Orientasi P3LP, Santri SMH Putri Dibekali Keterampilan Menolong Luka Psikologis

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri bekerja sama dengan UPTD Puskesmas Teritip menyelenggarakan Orientasi Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) bagi perwakilan santri dan pengurus Kepanduan SMH (MTs dan MA) beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman santri tentang pentingnya kesehatan mental, sekaligus membekali mereka dengan keterampilan dasar dalam memberikan dukungan awal kepada teman yang sedang mengalami tekanan emosional atau masalah psikologis.
Materi disampaikan oleh tim dari UPTD Puskesmas Teritip, yaitu Dhea Rahmah Artika, A.Md.Keb., Herning, S.Psi., dr. Aulia, dan Mariana, Jumat (12/6/2026).
Para peserta mendapatkan pembekalan mengenai kesehatan mental remaja, tanda-tanda gangguan psikologis, serta langkah-langkah pertolongan pertama pada luka psikologis melalui diskusi dan simulasi interaktif.
“Melalui Orientasi P3LP ini, kami berharap para santri tumbuh menjadi pribadi yang peduli, memiliki empati, dan mampu menjadi sahabat yang menguatkan bagi sesamanya,” ujar Mukhlisa, S.Pd., Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMH Putri.
Penguatan Pesantren Sehat
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya penguatan Program Pesantren Sehat yang tengah dikembangkan di lingkungan Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan di Gunung Tembak.
Program Pesantren sehat tidak hanya berfokus pada kesehatan fisik dan kebersihan lingkungan, namun juga memberikan perhatian terhadap kesehatan jiwa dan kesejahteraan psikologis santri.
Melalui kegiatan ini, para santri diharapkan mampu menjadi agen kepedulian yang dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan saling mendukung.
Antusiasme peserta terlihat selama kegiatan berlangsung. Para santri aktif mengikuti sesi diskusi dan simulasi yang menggambarkan berbagai situasi yang mungkin terjadi dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam menghadapi teman yang sedang mengalami tekanan emosional.
Menumbuhkan Budaya Peduli
Pihak madrasah berharap pembekalan ini tidak berhenti pada kegiatan pelatihan semata, tetapi dapat menjadi budaya yang tumbuh di lingkungan sekolah dan pesantren.
Dengan bekal pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh, para santri diharapkan mampu menjadi pendengar yang baik, memberikan dukungan yang tepat, serta menumbuhkan budaya saling peduli di antara sesama.
Sebab, terkadang pertolongan pertama yang paling dibutuhkan bukanlah sebuah solusi, melainkan kehadiran seseorang yang mau mendengar, memahami, dan peduli.* (Ema/SMH/@Uqreat)
Recent Comments