Dai Hidayatullah Bontang Ingatkan Para Alumnus Pesantren Kuatkan Akidah, Tak Terbuai Teknologi

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- TAWA kecil para santri pecah sesekali di sudut aula putri siang itu. Sebagian saling menoleh ketika sang pemateri mulai melontarkan pertanyaan-pertanyaan sederhana.
Namun suasana perlahan berubah hening saat sebuah pertanyaan paling mendasar menggema di ruangan.
“Siapa Tuhan kalian?”
“Allah!” jawab para santri serempak.
Di aula putri Pondok Hidayatullah Bontang, Kalimantan Timur, kegiatan Bina Akidah Calon Alumni SMP Islam Ar Riyadh Hidayatullah Bontang berlangsung hangat namun penuh makna.
Kegiatan yang menghadirkan Ustadz Zulfahmi, Lc. sebagai pemateri itu bukan sekadar kajian biasa. Selasa (19/5/2026) itu, di hadapan para santri yang sebentar lagi meninggalkan masa SMP mereka, nasihat demi nasihat terasa seperti bekal perjalanan panjang menuju dunia yang lebih luas.
Dengan gaya santai diselingi candaan ringan, Ustadz Zulfahmi mengajak para santri kembali mengingat pondasi paling penting dalam hidup seorang Muslim: akidah.
Pentingnya Akidah
Dai yang juga Ketua DKM Ar-Riyadh Hidayatullah Bontang ini menjelaskan, akidah bukan hanya sekadar hafalan rukun iman atau syahadat yang diucapkan sejak kecil.
Akidah adalah sesuatu yang mengikat hati manusia, menentukan cara berpikir, cara memandang hidup, bahkan menentukan arah langkah seseorang.
“Segala sesuatu di dunia ini dilandasi oleh keyakinan,” ungkap alumnus Ma’had Aly Ar-Raayah (sekarang beralih menjadi Institut Muslim Cendekia) Sukabumi, Jawa Barat ini.
Para santri tampak antusias mengikuti materi. Sesekali aula dipenuhi tawa ketika sang ustadz menyinggung fenomena-fenomena yang dekat dengan kehidupan remaja hari ini. Tentang reels media sosial, kebiasaan scrolling tanpa henti, hingga candaan soal AI yang kini bisa diajak curhat.
Kegelisahan Nyata
Namun di balik tawa itu, terselip kegelisahan yang nyata.
Ustadz Zulfahmi mengingatkan bagaimana dunia digital berkembang begitu cepat. Teknologi kini mampu mengedit wajah, mengkloning suara, bahkan memanipulasi gambar dengan sangat mudah. Sesuatu yang dahulu terasa mustahil, kini hadir hanya lewat sentuhan layar.
“Jangan mudah menyebar foto di media sosial,” pesannya serius.
Beberapa santri saling berpandangan. Sebagian tersenyum kecil, mungkin merasa dekat dengan kebiasaan yang sering dilakukan sehari-hari terutama saat di rumah.
Di tengah derasnya perkembangan teknologi, Zulfahmi menegaskan bahwa tantangan generasi hari ini bukan lagi sekadar persoalan dunia nyata. Justru tantangan terbesar datang diam-diam melalui layar kecil yang selalu berada di genggaman.
Scrolling yang tak selesai, hiburan yang datang tanpa jeda, hingga dunia digital yang perlahan menguras fokus dan ketenangan manusia.
“Sekarang orang lebih nyaman curhat ke AI daripada ke manusia,” ucap Ustadz Zulfahmi, membuat aula kembali riuh oleh tawa para santri.
Namun tak lama setelah itu, suasana kembali tenang ketika Ustadz Zulfahmi membahas tentang pentingnya menjaga hubungan dengan Allah di tengah dunia yang semakin bising.
Menyendiri Bersama Allah
Ia mengajak para santri untuk tetap memiliki waktu menyendiri bersama Allah. Menikmati langit sore, memandang matahari terbit, atau sekadar diam tanpa sibuk dengan layar ponsel. Bukan hanya untuk berfoto dan membuat caption, tetapi menghadirkan tadabbur di dalam hati.
“Maka lihatlah sunset itu bukan sekadar dipotret, tapi renungkan ciptaan Allah di dalamnya,” tuturnya.
Nasihat demi nasihat terus mengalir hangat. Tentang pentingnya menjaga qiyamul lail, memilih lingkungan pertemanan yang baik, hingga tetap menjaga hubungan dengan guru-guru setelah lulus nanti.
Dunia yang Tak Mudah
Sesekali Ustadz Zulfahmi melontarkan candaan tentang para santri yang ingin melanjutkan pendidikan ke luar daerah.
Aula kembali dipenuhi gelak tawa, tetapi di balik suasana santai itu tersimpan harapan besar agar para calon alumni tetap menjaga akidah mereka di mana pun berada.
Sebab, disebutkan, dunia setelah lulus bukanlah dunia yang mudah. Akan ada lebih banyak pilihan, lebih banyak pergaulan, lebih banyak godaan, dan lebih banyak hal yang bisa menjauhkan manusia dari Allah jika tidak memiliki pondasi iman yang kuat.
Menjelang akhir kegiatan, suasana aula terasa lebih teduh. Para santri mendengarkan dengan tenang ketika Ustadz Zulfahmi menyampaikan pesan terakhir.
Bahwa teknologi boleh berkembang sejauh apa pun. Dunia boleh berubah secepat apa pun. Namun seorang Muslim harus tetap memiliki satu hal yang tidak boleh goyah: akidahnya.
Karena pada akhirnya, bukan kecanggihan teknologi yang menjaga manusia tetap kuat menjalani hidup, melainkan hati yang tetap terhubung kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.* (@irfatunazhifah02/@Uqreat)
Recent Comments