Hujan, Hafalan, & Pengabdian: Kisah Tiga Wanita Imam Muda Masjid Nurul Mukhlisin

Masjid Nurul Mukhlisin di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kaltim. Ini masjid khusus perempuan.* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

Ummulqurahidayatullah.id | SENJA baru saja berlalu. Waktu berbuka belum lebih dari 15 menit ketika ponselku berdering. Sebuah panggilan masuk muncul di layar, nama yang tertera adalah Kak Reyna, imam tetap Masjid Nurul Mukhlisin.

“Halo, Assalamualaikum, Ifah?” suaranya terdengar dari seberang.

“Waalaikumsalam, iya Kak Rey?”

“Tolong, nah… kunci gerbang, gerbang terkunci. Kami mau masuk.”

Hujan deras mengguyur bumi Gunung Tembak, Teritip, Balikpapan, saat itu. Aku terdiam sejenak, mencoba mencari tahu siapa yang memegang kunci gerbang untuk masuk ke kampus putri, di mana Masjid Nurul Mukhlisin berada.

“Aduh, gak tahu siapa yang pegang kunci gerbang. Kak Reyna sendiri?”

“Sama Asiah, Rafida sebentar lagi nyusul juga.”

Aku tertegun. MasyaAllah, perjuangan mereka luar biasa. Dalam kondisi hujan, selepas berbuka, dan di tengah masa liburan, mereka tetap berusaha datang ke masjid.

Tidak semua orang mampu melakukan hal itu. Sejak hari ke-21 Ramadhan 1446 H, hampir seluruh santri dan mahasiswi yang mendapat giliran dakwah fardiah telah pulang, menyisakan hanya beberapa santri dan mahasiswi semester 2 yang dijadwalkan menjaga asrama.

Namun, Masjid Nurul Mukhlisin selalu diusahakan tak pernah sepi.

Dengan arahan dari penanggung jawab pengkaderan STIS Hidayatullah Putri, Ustadzah Solekhah, iktikaf 10 hari terakhir Ramadhan tetap berjalan. Shalat tarawih dan tahajud tetap dalam mode “ON?”. Bahkan, pada shalat tarawih di masjid ini, imam membaca satu juz Al-Qur’an setiap malam.

Lalu, siapa yang bersedia menjadi imam dalam keadaan seperti ini?

Tercetuslah tiga nama: Kak Reyna, Kak Asiah, dan Kak Rafida. Mereka adalah imam tetap shalat tarawih Masjid Nurul Mukhlisin yang dengan ketulusan hati memilih pulang-pergi untuk tetap memimpin shalat.

Bagi Kak Reyna, keputusannya untuk menjadi imam tarawih bukanlah tanpa alasan.

Ia mengaku, menjadi imam adalah salah satu cara terbaik untuk tetap menjaga hafalan Al-Qur’annya.

“Kalau jadi imam, otomatis muraja’ah hafalan terus. Selain itu, dengan jadi imam, ngaji jadi lebih terkontrol, lebih semangat juga kalau di masjid. Vibes Ramadhannya lebih terasa,” tuturnya sambil tersenyum.

Meskipun masa liburan adalah waktu yang biasanya digunakan untuk berkumpul dengan keluarga dan teman, ia tetap memilih datang ke masjid.

“Kadang, walaupun ada reuni, harus tetap datang. Takutnya kalau tidak ada yang menggantikan nanti. Hujan pun bukan alasan, pokoknya harus datang,” lanjutnya.

Dukungan keluarga pun sangat besar. “Orang rumah sangat mendukung, bahkan selalu mendoakan,” tambahnya penuh syukur.

Begitu juga dengan Kak Asiah. Ia mengungkapkan bahwa menjadi imam tarawih di asrama justru lebih nyaman dibandingkan jika ia harus menghabiskan Ramadhan di rumah.

“Kalau di rumah banyak godaannya, malah kurang banyak ngaji. Tapi kalau di asrama, tarawihnya satu juz, lebih nikmat, dan pastinya tidak ngantuk! Soalnya kan, imam, jadi gak mungkin bisa ngantuk,” katanya sambil tertawa.

Keluarganya pun mendukung penuh. “Alhamdulillah, malah diantar. Kalau satu orang di rumah gak bisa ngantar, pasti ada saja yang menawarkan diri untuk ngantar. Jadi makin mantap untuk terus datang,” ujarnya penuh semangat.

Kak Rafida menambahkan, menjadi imam tarawih bukan sekadar amanah, tapi juga memberikan banyak manfaat lain.

“Selain karena amanah, pasti senang juga karena bisa ngulang murajaah, memperbanyak mengaji karena datang ke masjid, kalau di rumah belum tentu banyak ngaji.

Bisa iktikaf walaupun nggak penuh, cari teman juga karena di rumah sebenarnya nggak ada, dan jadi punya pengalaman jadi imam tarawih sampai selesai. Itu pengalaman yang luar biasa dan nggak semua orang bisa merasakannya,” ungkapnya dengan penuh semangat.

Begitulah kisah singkat penuh perjuangan tiga imam tetap Masjid Nurul Mukhlisin pada Ramadhan 1446 H/2025 M. Ini adalah masjid khusus perempuan, tak heran jika imamnya juga perempuan.

Akhirnya, magrib itu, mereka menunggu dari magrib hingga azan Isya sebelum akhirnya gerbang terbuka.

Dari pengalaman itu, mereka belajar untuk datang lebih awal, baik dengan ikut berbuka di asrama atau datang setelah azan Isya.

Kini, mereka bertiga telah memasuki semester akhir, semester 8 STIS Hidayatullah.

Mereka bukan hanya mahasiswa biasa, tapi juga kenal dengan sebutan “anak lahan”.

Kak Reyna adalah anak dari Ustadz Zainuddin Cambang, Kak Asiah anak dari Ustadz Muhammad Masykur, dan Kak Rafida cucu dari nenek Darwiyah. Ketiganya anak warga di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak.

Mereka adalah bukti bahwa dedikasi terhadap Al-Qur’an dan perjuangan di jalan Allah tak kenal libur, tak kenal hujan, dan tak kenal lelah. Semoga kisah mereka menjadi inspirasi bagi kita semua.* (@irfatunazhifah02/STIS/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *