Lika-liku Lebaran di Gutem: Begini Perasaan Santri Putri yang Tidak Pulkam

Ummulqurahidayatullah.id | GEMA takbir bersahut-sahutan memenuhi langit Gunung Tembak, Balikpapan, pertanda hari kemenangan tiba.

Hilal telah tampak, menandakan bahwa bulan Ramadhan 1446 H telah berakhir.

Namun, di balik sukacita menyambut Idul Fitri, ada rindu yang kami tahan, ada air mata yang kami sembunyikan.

Kami, anak-anak rantau yang memilih untuk tidak mudik alias pulkam (pulang kampung), mencoba menghidupkan suasana Ramadhan dan Idul Fitri di Masjid Nurul Mukhlisin, masjid khusus putri.

Aku memperhatikan satu per satu wajah teman-temanku. Senyum tetap terbit di bibir mereka, tetapi aku tahu, di dalam hati, ada kerinduan yang menggebu. Rindu rumah, rindu keluarga, rindu kebersamaan di meja makan saat sahur dan berbuka.

Di tengah obrolan ringan, salah seorang teman bertanya kepadaku.

“Kamu nggak pulang, Si?”

“Nggak,” jawabku singkat.

“Yah, kamu nggak birrul walidain dong?” lanjutnya, seakan-akan menganggap kepulangan adalah satu-satunya bentuk bakti kepada orang tua.

Aku terdiam sejenak, lalu menjawab mantap, “Nggak selamanya birrul walidain itu harus ada di rumah dan membantu orang tua secara fisik. Menaati perkataan dan keputusan mereka juga bentuk birrul walidain, bukan?”

Sebagai mahasiswa semester akhir, banyak pertimbangan yang harus kupikirkan. Skripsi, wisuda, dan biaya kepulangan—semuanya bukan hal yang ringan. Orang tua mana yang tidak rindu bertemu anaknya setelah hampir dua tahun berpisah? Aku pun rindu dengan mereka.

Namun, jarak yang jauh membuat kepulanganku tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tiket pesawat Balikpapan–Tanjung Pinang bisa mencapai tiga juta rupiah sekali jalan. Sebagai mahasiswa yang berpikir realistis, aku memilih menyimpan uang itu untuk biaya wisuda yang dijadwalkan pada bulan 8/2025 mendatang.

Tidak ada yang melarangku untuk pulang. Bahkan keluargaku terus bertanya, “Jadi, pulang kah?”

Dengan mantap aku menjawab, “Nggak usah, Bang. Aku pulang nanti saja sekalian setelah wisuda. Simpan saja uangnya untuk melunasi biaya wisuda dan datang ke sini menghadiri wisudaku.”

Siapa yang tidak ingin sahur dan berbuka bersama keluarga? Namun, aku mencoba berpikir positif.

Ini tahun terakhirku di kampus STIS Hidayatullah, jadi aku memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk hal-hal baik dan positif lainnya.

Aku sadar bahwa birrul walidain bukan sekadar pulang ke rumah, tetapi juga tentang bagaimana berbakti dengan cara yang paling bermanfaat bagi keluarga dan masa depanku sendiri.

Berbakti kepada “Ibu Ideologis”

Sebagai mahasiswa yang tidak pulang, bukan berarti kami menjadi anak paling gabut. Banyak kegiatan yang kami ciptakan sendiri, bahkan beberapa teman mendapatkan tugas dari Ustadzah kami, Ustadzah Fathillah, untuk membantu salah seorang warga.

Awalnya aku merasa senang, tetapi lama-kelamaan ini menjadi tantangan tersendiri. Ibu yang kami bantu tinggal sendiri karena anak-anaknya berada di tempat masing-masing. 

Kondisi fisiknya kurang sehat, sering batuk dan sesak napas. Ia juga sangat teliti dan menginginkan segala sesuatu dilakukan dengan sempurna. Dari sini, aku belajar bahwa rasa empati terhadap orang lain sangatlah penting. 

Tidak semua orang memiliki keluarga yang selalu hadir di sisinya dan kehadiran seseorang bisa menjadi bentuk perhatian yang berarti bagi mereka.

Beberapa saat jelang lebaran, aku dan kawanku merasa ingin kembali ke asrama lebih awal. Malamnya, aku berkata kepada ibu, “Bu, kami rencana mau pulang pas malam takbiran.”

Ia menatap kami dan berkata, “Loh, berarti ibu tinggal sendiri dong pas lebaran? Kenapa nggak bilang kalau nggak bisa sampai lebaran?”

Aku terdiam sejenak, lalu beralasan, “Maaf, Bu!”

Aku pun merasa tidak tega meninggalkannya sendirian.

Keesokan paginya, ibu berkata, “Ibu nanti lebaran (hari) ke-3 mau ke (menyebut sebuah kota, red). Bisa kah kalian tunggu ibu sampai pergi? Bisa ke asrama nanti habis shalat id, tapi balik lagi ke rumah ya.”

Aku merasa tidak enak hati, tetapi spontan menjawab, “Iya, Bu.”

Kini, aku memahami pelajaran besar yang selalu Ustadzah Fathillah sampaikan. Aku belajar bahwa birrul walidain bukan hanya tentang fisik, tetapi juga tentang pengorbanan, kebaikan, dan memahami keadaan.

Setiap tantangan membawa pelajaran berharga yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Akhirnya, kami anak rantau melaksanakan shalat Idul Fitri di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak, Senin, 1 Syawal 1446 H (31/3/2025). Merasakan peluk hangat dari orang tua ideologis kami yang juga istri pembimbing.

Kami mohon maaf atas segala keluh kesah kami selama ini. Taqabballahu Minna Wa Minkum Ya Karim.* (@irfatunazhifah02/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *