Di Balik Viralnya Surat Bersejarah KH Abdullah Said kepada Ustadz Hasyim Muda, Apa Hubungannya dengan Majalah “Sahid”?

Surat bersejarah dari KH Abdullah Said kepada Ustadz Hasyim semasa masih muda sebelum hijrah ke Balikpapan. [FOTO; DOK. PRIBADI/SUARA HIDAYATULLAH]

Baca sampai habis biar nda salah paham

Gunung Tembak | Ummulqurahidayatullah.id— Hari Kamis, 10 Muharram 1443 H (19/08/2021), beredar secara masif dua foto digital salinan dua lembar surat bersejarah yang terkait dengan erat dengan keberadaan Hidayatullah.

Berdasarkan pantauan kami di Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, surat tersebut berisi pesan dari KH Abdullah Said kepada Ustadz Hasyim yang disampaikan lewat Ustadz Hasan Ibrahim.

“Tulisan tangan Allahu Yarham Ust. Abdullah Said, saat mengajak Ust. Hasyim Hs ke Balikpapan. Waktu itu belum ada bayangan kampus Gn. Tembak. Ust. Abdullah Said (penulis surat masih menggunakan nama asli), Ust. Hasan Ibrahim (pengantar surat) dan Ust. Hasyim Hs (yg ditujukan), ke tiga2nya masih bujangan,” tutur Anggota Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz Akib Junaid di sejumlah satu grup jamaah Hidayatullah, Kamis, menulis komentar pada surat-surat yang sekaligus ia bagikan itu.

Berikut isi dua surat tersebut sebagaimana ditulis ulang oleh Ustadz Akib:

“Yth (Yang Terhormat) Suadara Ust. Hasyim

Fi

Mahallil Mubaraq

Assalamu Alaikum Wr Wb.

1. Menyesal sekali sebab kami tidak berkesempatan menemui saudara, kiranya dengan surat ini ditambah penjelasan saudara Hasan dapat diterima atau dianggap pengganti kami.

2. Terasa pertemuan kita-kita ini dalam ruang lingkup aqidah, adalah aba-aba komando Allah untuk memulai sejarah baru dalam dunia Islam. In Syaa Allah.

3. Untuk maksud ayat 2 di atas, tenaga Ust. Hasyim turut terpanggil dan harapan ummat terlalu besar, kiranya dapat dikongkritkan dengan saudara Hasan.

4. Terima kasih.

Wassalam… 25 – 11 – 1972

Tanda tangan menggambarkan Kapal yg sementara mengarungi samudra yg siap berhadapan dengan gelombang dahsyat.”

“N/B

Marilah kita anggap tugas ini sebagai jihad yg merupakan kewajiban mutlak bagi kita.

Kesempatan dan peluang yg luas dan sebesar ini merupakan keuntungan yg sangat mahal bagi kita, sebagai pemuda yg bisa membuat sejarah baru dalam dunia Islam,  sehingga kita akan menyesal bila hal tersebut tak berhasil kita manfaatkan.

Kami tak dapat menjanjikan sesuatu, cuma dapat diyakinkam, nawaitu yg ikhlas mendapat imbalan dari Allah, lebih dari yg diingini, dan juga memungkinkan kita mencapai keridhaan Allah.

Penjelasan lebih lanjut dari yth sdr Hasan.

Maaf banyak atas lembaran ini, dan terima kasih atas perhatian saudara.”

Menggelegar rasanya membaca kalimat demi kalimat tersebut, surat tua itu seakan baru dibikin hari ini.

*Kronologi Mencuatnya Surat itu…*

Lantas, bagaimana ceritanya dua surat lawas itu baru viral (lagi?) setelah berusia sekitar lima puluhan tahun? Apa hubungannya dengan Majalah Suara Hidayatullah yang berkantor di Surabaya dan Jakarta?

Viralnya dua surat bersejarah itu tak lepas dari semarak dan gemuruh spirit Milad 50 Tahun Hidayatullah yang diperingati serentak se-Indonesia pada 1 Muharram 1443H (10/08/2021) lalu. Mengambil momentum milad ini, Majalah Suara Hidayatullah (Sahid) insya Allah menerbitkan tema terkait Hidayatullah pada majalah edisi bulan September 2021.

Berdasarkan rencana awal, di antara yang akan dimuat majalah nasional tersebut adalah tiga figur Pendiri Hidayatullah yang masih hidup, yaitu Ustadz Ahmad Hasan Ibrahim dan Ustadz HM Hasyim (masing-masing saat ini merupakan Ketua dan Anggota Majelis Penasehat Hidayatullah), serta satu sosok lagi yaitu Ustadz Nazhir Hasan.

Singkat cerita, Redaksi Sahid menugaskan dua wartawannya di Balikpapan untuk mewawancarai Ustadz Hasyim, sedangkan wartawan di Jakarta mewawancarai Ustadz Hasan, dan akan mengirimkan wartawan untuk mewawancarai Ustadz Nazhir di Lampung.

“Narasumber:

1. Ustadz Hasan Ibrahim – 2 halaman  (Ahmad). Dieksplorasi terkait sejarah ketika awal jumpa Ust. Abdullah Said di Jogja, memotret semangat anak-anak muda untuk berdakwah. Ustadz Hasan yang sedang bersiap kuliah di Madinah, namun peluang itu ditinggal & memilih pergi ke hutan Kalimantan. Apa yg menarik?

2. Ustadz Hasyim HS – 2 halaman (Ust @Bg Masykur LPPH & Bang @SKR Syakur). Dieksplorasi terkait pengkaderan, penugasan, & kehidupan di kampus/pesantren.

3. Ustadz Nazhir Hasan – 2 halaman (Bang @Azim Arrasyid ). Dieksplorasi terkait refleksi sejarah & harapan ke depan,” demikian arahan dari Bang Ahmad Damanik, Penanggung Jawab Rubrik/Redaktur Figur Sahid, di grup redaksi Sahid-Hidcom (04/08/2021).

Di Jakarta, Bang Ahmad dan timnya segera bergerak. Adapun narsum di Lampung belum bisa diwawancarai. Sementara kami yang di Balikpapan segera bersiap-siap mengeksekusi perintah tersebut. Bang Masykur melobi Ustadz Hasyim untuk kesediaannya diwawancarai, sedangkan saya membuat daftar pertanyaan berdasarkan arahan Redaktur Rubrik Figur.

Ustadz Hasyim lantas meminta untuk diberikan daftar pertanyaan terlebih dahulu. Dari daftar pertanyaan yang kami berikan, rupanya Ketua Dewan Pembina Hidayatullah UmmulQura ini mungkin langsung teringat surat lawas KH Abdullah Said kepadanya puluhan tahun silam. Ia pun berniat untuk membawanya dan memperlihatkan kepada Sahid saat wawancara.

Sebelum wawancara pada Sabtu (14/08/2021) malam 6 Muharram 1443 H, Ustadz Hasyim menyampaikan permohonan maaf. “Suratnya lupa terbawa,” ujarnya. Meski begitu, wawancara tetap berlangsung dengan begitu cair.

Bakda wawancara sekitar 1,5 jam di kantor LPPH Gunung Tembak, Balikpapan itu, Ustadz Hasyim berjanji akan mencarikan surat tersebut. “Biasanya saya simpan di Al-Qur’an”.

Selepas wawancara, kami bagi tugas lagi. Bang Masykur mentranskrip hasil wawancara, saya membuat naskah pengantar. Di tengah berbagai kesibukan menangani tugas masing-masing di yayasan, deadline penyetoran naskah (dan foto) Ustadz Hasyim selalu didengungkan Redaksi Sahid di Surabaya dan Jakarta. Demi menuntaskan semua amanahnya, Bang Masykur bahkan sempat tumbang kesehatannya….

Qadarallah! Nyaris bersamaan, saya jatuh sakit hingga tulisan ini digarap. Beberapa hari banyak beristirahat saja. Tugas-tugas ditangani sebisanya dengan work from home (WFH). Amanah lapangan terpaksa terkendala, termasuk memotret surat bersejarah itu.

Sebagai alternatif, saya meminta tolong kepada Bang Zaim Azhar, salah seorang putra Ustadz Hasyim, untuk membantu kami memperoleh surat tersebut. “Suratnya masih dicari,” ujar Zaim, Rabu malam (18/08/2021) sekitar pukul 20.53 WITA via WA.

Sambil menunggu, kami mencari alternatif lain. Sekitar lima menit kemudian, Bang Masykur mengirim pesan.

“Bang Kholid (Bin Ustadz Usman Palese, pen) pernah sempat foto surat itu. Dulu waktu temani Sulthon anaknya Ustadz Mannan wawancara beliau. Jarang dikeluarkan surat itu.”

Segera saja Rabu malam itu saya “pergi” ke Depok, Jawa Barat, tempat dimana setahu saya Bang Kholid berdomisili. Lewat WA, dilakukan penelusuran keberadaan file foto surat tersebut.

Sayangnya… “Di HP terhapus,” jawab Bang Kholid. Ya Allah! Kamis tanggal 19 besok adalah deadline terakhir, semua naskah dan foto harus sudah dilayout dan masuk ke percetakan. Tapi foto surat penting itu belum ada.

Esoknya…

“Itu foto surat Ustadz Abdullah Said ke Ust. Hasyim untuk hijrah ke Gutem bisa diminta difotokan kah, Kur? Keren itu kalau bisa kita tayangkan. Makin eksklusif,” Bang Taju, desainer senior Sahid, mengingatkan lewat pesan WhatsApp, Kamis (19/08/2021) sekitar pukul 11.58 WITA.

Sebelum reminder dari Bang Taju, pada Kamis pagi Zaim sudah mengabarkan bahwa surat yang dicari-cari itu sudah ketemu. Alhamdulillah! “Tapi abis zuhur nanti ya saya kasih karena saya ke kota dulu,” ujarnya via WA, Kamis (19/08/2021) sekitar pukul 08.45 WITA. Baiklah! Segera saya infokan ke Bang Taju kabar ini.

Pukul 12.27 WITA, saya mengingatkan Zaim. “Ojo lali, Bro 😁. Sudah deadline naskahnya lagi di-layout.”

“Dimana bisa kasih ente,” jawabnya seraya bertanya sekitar pukul 12.48 WIB.

“Masih sakit nah. Aku di rumah,” jawabku.

Saya pun mempersiapkan kamera di rumah jika tiba-tiba Zaim datang membawa surat itu. Doktrin di media manapun, seorang wartawan/fotografer harus mengutamakan memperoleh dokumen atau data secara langsung dari sumber pertama.

Karena itulah, saya berharap Kamis siang itu bisa bertemu Zaim langsung dan memfoto surat yang dibawanya. Tapi belum ada info lagi. Kubombardir Zaim dengan chat-chat.

“[13.20, 19/8/2021] SKR: Atau kalau ketemu Ust Masykur bisa kasih ke beliau

[13.58, 19/8/2021] SKR: Bagaimana

sudah ?

[14.00, 19/8/2021] SKR: Posisi dmna kah

[14.00, 19/8/2021] SKR: Posisi suratnya.”

Masih belum ada balasan. Bisa dimaklumi kesibukan Bang Zaim sebagai Ketua STIS Hidayatullah Balikpapan sekaligus seorang ayah dari banyak anak. Akhirnya, karena waktu semakin mepet, durasi waktu di hari Kamis ini segera habis, saya luluh. Kutawarkan alternatif termudah kepada Zaim. Saya memintanya memfoto sendiri surat itu dan mengirimkan fotonya ke saya, meskipun ini berarti tidak begitu eksklusif lagi.

Zaim setuju. Singkat kemudian, dua buah gambar dikirimkannya via WA. Tampak dua surat berisi tulisan tangan asli dan dibubuhi tanda tangan KH Abdullah Said, dengan masih menggunakan nama lama beliau, Muhsin Kahar.

Alhamdulillah!

Ibarat –meski jauh tak sebanding– seorang ibu yang berhasil melahirkan anaknya setelah berjuang mati-matian, rasanya lega bukan kepalang. Puluhan jam menanti, dokumentasi surat penting itu akhirnya sampai di tangan. Foto-foto surat itu segera kukirim ke Pemred Sahid Kang Pambudi Utomo, Redaktur “Figur” Bang Ahmad Damanik, Desainer Bang Taju, dan rekan reporter Bang Masykur sekitar pukul 14.13 WITA.

“Foto surat ini akan eksklusif tayang di Majalah Sahid,” demikian batinku.

Di era masifnya media sosial belakangan ini, media cetak skala internasional, nasional, dan lokal mengalami penurunan drastis. Termasuk Sahid kena dampaknya. Dalam hati kecilku, semoga surat ekslusif tadi mampu menaikkan tiras majalah Sahid. Aamiin!

Belum selesai doaku disambung, tahu-tahu sebuah fenomena terjadi, memperlihatkan fakta perbandingan antara media sosial versus media massa cetak khususnya.

Kamis sore, di sebuah grup penghuni Gutem, beredar dua foto surat-surat bersejarah dari Muhsin Kahar ke M Hasyim itu. Foto-foto itu persis yang kuperoleh tadi siang. Begitu cepatnya seperti virus, foto-foto surat itu sudah viral di grup-grup Hidayatullah secara nasional. Gagal deh eksklusif di Sahid, hehehe….

“Foto surat sudah viral di Fesbuk ya?” tanya Bang Ahmad, Kamis malam Jumat.

“Beberapa menit setelah saya share ke Bg Ahmad, Bg Masykur, Bg Taju, foto-foto surat itu tetiba sudah viral di WA dan FB. Wallahu a’lam bagaimana ceritanya,” jawabku, seraya mengirimkan ikon tertawa.

“Qadarallah!” timpal Bang Ahmad mungkin sambil mengelus dada menerima kenyataan.

Jumat (20/08/2021) pagi, 11 Muharram 1443H, chat Bang Masykur alias Daeng membuatku semakin terheran-heran lewat copas-an pesan WA-nya kepada Zaim.

“[19/8 16.46] Daeng: Tabe

Jangan disebar dulu ya (foto suratnya, pen).

Kecuali ke Syakur

[19/8 16.47] zaim azhari: Masalahnya sdh rame syeh… Di medsos syeh.. 😇

[19/8 16.47] zaim azhari: Nda tau juga AQ. Ko bisa.

[19/8 16.48] Daeng: Nda papa sudah

Ada hikmahnya itu.”

“Itulah yang mengherankan,” balasku.

Semua ada hikmahnya. Kami pun bisa memaklumi realitas saat ini; di saat media cetak pontang-panting mempertahankan eksistensinya, media sosial begitu cepatnya merebut sesuatu yang oleh media konvensional sering diandal-andalkan dengan cap “EKSKLUSIF”.

Pada sisi lain, kami berbangga sekaligus berterima kasih. Atas wasilah upaya kami di Sahid yang akan menayangkan sosok figur Ustadz Hasan Ibrahim dan Ustadz Hasyim, rupanya, viralnya surat lawas bersejarah itu menambah daya gedor spirit berIslam dan berharakah para kader dan pengurus Hidayatullah yang saat ini memang sedang tinggi-tingginya.

“Sangat menggugah (surat itu, pen), betapa lembut beliau menyeru sahabat-sahabatnya,” ujar Bang Imam Nawawi, Ketua Umum Pemuda Hidayatullah, sosok yang selalu bersemangat.

“Seruan Anak Muda Super Dahsyat pada saat itu… Sdh membayangkan masa depan dgn hadirnya sejarah baru dalam dunia Pergerakan Islam 💪💪💪. Allahuakbar 💪,” Ketua DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Ustadz Muhammad Isnaeni, mengomentari surat Allahuyarham Abdullah Said kepada Ustadz Hasyim muda kala itu.

“Sekarang bola berada ditangan pemuda hari ini, mari jaga cita besar yg sangat mulia, dengan terus berikhtiar dengan aksi2 nyata, bukan hanya sibuk berwacana,” pesan dari Ustadz Akib.

“Ayo pemuda, kita arungi the New Frontiers, melanjutkan apa yang sudah beliau2 mulai…

Eropa Selatan

Afrika Tengah

dan Siberia Bawah

menunggu2

para Guardians of Al-Quran

para Pesujud Malam

para Penetes Keringat

kami tunggu kalian

di bawa Gerbang Al-Fatih,” Babeh Dzikrullah turut memompa semangat para pemuda Hidayatullah, meneladani semangat muda para pendiri dan perintis Hidayatullah 50-an tahun silam.

Saya juga tambah semangat. Awalnya, saat foto-foto surat itu mulai beredar, saya menahan diri. Nah, begitu viral dan sudah tak terbendung, saya pikir ini kesempatan Sahid untuk tetap eksis. Bahwa fungsi media bukan sebatas ada oplah setiap bulan yang menghasilkan finansial dan itu suatu kemutlakan. Tapi, ada fungsi lain dari sebuah media, yaitu; efek tidak langsung dari kerja-kerja para stakeholder di dalam media tersebut. Kerja-kerja ikhlas para pejuang media, menghasilkan sesuatu yang positif di luar logika dan perencanaan sekalipun.

Termasuk yang khususnya saya rasakan, bahwa rencana Sahid mengangkat figur dua pendiri Hidayatullah saja ternyata sudah berdampak cukup dahsyat bagi jamaah, kader, dan pengurus Hidayatullah. Apalagi kalau rencana tersebut sudah terwujud –insya Allah segera- dalam bentuk sajian bacaan dan foto yang bisa dinikmati langsung oleh pembaca, insya Allah efeknya akan lebih dahsyat.

Saya juga terhibur dan termotivasi oleh salah seorang ibu warga jamaah Hidayatullah Gunung Tembak yang mengaku sudah siap melahap majalah Sahid edisi bulan depan.

“Penasaran banget nih, baca hasil wawancara dengan beliau (Ustadz Hasyim, pen),” ujar Bunda Hikmah, salah seorang ibu pembimbing.

“Tunggu tanggal terbitnya, Bunda,” gurauku.

“Insya Allah, setia menanti,” jawabnya.

Semoga jamaah Hidayatullah lainnya juga sesemangat itu menantikan dan membaca –bahkan membeli- Majalah Suara Hidayatullah, sebagaimana telah dititahkan Bapak Pemimpin Umum KH Abdurrahman Muhammad. “Baca itu Majalah Suara Hidayatullah!”, tegas beliau yang setiap bulan membeli dan membagi-bagikan sedikitnya 10 eksemplar Majalah Sahid kepada warga tertentu di luar pondok.

Sebagai bocoran, insya Allah Majalah Sahid bulan depan menceritakan terkait kehadiran surat KH Abdullah kepada Ustadz Hasyim muda tersebut. “Bagaimana Ustadz Hasyim merespons surat tersebut?” tanya wartawan kepada Ustadz Hasan Ibrahim. Nantikan jawabannya!*

Muhammad Abdus Syakur/Wartawan Sahid Biro Balikpapan/Ketua Media Center UmmulQura Hidayatullah Gunung Tembak

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published.