Tajdid Iman dalam Bingkai Evaluasi, Refleksi Rapat Pleno Semester I YPPH Balikpapan

Oleh: Mujtahidah*
Ummulqurahidayatullah.id | “DEMI masa. Sesungguhnya manusia benar-benar dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr: 1–3)
Pembukaan Rapat Pleno Laporan dan Evaluasi Program Kerja Semester I tahun 2025 Kampus Ummulqura dimulai dengan pengingat agung dari Surah Al-‘Ashr. Ayat yang singkat namun sarat makna: bahwa keselamatan di hadapan waktu hanyalah milik mereka yang beriman, beramal shaleh, serta saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran.
Ustadz Nashirul Haq selaku Pembina Kampus Ummulqura, dalam sambutannya, menyampaikan bahwa standar perjuangan kita sejak awal berdiri bersama Ustadz Abdullah Said (Pendiri Hidayatullah) adalah iman.
Maka, setiap kali kita ingin meningkatkan kualitas amal, yang harus kita ukur terlebih dahulu adalah kualitas iman. Dan salah satu cara meningkatkan iman adalah dengan melakukan evaluasi.
Evaluasi memang akan membuka ruang bagi tampaknya kekurangan, namun itu adalah sunnatullah.
Karena iman itu pun naik dan turun. Ketika iman sedang turun, amal terasa berat. Ketika iman menguat, amal menjadi ringan dan penuh semangat.
Jika kita memandang program kerja sebagai amal shaleh, maka evaluasi tidak akan membuat kita lemah, apalagi putus asa.
Justru menjadi bentuk tajdid, pembaharuan iman dan ruh perjuangan.
Sebelum amal ini dipertanggungjawabkan di hadapan Allah, kita pertanggungjawabkan terlebih dahulu di hadapan manusia.
Beliau juga mengingatkan firman Allah dalam Surah Ibrahim ayat 34:
“Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu menghitungnya….”
Setiap capaian adalah nikmat. Setiap kekurangan adalah ruang untuk bersyukur sekaligus memperbaiki. Iman itu seperti pakaian: bisa pudar. Maka mintalah pada Allah untuk memperbaharui iman itu. Dan evaluasi adalah salah satu bentuk doanya.*
- Penulis ada pengajar di Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak
Recent Comments