Pemimpin Umum Hidayatullah Tegaskan Peduli Lingkungan & Estetika Bagian dari Peradaban Islam

Ummulqurahidayatullah.id– Mencukur dan peradaban Islam, apa hubungannya?
Sepintas, tak ada hubungan sama sekali. Satu tentang rambut yang digunting untuk dipendekkan atau dirapikan. Biasanya tempat cukur atau pangkas rambut ini mudah saja dijumpai di pinggir jalan dan di mana-mana.
Satu lagi tentang peradaban. Tentang idealisme besar dan harapan umat Islam mewujudkan secara nyata ajaran agamanya dalam keseharian. Peradaban yang terbangun dari personal, komunitas, hingga masyarakat yang menyatu dalam satu tujuan bersama. Membangun peradaban Islam seperti yang pernah dicapai oleh generasi sahabat Nabi dahulu.
Nyaris fiks. Kedua urusan ini memang tidak ada irisan atau singgungan apapun.
Etika & Estetika
Namun, uniknya, bagi KH Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah, hal itu justru contoh konkret meski begitu sederhana. Bahwa, cukur rambut itu bagian dari peradaban Islam.
Inilah yang dijelaskan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Kampus Induk dan Utama Hidayatullah, yang digelar di Kab. Mimika, Papua Tengah, beberapa waktu lalu.
Menurut Ustadz Abdurrahman, sapaannya, berislam tak cukup dengan semangat saja. Dibutuhkan etika dan estetika.
Islam bukan hanya ibadah ritual tanpa peduli dengan akhlak serta lingkungan sekitar. Justru, lanjutnya, etika dan estetika harus berjalan seiring sejalan. Tampak terwujud secara nyata dalam kehidupan sehari-hari orang beriman.
“Itu harus tampak. Kita datang, Alhamdulillah rapi. Jangan biarkan gondrong itu kembang-kembang (bunga),” ucapnya memberi contoh.
Selanjutnya, dai senior yang sudah berdakwah puluhan tahun itu mengilustrasikan anomali peradaban Islam dengan rambut yang tidak dicukur.
“Rambut saja kalau tidak disisir bermasalah, nabilang kita orang sinting,” ujarnya dengan logat khas Bugis, Sulawesi Selatan.
Teladan dari Nabi
Konon ceritanya, ada seorang istri yang tidak begitu respek dengan suaminya. Masalah ini lalu dilaporkan kepada Nabi Muhammad. Rasulullah kemudian menyuruh laki-laki itu untuk mencukur rambutnya, merapikan kumis, mandi sebersih-bersihnya, dan juga memakai baju terbaiknya. Tidak lupa menyemprotkan wangi-wangian.
“Setelah itu pergilah salam di depan pintu rumahmu,” ucap Ustadz Abdurrahman menirukan percakapan Nabi dan sahabatnya itu.
“Lihat apa yang terjadi! Bisa-bisa istrinya pangling dan tidak kenal suaminya. Eh, siapa ini (saking terkesimanya, red)?” lanjut ceritanya yang disambut tawa para peserta Rakornas.
Itulah khuluqun azhim. Punya magnet power, kekuatan akhlak yang bisa mempengaruhi. Bahwa seluruh potensi alam dan lingkungan sekitar adalah bahan baku yang diberikan oleh Allah untuk dikelola menjadi alat peraga dakwah Islam.
Tak Tinggalkan Sampah Sembarangan
Dalam kesempatan lain, diceritakan Ustadz Abdurrahman punya kebiasaan untuk tak meninggalkan sampah di satu tempat yang dikunjunginya. Sekecil apapun, gelas kemasan plastik misalnya.
Beberapa kali, ustadz yang dikenal hobi bercocok tanam dan pelihara hewan ternak ini kedapatan memungut sampah sendiri lalu membuangnya ke tempat yang disediakan.
Awak Media Center @Ummulqurahidayatullah secara langsung pernah pula mendapati Pemimpin Umum Hidayatullah mengantongi kulit permen yang dipungutnya di bawah kaki meja pada satu ruang pertemuan hingga mendapati tempat sampah yang dicarinya. Subhanallah. Luar biasa keteladanan dan kepeduliannya terhadap lingkungan.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments