Secuplik Kisah Pelaku Sejarah Dakwah Hidayatullah di Pulau Papua
“Masuk pertama kali di sini, Pak Iskandar masih (tinggal di) gubuk-gubuk di sini, Pak”
Membangun Miniatur Peradaban Islam
“Masuk pertama kali di sini, Pak Iskandar masih (tinggal di) gubuk-gubuk di sini, Pak”
Pada kunjungannya itu, Ustadz Hamim Thohari dan para asatidz lainnya juga bersilaturahim ke rumah keluarga pewaqaf tanah Ponpes Hidayatullah Binjai, tak jauh dari lokasi pesantren.
“Kampus ini menjadi saksi awal berkembangnya Hidayatullah di wilayah timur Indonesia”
“Seluruh peserta di sini harus memahami, pernikahan adalah perjanjian suci”
Beberapa kali, ustadz yang dikenal hobi bercocok tanam dan pelihara hewan ternak ini kedapatan memungut sampah sendiri lalu membuangnya ke tempat yang disediakan.
Jika ada seorang lelaki berpacaran, maka apa bedanya ia dengan anak kecil yang hanya suka “bersenang-senang” saja, tanpa ada komitmen, keterikatan, dan tanggung jawab?
“Sebagai aktivis dakwah, nilai sabar itu tidak menandakan bahwa kita itu bodoh, malahan nilai sabar akan melahirkan keimanan dan ketaatan pada Allah”
Majalah ini secara resmi dilahirkan pada bulan Mei tahun 1988. Tercatat, edisi perdana (01) Majalah Suara Hidayatullah terbit pada 10 Mei 1988 dengan headline utama “Islam Kaffah dari mana Memulainya”.
“Alhamdulillah, ini sebagai syiar sekaligus motivasi untuk para mahasiswa dan alumni STIS. Tetap semangat semuanya”
“Terutama di Gunung Tembak. Sebab peserta tidak cuma dijejali dengan materi di dalam ruangan saja. Tapi juga bagaimana pelaksanaan nilai-nilai Islam dalam keseharian mereka”
More
[LENSA GUTEM] Berbunga-bunga di Pernikahan 58 Kader Hidayatullah
September 7, 2021
Recent Comments