Milad 37 Tahun Majalah “Sahid”, KH Abdurrahman Muhammad Terus Apresiasi Kiprah “Suara Hidayatullah”

Ummulqurahidayatullah.id– Majalah dakwah nasional, Suara Hidayatullah (Sahid), meluncurkan edisi Miladnya yang ke-37 bertepatan edisi terbaru (5/2025).

Usia yang terbilang cukup senior untuk ukuran media cetak. Terlebih, di era digital sekarang. Nyaris Majalah Sahid menjadi satu-satunya media Islam yang masih bertahan dengan usia tersebut.

Sejumlah apresiasi dan dukungan dari pihak internal ataupun eksternal terus mengalir atas keistiqamahan majalah yang bernaung di bawah ormas Hidayatullah yang berawal di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur.

Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, tak berbilang lagi menyampaikan manfaat membaca majalah Sahid itu.

Baik secara keilmuan, wawasan keislaman, hingga memotivasi diri untuk ikut bersemangat mendakwahkan Islam ke pelosok negeri.

Baru-baru ini, Ustadz Abdurrahman, sapaannya, kembali “meng-endorse” Majalah Sahid pada kegiatan Rapat Koordinasi Nasional Kampus Induk dan Kampus Utama Hidayatullah, yang diadakan di Kampus Utama Hidayatullah, Timika, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Diceritakan, saat itu dai senior yang telah malang melintang ke berbagai penjuru tanah air ini berbicara tentang semangat penugasan dakwah.

Bahwa dakwah Islam membutuhkan kader-kader yang tangguh. Tak cukup di dalam negeri, bahkan menjelajahi antar bangsa sekalipun.

“Coba saja, kirim ke Filipina, di sana lagi ‘Islam kembali’. Kirim ke Cordova (Spanyol). Di sana ‘Islam lagi kembali’. Itu dua-duanya saya baca di Suara Hidayatullah,” ucapnya penuh semangat, pada Jumat sore, 26 Syawal 1446 H (25/4/2025).

Tentang Majalah Sahid, ia pun mengaku sangat gemar membaca seluruhnya hingga tuntas. Bukan cuma isi tetapi sampai ke kulit-kulitnya (cover-nya) sekaligus.

“Saya, Pak, Suara Hidayatullah saya baca semua. Biar kulit-kulitnya saya baca semua,” lanjutnya masih dengan semangat yang sama.

Pada lain waktu, sohib karib Pendiri Hidayatullah, almarhum KH Abdullah Said itu juga menceritakan senang membaca lembaran-lembaran iklan di majalah Sahid.

“Apalagi (rubrik) Serial Dakwah penting sekali dibaca, bukan main itu. Saya menangis kalau baca Serial Dakwah. Bukan main, masih ada orang yang militan, jalan kaki dua-tiga hari, mengarungi laut. Masih ada. Jadi kita semangat,” terangnya terus memotivasi puluhan dai yang menghadiri Rakornas tersebut.

Memborong Majalah Sahid

Bagi Ustadz Abdurrahman, kecintaan terhadap Majalah Sahid ini bukan sebatas membaca dan mengambil manfaat dari isinya.

Ia juga rutin memberi keteladanan dengan cara memborong sepuluh eksemplar majalah lalu membagi-bagikan kepada orang lain yang membutuhkan.

Majalah Sahid juga dimanfaatkan oleh ustadz yang memang hobi membaca ini sebagai wadah untuk menjalin silaturahim dengan orang lain. Tak pandang kepada siapapun.

“Saya, kan, juga langganan majalah sejak dulu sepuluh eksemplar tiap bulan. Ada yang saya baca, ada juga yang saya bagi-bagi kepada orang lain setiap bulan majalah itu,” terangnya pada kesempatan terpisah.

Pada milad tahun 2025 ini, Majalah Suara Hidayatullah mengusung tema “37 Tahun Berkhidmat untuk Umat”.

Majalah ini secara resmi dilahirkan pada bulan Mei tahun 1988. Tercatat, edisi perdana (01) Majalah Suara Hidayatullah terbit pada 10 Mei 1988 dengan headline utama “Islam Kaffah dari mana Memulainya”.

Sebelum berbentuk Majalah Suara Hidayatullah seperti itu dan dikelola secara profesional, media ini dicetuskan oleh KH Abdullah Said di Balikpapan dalam bentuk yang lebih sederhana yaitu buletin.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *