Dr Abdul Aziz Qahhar Ungkap Tiga Warisan Pendiri Hidayatullah

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- “Kalau bukan karena manhaj Sistematika Wahyu, Hidayatullah tidak perlu ada. Cukup memperpanjang barisan Islam.”

Pernyataan tersebut menjadi salah satu penegasan yang disampaikan Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, Ustadz Dr. Ir. H. Abdul Aziz Qahhar Mudzakkar, M.Si., saat menjadi pembicara dalam Seminar Milad Emas 50 Tahun Pondok Pesantren Hidayatullah Pusat Balikpapan yang digelar di Kampus Hidayatullah Ummulqura Balikpapan, Rabu (5/8/2026).

Dalam pemaparannya, Ustadz Abdul Aziz mengajak seluruh peserta kembali memahami jati diri Hidayatullah melalui tiga warisan besar yang ditinggalkan pendirinya, Ustadz Abdullah Said, yakni Sistematika Wahyu, Imamah Jamaah, dan Lembaga Perjuangan, yang diwujudkan dalam sistem berkampus sebagai miniatur peradaban.

Mengawali materinya, beliau mengenang Ustadz Abdullah Said sebagai sosok yang multitalenta, visioner, orator, pemimpin, sekaligus manajer.

“Beliau adalah sosok yang multitalenta, visioner, orator, memiliki kapasitas kepemimpinan yang luar biasa, sekaligus seorang manajer. Saat itu kami hanya mengikuti dengan sami’na wa atha’na. Belum tentu semua memahami secara intelektual apa itu Hidayatullah, tetapi kami percaya kepada arah perjuangan beliau.”

Menurut Ustadz Abdul Aziz, setelah wafatnya Ustadz Abdullah Said pada 1998, Hidayatullah menghadapi tantangan besar untuk merumuskan kembali nilai-nilai yang menjadi alasan keberadaan dan arah perjuangannya.

“Inilah tantangan kita, merumuskan apa yang menyebabkan Hidayatullah ada dan apa nilai-nilai perjuangannya. Itulah pekerjaan besar yang segera kita kerjakan setelah beliau wafat.”

Sistematika Wahyu sebagai Manhaj

Warisan pertama adalah Sistematika Wahyu sebagai manhaj. Ustadz Abdul Aziz menjelaskan bahwa secara historis Hidayatullah berdiri pada 1973, sedangkan Sistematika Wahyu mulai dirumuskan sekitar 1976 setelah Ustadz Abdullah Said mendalami Tafsir Sinar yang disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu.
Dari situlah lahir keyakinan bahwa dakwah dan proses pembinaan harus mengikuti tahapan pendidikan Rasulullah ﷺ sejak turunnya wahyu
pertama.

“Kalau bukan karena manhaj Sistematika Wahyu, Hidayatullah tidak perlu ada. Cukup memperpanjang barisan Islam.”

Beliau menuturkan, penekanan terhadap Surah Al-‘Alaq begitu kuat disampaikan Ustadz Abdullah Said hingga para aktivis di Makassar saat itu dikenal dengan sebutan “mabuk Al-‘Alaq”.

Imamah Jamaah

Warisan kedua adalah Imamah Jamaah, yaitu kepemimpinan yang mengatur garis komando dalam kehidupan organisasi sehari-hari (day to day leadership).
Ustadz Abdul Aziz menuturkan bahwa ketika estafet kepemimpinan beralih kepada Ustadz Abdurrahman Muhammad, beliau menyampaikan,

“Saya bukan Ustadz Abdullah Said, bukan orang yang karismatik, bukan orator, dan bukan pemimpin dengan kaliber seperti beliau.” Karena itu, kepemimpinan yang dijalankannya adalah kepemimpinan syura.
Sejak saat itu dibentuk Dewan Eksekutif, Dewan Syura, dan Majelis Syariah sebagai implementasi kepemimpinan syura dalam menjalankan amanah organisasi.

Gerakan Jihad

Warisan ketiga adalah Lembaga Perjuangan atau yang dalam jati diri Hidayatullah disebut Al-Harakah Al-Jihadiyah Al-Islamiyah.
Ustadz Abdul Aziz menjelaskan bahwa Ustadz Abdullah Said memahami perjuangan Islam sebagai bentuk totalitas pengorbanan. Pemahaman tersebut berangkat dari firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 111 tentang Allah membeli jiwa dan harta orang-orang beriman dengan balasan surga.

Semangat itu kemudian diwujudkan dalam komitmen hidup beliau untuk menyerahkan seluruh diri dan hartanya demi perjuangan Islam.

“Saya ingin totalitas dalam perjuangan Islam. Seluruh diri saya dan seluruh harta saya untuk perjuangan. Kalau besok saya meninggal, seandainya istri dan anak-anak saya ingin meninggalkan Hidayatullah, mereka hanya boleh membawa apa yang melekat di badan mereka.”

Menurut Ustadz Abdul Aziz, totalitas itulah yang menjadi ruh lahirnya Lembaga Perjuangan Hidayatullah. Semangat tersebut kemudian diwujudkan dalam bentuk praksis melalui Sistem Berkampus, yaitu kampus sebagai miniatur peradaban yang dahulu dikenal dengan istilah Darul Hijrah, sekaligus menjadi markaz dakwah dan markas perkaderan.

Karena itu, beliau mengingatkan agar kampus-kampus Hidayatullah tidak hanya dikenal sebagai lembaga pendidikan.

“Kalau ada kampus Hidayatullah yang gedungnya megah, gaji gurunya besar, tetapi guru-gurunya tidak mengerti jati diri Hidayatullah, itu sama dengan barang rongsokan.”

Beliau menegaskan bahwa keberhasilan kaderisasi sangat bergantung pada pemahaman para guru terhadap jati diri Hidayatullah. Oleh sebab itu, guru-guru Hidayatullah wajib mengikuti pembinaan melalui marhalah agar mampu melahirkan kader-kader yang memahami manhaj dan nilai perjuangan Hidayatullah.

Menutup pemaparannya, Ustadz Abdul Aziz mengutip pesan visioner Ustadz Abdullah Said tentang cita-cita membangun peradaban.

“Kalau nanti di akhirat Allah bertanya, ‘Mana negara Islam yang kamu bangun?’ Saya mungkin hanya bisa menjawab, ‘Saya hanya mampu membangun kampus.'”

Bagi Ustadz Abdullah Said, kampus bukan sekadar kumpulan bangunan atau institusi pendidikan. Kampus adalah pusat dakwah, pusat perkaderan, dan miniatur peradaban yang menjadi wadah lahirnya generasi penerus perjuangan Islam.*(Itha/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *