Mengenang Ustadzah Husniah, Istri Rais ‘Aam Hidayatullah yang Dikenal Sederhana

Oleh: Mujtahidah

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Ada orang-orang yang meninggalkan kesan bukan karena banyak berbicara, melainkan karena cara mereka menjalani hidup.

Ustadzah Hj. Husniah (Istri KH. Abdurrahman Muhammad, Rais ‘Aam Hidayatullah) adalah salah seorang di antaranya.

Setelah bertahun-tahun menjalani hari-hari dalam sakit, Ustadzah Husniah akhirnya berpulang kepada Allah pada Selasa (15/9/2026), 3 Rabiul Akhir 1448 H, pukul 03.22 WITA di RS Kanudjoso Djatiwibowo, Balikpapan.

Kepergian beliau meninggalkan duka bagi keluarga besar Hidayatullah.

Namun di balik duka itu, ada banyak keteladanan yang kembali dikenang: tentang kesabaran, qanaah, kesetiaan mendampingi perjuangan suami, dan keteguhan menjalani amanah tanpa banyak suara.

46 Tahun dalam Kesetiaan

Ustadzah Husniah menikah pada 07 September 1980. Selama 46 tahun, beliau mendampingi perjalanan perjuangan suaminya, termasuk 28 tahun ketika sang suami mengemban amanah sebagai Rais Aam yang sebelumnya disebut Pemimpin Umum Hidayatullah.

Dalam rentang panjang itu, beliau memilih menjalani perannya dengan sederhana. Tidak menjadikan posisi suami sebagai jalan untuk kepentingan keluarga dan tidak pernah kami dengar mengomentari amanah yang diemban sang suami yang memang sangat berat bebannya.

Kesederhanaan itu bahkan tampak dalam hal-hal kecil. Dalam sebuah acara, beliau tidak akan memilih duduk di barisan depan jika tidak diarahkan ke sana. Suaranya mungkin jarang terdengar, tetapi sikapnya justru menjadi bahasa yang mudah dikenang.

Seorang santri yang pernah dekat dengan putri beliau sejak remaja dan kini bertugas di daerah mengenang Ustadzah Husniah sebagai sosok istri dan ibu yang penuh kesabaran.

Ia menyaksikan sendiri bagaimana beliau mengurus rumah, melayani suami, dan menghadapi anak-anak tanpa suara keras, bahkan ketika suasana sedang menegangkan.

“Kesabarannya luar biasa. Sebagai istri pimpinan pun beliau tidak pernah memanfaatkan amanah suami untuk kepentingan diri dan keluarga. Beliau menasihati kami lewat sikap dan keteladanan,” kenangnya.

Kelembutan yang Diingat Sejak Kecil

Keteladanan itu rupanya telah dirasakan bahkan oleh anak-anak yang dahulu datang ke rumahnya hanya untuk bermain.

Ustadzah Fauziah, salah seorang guru KB-RA, masih mengingat masa ketika dirinya dan teman-temannya yang masih duduk di MI/SD sering bermain di rumah Ustadzah Husniah bersama putri almarhumah, Fatimah. Di rumah itu, mereka anak-anak kecil ini, disuguhi teh dan dipersilakan mengambil buah-buahan di sekitar rumah.

Kenangan kecil itu kini terasa begitu berarti. Sebab terkadang, keteladanan tidak hadir dalam nasihat panjang. Ia tumbuh dari cara seseorang memperlakukan orang lain, dari kesabaran yang terus dijaga, dan dari kehidupan yang dijalani tanpa banyak menuntut untuk dikenang.

Kini, setelah panjangnya hari-hari dalam sakit, Ustadzah Husniah telah sampai pada perjumpaan yang pasti akan ditempuh setiap jiwa. Semoga kesabaran yang beliau jalani, kesetiaan yang beliau jaga, dan kebaikan yang beliau tinggalkan menjadi saksi yang indah di hadapan Allah.

يٰۤاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۝ ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۝
“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridai-Nya.” (QS. Al-Fajr: 27–28)

Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau, menerima seluruh amal dan pengabdiannya, melapangkan kuburnya, memuliakan tempatnya, serta mengumpulkannya bersama orang-orang saleh. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kesabaran dan keteguhan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.*

  • Penulis adalah guru dan ibu rumah tangga di Kampus Induk Hidayatullah Balikpapan

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *