Secuplik Kisah Pelaku Sejarah Dakwah Hidayatullah di Pulau Papua

“Sarasehan Dai Hidayatullah se-Tanah Papua” yang digelar di Kampus Utama Hidayatullah Timika, Papua Tengah, 27 Syawal 1446 H (26/4/2025).* [Foto: Istimewa/FB Miftahuddin]

Ummulqurahidayatullah.id | BEBERAPA Waktu lalu, puluhan dai-dai kondang senior dari berbagai penjuru “turun gunung” ke Pulau Papua, tepatnya di Timika, Papua tengah.

Di antaranya, bahkan terbilang usianya sudah sepuh dan telah sakit-sakitan. Sebagian besar berasal dari Gunung Tembak, Balikpapan. Ada juga yang datang dari penjuru Kalimantan Timur. Terjauh, ada yang bergabung dari Aceh Tenggara, ujung barat negeri ini.

Apa pasal? Iya, merekalah sebagian besar dari pelaku dakwah dan pencetak sejarah me-landing-kan dakwah Islam melalui Pondok Pesantren Hidayatullah ke tanah Papua (dulu namanya masih Irian Jaya), sejak dekade 1990-an silam.

Saat itu, mereka adalah para pemuda yang rata-rata masih bujang. Ada juga yang masih berstatus pengantin baru. Konon, nikmatnya bulan madu mereka rasakan sambil terombang-ambing saat berlayar di atas lautan menuju medan dakwah. Selebihnya, sensasi kasmaran ala pengantin baru itu dihabiskan untuk membabat hutan dan merintis berdirinya pesantren.

Kira-kira demikianlah cerita singkat para juru dakwah yang merintis dakwah di pulau yang menyerupai burung Cenderawasih itu.

“Kamu masih dalam perut usia 7 bulan, Nak,” ucap Ustadz Muhammad Dinul Haq, menirukan pesan Rusmini, ibunya. Saat itu, Ustadz Jamaluddin Ja’far, ayahanda Ustadz Dinul, adalah petugas dakwah yang diterjunkan menerabas belantara di Kota Jayapura.

Ustadz Dinul sendiri adalah kelahiran Jayapura yang kini diamanahi sebagai Mudir Program Pendidikan Ulama Zuama (PUZ) Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah (STIS) Hidayatullah, Balikpapan.

Bawa Mesin Ketik ke Papua

Lain lagi, testimoni Ustadz Abdurrahman Muhammad, Pemimpin Umum Hidayatullah saat ini. Ia menceritakan pengalamannya mendapati Ustadz Iskandar Pabo yang ditugaskan merintis dakwah di Timika.

“Masuk pertama kali di sini, Pak Iskandar masih (tinggal di) gubuk-gubuk di sini, Pak,” ungkapnya menceritakan perjumpaan dengan ustadz Iskandar, sang perintis dakwah di Timika, era 1992 silam.

Ustadz Abdurrahman sendiri pernah merasakan sensasi dakwah di Papua, tepatnya di Jayapura ketika itu.

“Ketika berangkat dari Balikpapan ke Jayapura, saya bawa mesin ketik. Bukan saja mesin ketik, buku-buku juga saya bawa. Karena saya pikir ini jauh Irian, tidak pulang lagi (ke Gunung Tembak), masyaAllah,” lanjutnya.

Kisah heroik ini disampaikan oleh Pemimpin Umum Hidayatullah dalam kegiatan “Sarasehan Dai Hidayatullah se-Tanah Papua” yang digelar di Kampus Utama Hidayatullah Timika, Papua Tengah, 27 Syawal 1446 H (26/4/2025).

Lanjut cerita, seluruh barang-barang bawaan Ustadz Abdurrahman itu dimasukkan ke dalam koper kayu besar (biasa disebut “bendala”) yang dipikulnya sepanjang perjalanan.

“Masih ada barangnya itu di rumah. Kalau saya lihat lagi, wah ini yang saya bikin dulu. Hebatnya lagi karena saya sendiri yang bikin, saya sendiri yang gergaji. Waktu itu ada sisa-sisa papan,” kenangnya penuh semangat.

“Bikin Sejarah!”

Dalam acara sarasehan yang dirangkai dengan Rapat Koordinasi Nasional Kampus Induk dan Utama Hidayatullah itu, tokoh-tokoh senior dakwah tersebut secara bergantian diberi kesempatan menceritakan secara singkat perjalanan dakwah mereka dahulu.

Tak lupa tentunya, mereka juga memberi motivasi dan peneguh semangat dakwah buat generasi penerus dan pelanjut dakwah.

“Membaca sejarah itu mudah dan itu modal bagus. Tapi lebih baik lagi bagaimana kita membikin sejarah,” pungkas Ustadz Iskandar Pabo, mengutip kalimat menggugah dari KH Abdullah Said, Pendiri Hidayatullah.

Diakui, inilah salah satu motivasi terbesar buat dirinya untuk terus bersemangat menjalankan amanah dakwah termasuk ketika ditugaskan ke Timika, dahulu.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *