“Wahai Para Ibu! Kala Lelah Beribadah Ramadhan, Lihatlah Cara Allah Menghiburku”

ILUSTRASI: Sejumlah Muslimah mengikuti shalat tahajud berjamaah di Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis, 27 Ramadhan 1446 H (27/3/2025).* [Foto: @SKRsyakur/@Ummulqurahidayatullah]

Ummulqurahidayatullah.id | HATI ibu mana yang tak pilu saat menyaksikan tangisan ummahat di Gaza, Palestina, yang kehilangan anak-anaknya tersayang.

“Anakku syahid dalam keadaan berpuasa dan tidak sahur,” ujar seorang ibu dengan deraian airmata.

Dalam potret lain seorang anak kecil mengais kresek sampah untuk mencari makan, tak ada sosok ayah sebagai pencari nafkah dan sosok ibu untuk memberikan hiburan atau sebuah pelukan hangat.

Lalu video dua anak perempuan kecil yang menangis berpelukan karena terpisah dari orangtuanya saat melarikan diri karena diusir paksa Zionis-Israel.

“Cukuplah Tuhan bagiku dan dialah sebaik-baik pengatur urusan,” ungkap seorang wanita Gaza di tengah suasana duka.

Allah! Kuingat kembali keluhan-keluhan kecilku saat lelah mengurus anak-anak, mencuci, menyimpun rumah, memasak untuk berbuka dan sahur, membangunkan anak-anak sahur, shalat, membeli kebutuhan rumah seorang diri sembari berpikir cara mengatur dan menghemat keuangan.

Sementara suami tugas dakwah lebih dari 10 hari di luar kota.

Manusiawi jika seringkali lelah fisik menghampiri, ditambah lelah psikis efek dari keinginan untuk khatam Qur’an berkali-kali, keinginan tuntas murajaah, menyelesaikan proyek-proyek dan target-target mimpi yang tertunda, mendampingi anak menuntaskan tugas-tugasnya, dan mimpi bisa menikmati iktikaf untuk memaksimalkan ibadah.

Namun, lihatlah cara Allah menghiburku dan menghibur para ibu yang mengalami keadaan yang sama.

Kita lelah, namun masih bisa bersama-sama dengan anak, masih bisa mendekapnya. Suami pergi masih bisa dinanti pulang. Apa kabar mereka saudara-saudari kita di Gaza?

Jika disuruh memilih, pastilah mereka memilih lelah mengurus anak dan pekerjaan rumah asalkan tetap bersama keluarga. 

Wahai para ibu!

Ibadah tak harus di atas lantai masjid. Ibadah bisa didapat dari kesabaran kita mendiamkan rengekan anak, mendampingi mereka belajar berpuasa, mengajak mereka shalat.

Ibadah  juga bisa didapatkan dari zikir yang tak henti kita ucapkan saat memasak, atau ikhlas yang menambah kekuatan saat menuntaskan tumpukan cucian yang tak ada habis-habisnya. Menahan nafsu dari banyaknya keinginan duniawi, itu juga bagian dari ibadah.

Mari maksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan, jangan lalai karena euforia Hari Raya Idul Fitri. Perbanyak istighfar dalam aktivitas apapun yang kita lakukan, karena tidak ada keinginan tertinggi yang ingin kita capai di bulan Ramadhan kecuali memperoleh ampunan atas banyaknya dosa-dosa dan kelalaian kita.

Masih ada waktu.

العبرة بكمال النهايات لا بنقص بدايات 

Yang menjadi tolak ukur adalah kesempurnaan akhir, bukan kekurangan saat permulaan.

إنّما الأعمال بخواتيمها

Sesungguhnya amalan-amalan itu tergantung pada akhirnya.* (Mujtahidah/Ibu rumah tangga/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *