Halaqah, Solusi ‘Healing’ tanpa Pening [1]

Suasana halaqah talaqqi Al-Qur’an pada siang hari di Masjid Ar-Riyadh, Ahad (03/04/2022), 1 Ramadhan 1443H.* [Foto; SKR/MCU]

Oleh: Nasikin, M.E.*

Ummulqurahidayatullah.id | DALAM hiruk-pikuk dunia modern yang penuh dengan tekanan dan kesibukan, banyak orang mencari ketenangan dan pemulihan jiwa.

Fenomena ini melahirkan tren yang dikenal sebagai “healing,” sebuah upaya untuk menemukan kembali keseimbangan diri melalui berbagai cara, mulai dari perjalanan wisata hingga meditasi.

Namun, di tengah semua itu, ada sebuah tradisi Islam yang telah lama menjadi sarana “healing” spiritual bagi umat yaitu halaqah.

Halaqah, yang secara harfiah berarti lingkaran, adalah bentuk kajian keislaman yang dilakukan dalam suasana keakraban dan kesederhanaan.

Di Masjid Ar Riyadh Ponpes Hidayatullah Balikpapan, misalnya, halaqah bukan hanya menjadi forum pembelajaran agama, tetapi juga sebuah ruang untuk merevolusi spiritualitas jamaah, termasuk mahasiswa PUZ – STIS Hidayatullah.

Melalui halaqah, para mahasiswa menghabiskan waktu untuk menyelesaikan target hafalan yang kemudian disetorkan sekali duduk atau lebih dikenal dengan sebutan “mukammal”.

Selain itu, mereka juga memperoleh ilmu dan mengalami pemulihan jiwa yang autentik.

Mengapa Halaqah Menjadi Sarana Healing?

Dari sekian banyak tujuan halaqah, menurut para ulama, penulis paling tidak mendapati ada tiga elemen utama yang membuat halaqah menjadi tempat healing Islami yang efektif, di antaranya:

  1. Kebersamaan dalam Ukhuwah.
    Dalam halaqah, para mahasiswa duduk melingkar, menciptakan suasana egaliter yang menghapus sekat sosial.
    Kebersamaan ini menghadirkan rasa saling mendukung yang kuat. Ketika seseorang berbagi pengalaman atau kekhawatiran, ia tidak merasa sendirian, melainkan dikuatkan oleh ukhuwah Islamiyah yang tulus antar-mahasiswa.
  2. Konten Ilmiah dan Spiritual.
    Materi yang dibahas dalam halaqah bukan hanya bersifat intelektual, tetapi juga menyentuh aspek spiritual.
    Kajian Al-Qur’an, Jadwal Bayani, sebagai bentuk sarana pembinanaan jamaah, tafsir dan hadits seringkali disajikan dengan relevansi terhadap tantangan kehidupan modern. Hal ini memberikan ketenangan batin dan solusi praktis untuk menghadapi berbagai masalah.
  3. Ritme yang Menenangkan.
    Halaqah dilakukan dalam suasana yang tenang, tanpa tekanan, dan dengan waktu yang cukup untuk refleksi. Ini memberikan kesempatan kepada jamaah untuk merenungkan pesan-pesan keislaman yang disampaikan, memperkuat hubungan mereka dengan Allah, dan menyelaraskan kembali hidup mereka dengan nilai-nilai Islam.

Halaqah dan Keterlibatan Mahasiswa Gen-Z

Pada era digital yang serba cepat, mahasiswa generasi Z memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga keseimbangan antara aktivitas duniawi dan spiritual.

Halaqah di Masjid Ar-Riyadh melibatkan peran aktif mahasiswa Gen-Z yang tidak hanya sebagai peserta, tetapi juga sebagai motor penggerak.

Dengan dukungan para musyrif (pembimbing halaqah), mahasiswa diajak untuk menghidupkan halaqah dengan pendekatan yang relevan dengan gaya hidup mereka, mulai dari bakda subuh, bakda asar, dan bakda isya’.

Musyrif berperan penting dalam membimbing halaqah, memastikan materi dan tahsin yang disampaikan relevan dan dapat diaplikasikan oleh mahasiswa. Mereka juga menjadi teladan, menunjukkan bagaimana nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam menghadapi tantangan akademik dan sosial.

Salah satu inovasi yang diusung adalah penggunaan media digital dalam halaqah, seperti diskusi melalui grup daring atau penggunaan aplikasi untuk membagikan materi kajian.

Hal ini membuat halaqah semakin mudah diakses oleh mahasiswa yang memiliki jadwal padat, tanpa mengurangi esensi spiritualnya.* (Bersambung ke tulisan kedua)

  • Penulis adalah Dosen STIS Hidayatullah

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *