”Ronaldo atau Messi?” Ketika Dunia Dipaksa Hanya Punya Dua Pilihan

Oleh: Mujtahidah*

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- SAYA akhir-akhir ini sering memperhatikan satu fenomena yang menarik di media sosial.

Baru seseorang berkata, “Saya kurang setuju dengan A,” netizen di kolom komentar sudah buru-buru menyimpulkan, “Oh… berarti dia mendukung B.”

Seolah-olah hidup ini hanya menyediakan dua pilihan. Kalau tidak hitam, pasti putih. Kalau bukan kawan, berarti lawan.

Padahal, saya kok merasa hidup tidak sesederhana itu.

Hitam-Putih

Belakangan saya baru tahu, dalam psikologi ada istilah dichotomous thinking atau berpikir hitam-putih. Sederhananya, kita cenderung melihat sesuatu hanya dari dua kutub yang saling berlawanan, seolah-olah tidak ada kemungkinan lain di antaranya.

Semakin dipikir-pikir, rasanya pola ini memang sedang banyak kita temui di media sosial.
Mengkritik satu kebijakan pemerintah dianggap anti-pemerintah.

Sebaliknya, mengapresiasi satu kebijakan dianggap buzzer.

Menyukai ceramah seorang ustadz dianggap membenci ustadz yang lain.

Atau, guru yang bersikap tegas dianggap tidak memiliki kelembutan.

Padahal kenyataannya tidak sesederhana itu. Seorang guru bisa sangat tegas ketika menegakkan disiplin, tetapi menjadi orang pertama yang memeluk muridnya saat mereka sedang bersedih. Seseorang bisa mengkritik sebuah kebijakan karena ingin negaranya menjadi lebih baik, bukan karena membenci pemerintah.

Kita juga bisa menyukai cara penyampaian seorang ustadz tanpa harus memusuhi ustadz yang lain.

Cara Menilai

Perlu saya tegaskan, tulisan ini bukan sedang membahas perkara akidah atau hukum syariat yang memang memiliki ketetapan yang jelas. Dalam Islam, ada perkara-perkara yang batasnya memang tegas karena ditetapkan oleh wahyu.

Yang saya maksud di sini adalah cara kita menilai manusia dan berbagai persoalan sosial yang sering kali jauh lebih kompleks daripada sekadar dua pilihan.

Yang menjadi persoalan bukanlah perbedaan pendapat. Persoalannya, kita terlalu cepat menyimpulkan.

Baru mendengar seseorang berkata, “Saya tidak suka A,” kita langsung melengkapinya sendiri, “Berarti dia pasti memilih B.”

Padahal, bisa jadi dia memilih C. Bisa jadi D. Bahkan bisa jadi bukan keempatnya.

Kemampuan Berpikir

Barangkali, inilah yang perlu sama-sama kita latih. Bukan hanya kemampuan berbicara, tetapi juga kemampuan berpikir. Menahan diri untuk tidak buru-buru memberi label.

Membiasakan diri melihat konteks sebelum menarik kesimpulan. Karena manusia jauh lebih rumit daripada label yang kita tempelkan kepadanya.

Jujur saja, ide tulisan ini justru muncul setelah beberapa hari saya melihat perdebatan para penggemar sepak bola di media sosial.

Lucunya, banyak orang begitu mudah menyimpulkan posisi orang lain hanya dari satu komentar. Di situlah saya sadar, ternyata masalahnya bukan lagi soal sepak bola.

Sebab, dunia tidak sesederhana dua kotak. Tidak semua orang yang mengagumi Lionel Messi berarti membenci Cristiano Ronaldo.*

  • Penulis adalah aktivis literasi di Balikpapan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *