juz, dan bagi yang menamatkan diwajibkan 15 juz sekali duduk. Bahkan ada yang mampu menyelesaikan 30 juz dalam sekali majelis.
Sekali Duduk
Kalimat itu mungkin terdengar sederhana. Tapi bagi yang pernah menjalaninya, di sanalah letak perjuangan sebenarnya. Di sanalah hasil muraja’ah harian diuji. Tidak ada jalan pintas selain menjaga hafalan setiap hari dengan sabar dan istiqamah.
Dan nikmat terbesar dari semua itu bukanlah sekadar mampu menyetor banyak juz. Melainkan perasaan ketika ayat-ayat itu terasa hidup di kepala dan hati kita.
Betapa luar biasanya masa-masa itu. Masa ketika hidup terasa begitu dekat dengan Al-Qur’an. Hari-hari yang dipenuhi pengulangan ayat, setoran hafalan, antrean muroja’ah, dan gugup menjelang ujian.
Kini, ketika bunga-bunga kertas itu mungkin masih kembali menghiasi majelis UAT di sana, kenangan itu ikut tumbuh kembali dalam ingatan.
Tentang anak-anak muda yang sedang berjuang menjaga ayat-ayat-Nya. Tentang lelah, air mata dan perjuangan yang ternyata begitu dirindukan.*
- Penulis adalah alumnus Darul Madinah Hidayatullah Madiun
Recent Comments