Spirit Muharram dan Identitas Keilmuan

Oleh: KH Abdurrahman Muhammad, Rais Am Hidayatullah*

*Tulisan ini disadur dari pokok-pokok pikiran beliau dalam Rapat FKPPHI bersama Pembina, Pengawas, dan Pengurus YPPH Balikpapan, Kampus Hidayatullah Pusat Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa, 23 Dzulhijjah 1447 H (9/6/2026)

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat– MEMASUKI Muharram, bagi saya, ini bukan sekadar pergantian kalender hijriah. Ini bulan pertarungan — tapi bukan pertarungan sembarang. Ada sesuatu yang harus menjadi wahid, satu kesatuan, dalam perjalanan menuju Madinah sebagai tempat berlabuhnya perjuangan utama.

Rasulullah ﷺ bersabda: “Afsyus-salām, wa ath’imuth-tha’ām, wa shilul-arḥām, wa shallū billaili wan-nāsu niyām, tadkhulul-jannata bisalām.” Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan shalatlah di malam hari saat manusia tertidur.

Banyak yang membacanya sebagai amalan individual. Tapi letakkan hadits ini pada konteks kedatangan Rasulullah di Madinah — maknanya berubah sepenuhnya. Ini bukan sekadar resep ibadah. Ini gerakan peradaban.

Begitu tiba di Madinah, beliau langsung menguasai pasar dan merumuskan Piagam Madinah. Dua langkah pertama — bukan pidato, bukan seremonial. Apa yang kelihatan sebagai perjuangan spiritual ternyata adalah juga pertarungan ideologis-politis yang nyata dan frontal. Maka kekuatan moral, spiritual, dan sosial itu tidak bisa berdiri sendiri. Ia harus menyatu dengan kekuatan kepemimpinan dan manajerial.

Ada ungkapan: the man behind the gun. Secanggih apa pun senjatanya, jika orang yang memegangnya tidak mumpuni, senjata itu hanya besi yang diam.

Kita punya lahan yang luas. Kita punya nama yang sudah puluhan tahun dikenal. Tapi siapa yang berdiri di belakangnya?

Saya pernah bertanya kepada pimpinan yayasan: kalau bicara kepemimpinan dan manajemen, mulai dari mana? Mereka menjawab sendiri —perencanaan. Benar.

Tapi sebelum perencanaan, ada yang lebih dalam. Ada makrifat. Ada ilmu. Sebab bahkan untuk mengenal Allah, perintahnya dimulai bukan dengan merasakan, melainkan dengan fa’lam — ketahuilah.

Identitas Keilmuan

Maka saya katakan dengan tegas: pesantren ini identitas keilmuannya harus muncul dan kelihatan. Bukan hanya terasa di dalam lingkaran kita sendiri. Bukan hanya dibicarakan dalam rapat. Tapi tampak —ketika orang pertama kali melangkah masuk ke gerbang kita.

Sebab ketika orang tua membawa anaknya ke sini, yang pertama mereka lihat bukan visi. Mereka melihat kamar. Mereka melihat dapur. Mereka melihat kamar mandi. Di sanalah penilaian pertama terbentuk dan kesan pertama tidak pernah datang dua kali.

Allah mengingatkan: “Inna laka fin-nahāri sabḥan thawīlā” — siang harimu panjang dan berat urusannya. Maka isi malammu dengan benar. Sebab semangat siang lahir dari keheningan malam yang diisi dengan sungguh-sungguh. Kalau manajemen malamnya salah — kalau shalat malam sampai terlewat — maka siangnya kita hanya mengantuk di tengah jalan. Bergerak tanpa daya. Bekerja tanpa ruh.

Rasulullah ﷺ berhasil menguasai pasar Madinah, menyatukan yang tercerai, mengusir Yahudi dan menundukkan Khaibar — bukan karena hanya berdoa, bukan pula karena hanya bekerja. Tapi karena keduanya menyatu dalam satu ruh.

Wallāhu a’lam bish-shawāb.* (Rofi/Media FKPPHI/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *