Dewan Pakar Hidayatullah: Tren Jumlah Santri Terus Menurun, Pesantren Harus Bangun Tiga Kekuatan Ini

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– Pondok Pesantren di Indonesia secara umum saat ini sedang menghadapi tren penurunan jumlah santri baru serta data total santri yang terus berlangsung.
Hal ini, menurut Dewan Pakar Hidayatullah Ustadz Ali Imron, disebabkan berbagai faktor, baik internal pesantren maupun eksternal.
“(Ini) persoalan yang tidak sederhana,” ujarnya saat didaulat memberikan tausiyah di Masjid Ar-Riyadh, Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Kalimantan Timur, Sabtu (12/9/2026) bakda shalat subuh.
Oleh karena itu, katanya, dibutuhkan kemampuan untuk membaca kondisi secara menyeluruh, dengan Al-Qur’an sebagai rujukan dalam menyelesaikan berbagai persoalan.
Menurut praktisi pendidikan asal Malang, Jawa Timur ini, ada tiga kekuatan utama yang harus dibangun di pondok pesantren untuk menghadapi tantangan itu.
Pertama, Magnet Power atau Daya Tarik; Kedua, Tata Kelola yang Baik; dan Ketiga, Marketing atau Pemberitaan.
Daya Tarik
Ustadz Ali Imron menjelaskan, pondok pesantren harus memiliki daya tarik yang mampu merebut kepercayaan publik.
Seperti Rasulullah ﷺ yang dikenal sebagai Al-Amin sebelum diangkat menjadi Nabi dan Rasul, kepercayaan merupakan modal awal untuk menarik berbagai potensi.
Untuk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, misalnya kata dia, sudah punya modal sebagai daya tarik tersebut. Misalnya, kawasan seluas 138 hektare.
Aset yang merupakan warisan perjuangan para pendiri dan perintis Hidayatullah itu, tegasnya, harus dimanfaatkan dan dilanjutkan oleh generasi muda sebagai modal untuk menjadi daya tarik publik.
“(Gelar) ‘Al-Amin’ harus kita raih, itulah kekuatan yang akan menarik semua potensi yang ada di luar. Inilah tanggung jawab kita anak-anak muda, inilah tanggung jawab kita generasi muda,” ujarnya di depan ratusan jamaah termasuk para pengurus YPPH Balikpapan, dosen PUZ-STIS Hidayatullah, guru SMH RM Putra, mahasiswa, serta santri putra.
Tata Kelola yang Baik
Ustadz Ali Imron menambahkan, kepercayaan publik harus didukung dengan manajemen yang baik. Aset yang besar tidak akan memberikan makna signifikan jika tidak dikelola secara profesional.
Hal ini mencakup kebersihan asrama, kedisiplinan guru dan pengasuh, manajemen kepengasuhan, sekolah, masjid, dan lain sebagainya.
“Seperti apa manajemen di sekolah dan asrama?” tanyanya sekaligus sebagai auto kritik bagi para pengelola pondok pesantren.
Marketing dan Pemberitaan yang Baik
Menurut Ustadz Ali Imron, pondok pesantren juga harus mampu mengabarkan dengan baik kepada masyarakat bahwa di tempat ini terdapat idealisme, harapan, kebaikan, dan upaya menyiapkan masa depan manusia.
“Bagaimana mengabarkan bahwa di sini ada idealisme,” ujarnya.
Marketing bukan sekadar promosi, tetapi bagaimana menyampaikan solusi yang ditawarkan pesantren kepada masyarakat.
Baca Kebutuhan Masyarakat
Untuk menjalankan ketiga kekuatan tersebut, para pengelola pondok pesantren harus memilik tiga kemampuan lainnya. Yaitu: Membaca Kebutuhan Publik (Umat/Masyarakat); Menawarkan Solusi; dan Melakukan Edukasi.
Para pengelola pondok pesantren harus membaca kebutuhan publik atau umat saat ini. Jika tidak bisa membaca kebutuhan itu, maka menurut Ustadz Ali Imron, pondok pesantren hanya menghadirkan sesuatu yang tidak dibutuhkan publik atau umat.
Kebutuhan masyarakat berbeda-beda berdasarkan segmennya, sehingga pesantren harus memahami siapa sasarannya dan apa yang mereka butuhkan. Mulai kelas bawah, kelas menengah, hingga kelas atas.
Tawarkan Solusi
Setelah membaca kebutuhan publik, para pengelola pondok pesantren kemudian harus mampu menawarkan solusi yang konkret dan nyata atas kebutuhan tersebut. “Kebutuhanmu apa? Ini solusinya. Konkret!” tegasnya.
Selanjutnya, para pengelola pondok pesantren harus terus melakukan edukasi kepada masyarakat. Dengan demikian, pesantren dapat memiliki nilai pembeda dan nilai tambah dibandingkan lembaga pendidikan lainnya.
Tak Perlu Khawatir, Asal…
Ustadz Ali Imron lantas memberi angin segar bahwa di tengah berjamurnya lembaga pendidikan saat ini, pengelola pondok pesantren tidak perlu merasa khawatir. Selama pondok pesantren memiliki daya tarik, tata kelola yang baik, serta marketing dan pemberitaan yang baik. Sehingga masyarakat mengetahui bahwa pesantren hadir membawa solusi.
“Tekad kita menjadikan Kampus (Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan) ini sebagai kampus peradaban (adalah) tekad yang gak bisa ditawar,” tegasnya.
Sebagai penutup, Ustadz Ali Imron berpesan bahwa kesalahan yang dibiasakan atau diulang-ulang sesunggunya itu berarti membudayakan kesalahan.* (SKR/@Uqreat)
Recent Comments