Ustadz Al Djufri Muhammad Dai Senior Hidayatullah, Wafat di Medan Dakwah Papua
Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.
Membangun Miniatur Peradaban Islam
Dalam setiap kunjungan ke pedalaman, Al Djufri tak sekadar datang sebagai pengajar atau pemimpin, tetapi sebagai sahabat dan penggerak komunitas.
“Perjalanan memang berat. Tapi semua lelah terbayar saat melihat senyum bahagia warga karena tahun ini bisa kembali merasakan nikmatnya daging qurban”
“Masuk pertama kali di sini, Pak Iskandar masih (tinggal di) gubuk-gubuk di sini, Pak”
Tampak tubuh Ustadz Ismail Ali dibaringkan di anjungan kayu tersebut.
Dalam kehidupan sehari-hari, ia tidak pernah memperlihatkan rasa canggung saat berinteraksi dengan siapa pun, baik anak-anak maupun orang dewasa.
“Ustadz Rahmat adalah guru legendaris dari Gunung Tembak. Guru yang ketika melihat murid tidak punya buku, beliau membelikan buku catatan”
“Program ini telah memberikan saya pengetahuan dan keterampilan yang saya perlukan untuk berdakwah. Saya merasa siap untuk membagikan ilmu yang telah saya dapatkan”
“Terus kami siapa yang mengajari tentang Islam lagi? Siapa yang mengajari kami bahasa Arab lagi? Siapa yang mau menyimak bacaan (Al-Qur’an) kami.”
Para mualaf kecil ini ditampung pihak pengelola dalam bangunan sederhana dan sangat ala kadarnya. Tidak sedikit orang tua mereka masih beragama Katolik atau Protestan.
“Syiarkan ke umat bahwa da’i-da’i Hidayatullah memberi cahaya di Titik Nol Nusantara”
More
[LENSA GUTEM] Berbunga-bunga di Pernikahan 58 Kader Hidayatullah
September 7, 2021
Recent Comments