Mengingatkan: Spirit Islam Peduli Lingkungan yang Digaungkan KH Abdullah Said

Oleh: Masykur*
Ummulqurahidayatullah.id | KUALITAS Sumber Daya Manusia (SDM) masih jadi masalah sekaligus tantangan terbesar umat Islam. Hal ini bisa dilihat dari rendahnya tingkat pendidikan dan kesenjangan ekonomi, serta minimnya kepekaan terhadap lingkungan di tengah masyarakat.
Demikian pandangan Ustadz Muhsin Kahar yang lebih dikenal dengan nama panggilan Abdullah Said.
Sosok yang tak lain adalah tokoh pendiri Pondok Pesantren Hidayatullah ini, semasa hidupnya dahulu, memang dikenal dengan kepedulian dan perhatian atas persoalan-persoalan sosial.
Satu waktu, dai kelahiran Sinjai, Sulawesi Selatan ini pernah melontarkan autokritik kepada sebagian umat Islam yang lebih suka dengan pembagian bantuan sosial secara langsung ke masyarakat.
Menurutnya, hal itu bukan tidak baik. Justru praktik membagi seperti itu disebutnya bermanfaat secara langsung. Cuma tidak boleh dijadikan kebiasaan secara terus menerus. Sebab bisa berdampak pada sikap mental yang kurang mendidik.
“Kapan nasib mereka itu bisa berubah? Itu bukan jalan pintas yang baik dengan membawa pakaian bekas dan uang dibagi-bagi kepada mereka,” ungkapnya dalam satu rekaman ceramah pada acara pengajian rutin pekanan setiap malam Jumat di Aula Hidayatullah Karang Bugis, Balikpapan, dekade 1980-an silam.
Kebiasaan turun temurun seperti itu disebutnya bisa berakibat timbulnya mental kurang baik. Umat Islam bisa kehilangan semangat produktivitas dan kreativitas.
“Jadi tidak ada inisiatif, tidak kreatif, tidak produktif, maunya disuapin saja terus menerus,” lanjutnya dengan nada ceramah khas yang penuh semangat.
Islam Cinta Keindahan & Kebersihan
Disebutkan, dampak lain dari rendahnya kualitas SDM umat Islam tergambar pula dari kepedulian terhadap kebersihan dan kerapian lingkungan sekitarnya. Selanjutnya, KH Abdullah Said menceritakan kisah perjalanan dakwahnya di satu daerah, kaitan dengan mental yang tadi.
“Jadi karena mentalnya begitu, (hampir) tidak ada inisiatif dan hanya pasrah masa bodoh (seolah) puas dengan kemiskinan dan kebodohannya,” ucapnya tegas.
Tak ayal yang didapati KH Abdullah Said dalam perjalanan dakwah tersebut adalah gulungan tikar masjid yang sudah robek-robek. Di mihrab tempat imam, ternyata juga dipenuhi dengan laba-laba.
“Kalau kita sujud, setengah mati kita cari lokasi di mana dahi diletakkan. Sebab di sana sini bertebaran ta** cicak,” terangnya mendeskripsikan kondisi satu masjid yang didatanginya.
Hal ini menurutnya tentu bertentangan dengan ajaran Islam yang mendasar. Bahwa Islam justru sangat mencintai keindahan dan kebersihan.
Bukan hanya fisik semata, bahkan termasuk hati atau jiwa pun semuanya diperintahkan untuk dijaga kesuciannya.
Islam adalah agama yang cinta dengan shaf atau barisan yang teratur lagi terorganisir rapi. Layaknya satu kesatuan tubuh yang saling melengkapi dan menguatkan dalam ikatan jamaah yang terpimpin.*
- Penulis ada jurnalis Suara Hidayatullah
Recent Comments