Menerima Al-Qur’an Seutuhnya ala Ustadz Anwari Hambali

Oleh: Mas Imam Nawawi*
Ummulqurahidayatullah.id | BERUSAHA menerima Al-Qur’an seutuhnya. Itulah gagasan yang saya sampaikan dalam Crash Program Sistematika Wahyu bersama putra-putri kader Hidayatullah di Pesantren Hidayatullah Depok (25/10/2026).
Gagasan itu berangkat dari perbincangan saya dengan Murabbi Nasional Hidayatullah, Ustadz Anwari Hambali. Dan untuk menggali pemahaman itu, saya mesti getol melempar pertanyaan demi pertanyaan kepada pria murah senyum tersebut.
Alhamdulillah, beliau menerima semua pertanyaan saya tentang Al-Qur’an dan berkenan menjawabnya.
Ibarat bermain tenis meja —olahraga yang beliau gemari, percakapan kami berlangsung dalam tanya jawab yang hangat, seru, terukur, mencerahkan, dan membahagiakan.
Sabar, Kunci Menerima Al-Qur’an
Lantas, apa yang dimaksud dengan menerima Al-Qur’an seutuhnya? Ustadz Anwari mengibaratkan petunjuk Al-Qur’an sebagai cahaya matahari. Cahaya itu sulit menerangi rumah jika kita terus menutup pintu dan jendelanya.
“Seringkali cahaya Al-Qur’an itu tersedia setiap saat, tapi apakah akal dan hati kita mau terbuka, menerima Al-Qur’an secara apa adanya, sesuai dengan kehendak Allah. Karena yang kerap menghambat cahaya itu masuk adalah akal dan hati manusia sendiri,” tegasnya.
Keterbukaan itu perlu kita rawat dengan kesabaran, terutama ketika petunjuk Al-Qur’an menuntut perubahan sikap dan kebiasaan.
Dalam Fi Zhilalil Quran, Sayyid Qutb menerangkan bahwa menjalani Islam secara istiqamah menuntut usaha yang besar.
Terlebih dalam perjalanan dakwah, para aktivis kadang menghadapi pergolakan dan berbagai tekanan yang menguji keteguhan jiwa. Dalam keadaan seperti itulah, sabar sangat kita perlukan.
Sayyid Qutb menguraikan kesabaran dalam berbagai keadaan: menjalankan ketaatan, meninggalkan maksiat, menghadapi kesulitan, serta bertahan di tengah fitnah dan tipu daya. Kesabaran juga kita perlukan ketika pertolongan belum datang, penolong hanya sedikit, dan perjalanan terasa panjang serta melelahkan.
Melatih Kesabaran Bersama Al-Qur’an
Kesabaran itu juga saya temukan dalam cara Ustadz Anwari Hambali berinteraksi dengan Al-Qur’an.
Melalui beberapa percakapan, saya menangkap kesungguhan beliau untuk membaca perlahan dan terus berusaha memahami pesan ayat.
“Saya berusaha membaca Al-Qur’an itu secara perlahan (tartil). Terus mencoba memahami apa maknanya, apa maksud dan kehendak Allah melalui ayat ini. Memang tidak bisa terburu-buru. Harus sabar, karena Al-Qur’an itu milik Allah.
Kadang juga saya membaca berulang-ulang, tidak ada ilham, tidak datang inspirasi. Padahal inspirasi itu saya perlukan tapi inspirasi itu tidak bisa kita yang mengatur. Itu datangnya dari Allah langsung,” jelasnya.
Dalam keadaan seperti itu, Ustadz Anwari berpesan agar kita tetap sabar dan yakin bahwa Allah akan memberi berkah serta rahmat melalui Al-Qur’an. Jangan mudah lelah, apalagi kecewa ketika kita belum menemukan pemahaman yang kita harapkan.
Penghambat Kemajuan
Dalam kaitan ini, Prof. Dr. Yayah Nurhidayah melalui buku Ilmu Komunikasi Islam menjelaskan bahwa ketidaksabaran dapat mengganggu kejernihan hati dan konsentrasi, lalu memunculkan prasangka buruk.
Akibatnya, kita sulit menerima pesan dengan jernih, bahkan dapat merasakannya sebagai sesuatu yang kasar.
Lebih lanjut, dalam pembahasannya yang merujuk pemikiran Al-Ghazali, Yayah Nurhidayah menjelaskan keadaan “tuli selektif”. Orang yang terjebak dalam keadaan ini hanya mau mendengar sesuatu yang sesuai dengan prasangkanya sendiri.
Kecenderungan serupa dapat muncul ketika kita membaca Al-Qur’an dengan keinginan membenarkan pendapat pribadi.
“Nah, kadang kita membaca Al-Qur’an itu untuk menegaskan dan menguatkan pendapat sendiri. Di situ Al-Qur’an menjadi sulit kita pahami secara utuh,” jelas Ustadz Anwari.
Pada akhirnya, interaksi kita dengan Al-Qur’an memerlukan keterbukaan hati. Jangan sampai selera pribadi menentukan ayat mana yang mau kita terima dan mana yang kita abaikan. Ketika suatu ayat terasa menegur, kita perlu bersabar untuk memahami pesannya dan memeriksa diri.
Dari ketulusan itulah, kita belajar menjadikan Al-Qur’an sebagai petunjuk dalam menjalani kehidupan.*
- Penulis adalah aktivis dakwah dan literasi
Recent Comments