Kisah Ust Baharun Belajar Menghafal Al-Qur’an yang Jarang Terungkap [2]

Ustadz Baharun Musaddad mengisi Talaqqi Al-Qur’an Kolosal di Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak, Kota Balikpapan, Rabu, 7 Ramadhan 1444H (29/03/2023).* [Foto: SKR/MCU]

Sambungan dari artikel pertama

Ummulqurahidayatullah.id | APA saran ustadz bagi seorang santri, memperbanyak khatam atau mengejar setoran hafalan di bulan Ramadhan?

Ini kembali kepada pemangku kebijakan yang membuat aturan di tempat tersebut. Intinya selama memperbanyak interaksi dengan al-Qur’an di bulan Ramadhan, maka ada jaminan pahala berkali lipat insyaAllah.

Bagaimana mempertahankan semangat istiqamah jadi penghafal al-Qur’an?

Saya sendiri belum merasa bisa istiqamah. Memang berat. Cuma belajar dari pengalaman saja. Seperti seorang penghafal mau murajaah 3 juz per hari. Hari ini memang mampu tapi belum tentu besoknya bisa. Butuh perjuangan besar dan kesungguhan nyata. Konsisten menghafal ini berat. Dianjurkan melawan malas (futur) minimal pada satu tahun pertama. Agar terjadi pembiasaan yang melekat.

Benarkah orang yang suka main game tidak bisa jadi penghafal al-Qur’an?

MasyaAllah murajaah hafalan sambil main game, tidak bisa langsung dikatakan salah. Beberapa anak bisa menghafal karena diperlihatkan video yang latar suaranya hafalan al-Qur’an. Sambil menonton mereka juga mendengar tilawah al-Qur’an.

Cuma ditakutkan kalau jadi kebiasaan sampai besar. Justru yang melekat dan dominan adalah permainan game nanti. Intinya, para orangtua atau guru harus selalu memberi motivasi kepada anak jadi penghafal al-Qur’an. Salah satunya dengan diusap kepalanya selalu.

Bagaimana dengan emak-emak yang ingin jadi penghafal al-Qur’an?

Pertanyaan bagus meski jawabannya berat. Hari ini metode menghafal sudah demikian banyak. Tapi kuncinya adalah istiqamah. Ini yang berat. Yakni menyiapkan waktu khusus dalam sehari untuk menghafal. Dia harus berani membuat tantangan dan komitmen menjalani.

Misalnya, apapun kesibukannya, saya siap meluangkan waktu satu jam satu hari untuk al-Qur’an. Kalau istiqamah, izin Allah urusan ini jadi mudah. Biar sedikit asal konsisten.

Pesoalan sekarang, terkadang ada ibu-ibu atau bapak-bapak yang semangat di awal tapi pudar kembali. Ketika muncul metode baru semangat lagi tapi setelah itu loyo kembali. Akhirnya dia bilang, sudahlah saya memang tidak bisa menghafal. Ini salah.

Orang lain bisa mengajarkan banyak metode. Tapi soal disiplin mengatur waktu itu tanggung jawab diri sendiri. Kemampuan dan kecerdasan orang berbeda-beda. Tetapi semua orang bisa menghafal asal dia sabar dan istiqamah.

Ustadz lahir dari didikan orangtua yang lembut. Bagaimana bisa kuat dalam proses menghafal?

Ummi dan Abah memang lembut. Keduanya tidak pernah lepas memotivasi. Ini kuncinya juga. Saya sendiri mulai menghafal tahun 2004 dan benar-benar tuntas 30 juz pada tahun 2009. Sebelumnya hanya khatam setoran lepas saja. Setelah itu baru menghafal sedikit-sedikit kembali.

Pesan buat penghafal, hindari mengejar target setoran. Dahulukan muraja’ah. Itu lebih penting. Satu pekan tidak tambah hafalan lebih baik asal setiap hari tidak lepas dari muraja’ah. 90 persen muraja’ah dan 10 persen menambah hafalan. Ini nasihat buat pribadi saya. Jangan fokus ke banyaknya hafalan. Tambah sedikit-sedikit saja. Tetapi kalau ada yang cepat sampai 4 bulan misalnya, itu pemberian Allah.

Apakah boleh memotivasi anak dengan hadiah?

Kalau hadiahnya ada silakan. Asal jangan bohong, janji hadiah padahal tidak ada. Itu tidak boleh. Ummi sendiri sering memotivasi dengan iming-iming hadiah. Ummi pernah kirim uang untuk acara syukuran dan masak-masak waktu khatam hafalan dahulu.

Apa pengalaman paling “pahit” dari menghafal al-Qur’an?

Saya termasuk yang menyelesaikan hafalan agak lama. Mungkin karena terasa berat di permulaan. Tapi kalau boleh katakan, terberat itu ketika menghafalkan salah satu lembaran dari juz keenam surah al-Maidah, “Qalu ya Musa inna lan nadkhulaha abadan ma damu fiha…” sampai ke bawah.

Ini halaman tidak pernah saya lupakan dalam keadaan apapun sekarang. Guru di pesantren sudah begitu baik. Setiap kali tidak bisa menyetor dengan baik, kata ustadz tersebut, ulangi lagi nanti setor jam 08.00.

Tapi karena memang berat, sampai jam yang ditentukan, tetap saja hafalan saya masih kacau di juz enam itu. Akhirnya dihukum menghafal sambil berdiri, istilahnya mardud (hafalan tertolak). Masih dikasi waktu satu jam lagi untuk menghafal sambil berdiri.  Tapi rupanya tetap saja belum bisa. Singkat kata, sebilah bambu lumayan besar sukses menempel di paha waktu itu. Cambukan itu berbekas di paha berbekas di hati juga.

Mungkin bagi yang punya kecerdasan, tidak pernah merasakan pengalaman seperti itu. Artinya, cambukan bambu itu bukan masalah. Karena al-Qur’an memang tidak diraih dengan kecerdasan semata. Tapi dengan keistiqamahan.

Kalau pengalaman yang paling manis?

Pengalaman paling indah yang tak terlupakan terjadi di rumah Ustadz Andi Mappatang Yusuf, guru di Pesantren Darul Huffadh, Bone. Semoga Allah membalas setiap kebaikan guru-guru kami.

Malam itu perut sudah terasa begitu lapar. Sehingga terbayang, kalau setoran bakda Shubuh di rumah ustadz, minimal ada suguhan pisang goreng. Umumnya santri sudah hafal kebiasaan istimewa guru tersebut. Pisangnya tiga atau empat biji ditemani dengan teh manis ala masyarakat Bugis.

Benar saja, Allah menepati janji sesuai prasangka hamba-Nya. Pisang gorengnya bahkan lebih dari biasanya. Bagi santri ini sangat istimewa dan benar-benar membahagiakan. Apalagi memang dalam keadaan lapar. Sebab santri punya sebungkus garam saja sudah dianggap kaya pada masa itu.

Pernah juga, masa kuliah di Madinah, tiba-tiba ada mobil tak dikenal menghampiri dan (orang di dalamnya) langsung ngasih selembar 500 riyal Saudi atau sekitar dua juta rupiah. Intinya, bersama al-Qur’an itu selalu istimewa.* (Abu Jaulah/MCU)

Subscribe: Youtube Official Silatnas Hidayatullah 2023 > Ummulqura Hidayatullah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *