Belajar dari Santri Baru: Nikmatnya Mondok Bukan Tanpa Lelah & Rindu

Oleh: Najmatun Nahdhah*
Ummulqurahidayatullah.id – @Uqreat | PAGI itu, sebelum memberikan materi pengenalan madrasah dalam rangkaian kegiatan Masa Ta’aruf Murid Madrasah atau MataMuda (7/2026), saya mengawali sesi dengan tanya jawab ringan.
Selain untuk mencairkan suasana, saya juga ingin mengetahui bagaimana kondisi dan refleksi para santri baru setelah sepekan menjalani kehidupan di pesantren.
“Nak, coba ceritakan, bagaimana perasaan kalian setelah sepekan berasrama?”
Jawaban mereka begitu jujur dan polos.
“Rindu rumah… rindu Abi dan Ummi.”
“Capek, Ustadzah. Jalannya jauh.”
“Jadi cepat lapar, Ustadzah.”
“Ngantuk, Ustadzah… karena bangun untuk shalat malam.”
Saya hanya tersenyum. Sebab begitulah hakikat sebuah proses. Tidak selalu mudah. Ada rindu yang harus ditahan, ada lelah yang harus dilalui, ada kantuk yang harus dilawan. Semua itu adalah bagian dari pendidikan yang sedang menempa jiwa.
Lalu saya bertanya lagi,
“Kalau begitu, apa yang menurut kalian paling nikmat di tempat ini?”
Suasana pun berubah. Wajah-wajah yang semula tampak lelah mulai berbinar.
“Ramai, Ustadzah… banyak teman.”
“Masjidnya nyaman. Saya senang bisa selalu shalat berjamaah.”
“Lingkungannya indah. Saya senang jalan-jalan di sini, berasa piknik terus.”
“Belajar ngaji, Ustadzah. Di sini saya jadi lebih rajin membaca Al-Qur’an.”
“Senang sekali mendengar guru-guru berbicara bahasa Arab, meskipun kami belum paham.”
Masya Allah…
Dua Sayap
Anak-anak ini mengajarkan satu pelajaran yang sangat berharga. Kebahagiaan bukan berarti hidup tanpa rasa lelah. Mereka tetap merasakan rindu rumah, lapar, capek, bahkan mengantuk.
Namun, pada saat yang sama, mereka juga mampu menemukan begitu banyak nikmat yang Allah hadirkan.
Sering kali orang dewasa justru terjebak pada apa yang kurang. Sementara anak-anak ini mengingatkan bahwa di balik setiap kesulitan selalu ada karunia yang layak disyukuri.
Inilah yang ingin kami tanamkan di pesantren ini: bukan kehidupan tanpa ujian, melainkan hati yang terlatih untuk tetap melihat nikmat di tengah setiap proses.
Sebab seorang Mukmin akan selalu terbang dengan dua sayap: sabar ketika menghadapi ujian dan syukur ketika menerima nikmat.
Allah Ta’ala berfirman:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu.'” (QS. Ibrahim: 7)
Dalam hadits Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Semua urusannya adalah kebaikan. Jika ia mendapat nikmat, ia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu pun baik baginya.” (HR. Muslim)
Belajar & Pengorbanan
Bukankah sesungguhnya seluruh perjalanan seorang santri adalah latihan untuk itu? Menahan rindu agar cinta kepada Allah semakin tumbuh. Menahan lelah agar semangat menuntut ilmu semakin kokoh.
Menahan kantuk demi berdiri di hadapan Rabb-nya pada sepertiga malam. Semua pengorbanan itu tidak akan sia-sia di sisi Allah.
Semoga Allah menjaga langkah-langkah kecil mereka, menguatkan hati mereka dalam menuntut ilmu, melapangkan dada mereka dalam menjalani setiap proses, serta menjadikan setiap rasa lelah, rindu, dan pengorbanan mereka sebagai jalan menuju kemuliaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim)*
- Penulis adalah Kepala SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Ponpes Hidayatullah Balikpapan
Recent Comments