Rekrutmen Hidayatullah: Keteladanan Murabbi & Manfaat Nyata bagi Masyarakat

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Bagaimana sebuah gerakan dakwah membuat orang tertarik bergabung dan ikut berjuang?
Keteladanan, kesungguhan mendatangi masyarakat, serta kemampuan menjawab persoalan mereka, menjadi benang merah dalam Koordinasi Pekanan Dewan Murabbi Wilayah (DMW) dan Departemen Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan (RPAP) se-Indonesia.
Pertemuan daring pada Rabu (28/10/2026) itu mengangkat tema “Menguatkan Kembali Semangat Rekrutmen”.
Forum menghadirkan pandangan DMW dari Kalimantan Timur, Jawa Tengah, dan Sulawesi Utara, yang mempertemukan pengalaman merintis dakwah dengan kebutuhan memperkuat gerakan hari ini.
Murabbi = Episentrum
Ketua Bidang RPAP, Dr. Ghofar Hadi, menyampaikan, forum tersebut menjadi ruang mendengarkan masukan para murabbi untuk menguatkan semangat dan kemampuan melakukan rekrutmen.
Menurutnya, pembicaraan tentang rekrutmen selalu berkaitan erat dengan peran murabbi.
“Murabbi adalah episentrum dan titik gravitasi gerakan ini, yang dengan itu orang mengenal nilai, moral dan spiritual yang memancar dari segenap kader,” ungkapnya.
Penegasan itu menempatkan keteladanan sebagai kekuatan penting dalam memperkenalkan gerakan. Orang dapat mengenal nilai dakwah melalui sikap, hubungan, dan perilaku sehari-hari para pengembannya.
DMW Kaltim: Dai Harus Aktif Mendatangi
Ustadz Nurdin AR dari DMW Kalimantan Timur menegaskan, rekrutmen tidak bisa dipisahkan dari dakwah dan pendidikan.
Dalam perjalanan Hidayatullah, kedua jalur tersebut menjadi pintu masuk masyarakat untuk mengenal dan bergabung dengan gerakan.
“Dakwah itu ibarat air dan pendidikan laksana kendaraan,” tegasnya.
Ia kemudian menjelaskan beberapa bentuk pendekatan dakwah melalui perumpamaan air.
Air sumur menggambarkan keadaan ketika masyarakat datang untuk belajar, termasuk melalui silaturahim maupun bacaan majalah. Sementara itu, air keran menggambarkan kegiatan yang mengalir setelah ada undangan.
Namun, gerakan dakwah juga perlu memiliki sifat seperti air hujan: menjangkau berbagai tempat secara aktif.
“Prinsipnya, dakwah air hujan, kita harus menjemput bola, aktif mendatangi,” jelasnya.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa gerakan yang menyerupai air parit menandakan rekrutmen mengalami stagnasi. Karena itu, para penggerak dakwah perlu terus membuka perjumpaan dan menjangkau masyarakat.
Adapun pendidikan, menurutnya, menyerupai kendaraan yang mengantarkan seseorang melalui tahapan perjalanan. Ada yang langsung melanjutkan proses pendidikan di lingkungan lembaga, ada pula yang singgah lalu menempuh jalan lain, tetapi tetap mendukung perjuangan.
“Pesawat yang transit artinya orang yang datang ke lembaga melalui pendidikan sebagian transit, lulus SMH tidak langsung ke PTH, tapi dia akan terus ikut mendukung,” urainya.
Perumpamaan itu memperlihatkan pentingnya menyiapkan jalur pembinaan sekaligus merawat hubungan.
Keberhasilan rekrutmen membutuhkan kesiapan lembaga mengantarkan setiap orang untuk bertumbuh dan menemukan ruang pengabdiannya.
DMW Jateng: Doa & Ikhtiar
Pengalaman merintis dakwah di Solo memberi pelajaran tersendiri bagi Ustadz Sunoto Ahmad dari DMW Jawa Tengah. Ia mengakui bahwa rekrutmen merupakan tantangan yang sangat berat.
Di tengah kesulitan itu, ia menempatkan doa sebagai bagian penting perjuangan. Yang diharapkan ialah kehadiran orang-orang yang bersedia berjalan bersama dalam kebaikan.
“Puncaknya berdoa kepada Allah agar diberi teman untuk berjuang dalam kebaikan. Kemudian ikhtiarkan sekuat tenaga, kala itu kita pakai majalah dalam silaturahim,” ulasnya.
Pengalaman itu memperlihatkan bahwa hubungan tumbuh melalui kesungguhan menyapa dan menjaga silaturahim. Majalah Suara Hidayatullah menjadi sarana membuka percakapan, mengenalkan gagasan, dan membangun kedekatan.
Seiring perkembangan lembaga, ia melihat peluang yang perlu dimaksimalkan.
“Pada era sekarang amal usaha adalah instrumen strategis dalam sukses rekrutmen,” ujarnya.
Kehadiran amal usaha memberi ruang perjumpaan yang lebih luas. Melalui ruang itu, masyarakat dapat mengenal nilai gerakan dari pelayanan dan pengalaman yang mereka rasakan.
DMW Sulut: Manfaat bagi Masyarakat
Ustadz Syamsul Arifin dari DMW Sulawesi Utara mengarahkan perhatian pada pertanyaan mendasar: sejauh mana program Hidayatullah memberi manfaat bagi masyarakat?
Menurutnya, keberadaan sebuah gerakan sangat berkaitan dengan manfaat yang mampu dihadirkannya.
“Sebab-sebab eksisnya gerakan adalah apa-apa yang bermanfaat bagi manusia,” jelasnya.
Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa kekuatan ekonomi maupun militer tidak menjamin keberlangsungan sesuatu yang kehilangan manfaat bagi manusia.
Karena itu, pembicaraan tentang rekrutmen perlu berangkat dari persoalan nyata. Lembaga harus memahami kesulitan masyarakat dan menyiapkan jawaban melalui kiprahnya.
“Lembaga ini memang harus bisa menjawab apa persoalan yang masyarakat hadapi, apa solusi dari lembaga ini. Kalau ada jawabannya orang akan tertarik, bergabung dengan gerakan dakwah kita,” tegasnya.
Ketiga pandangan itu memberi arah yang saling menguatkan: hadirkan teladan, datangi masyarakat, rawat hubungan, dan kerjakan sesuatu yang bermanfaat.
Pengalaman generasi senior dapat menjadi bekal bagi generasi muda untuk melanjutkan perjuangan melalui persoalan yang mereka hadapi hari ini.* (Herim/@Uqreat)
Recent Comments