Semarak Hari Santri 2026, MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Balikpapan Gelar Pawai Sarung Batik & Caping

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat— Dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026, MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Hidayatullah Balikpapan melaksanakan kegiatan pawai mengelilingi lingkungan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kamis (22/10/2026) pagi.
Kegiatan ini berlangsung dengan nuansa khas santri melalui penggunaan atribut sarung batik dan topi caping yang dikenakan oleh para murid.
Para santri didampingi ustadzahnya berjalan kaki dengan penuh semangat. Mereka berbaris berdasarkan kelas masing-masing.
Saat tiba di pinggir danau (empang) pesantren, mereka berfoto bareng sembari menyampaikan ucapan secara berbarengan;
“Selamat Hari Santri 22 Oktober 2026, Allahu Akbar!”

Syiar Islam
Kegiatan pawai ini menjadi salah satu bentuk syiar Islam sekaligus upaya menanamkan kecintaan terhadap identitas santri dan kekayaan budaya bangsa Indonesia sejak dini.
Dengan mengenakan sarung batik dan caping, para murid diajak mengenal nilai-nilai yang terkandung dalam simbol-simbol tersebut serta memahami peran generasi muda dalam menjaga tradisi dan budaya bangsa.
Sarung merupakan salah satu atribut yang lekat dengan kehidupan santri. Lebih dari sekadar pakaian, sarung dapat dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, kesantunan, dan kehormatan dalam menjaga adab.
Sementara itu, batik memperkenalkan kekayaan seni dan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah serta filosofi tersendiri.
Adapun caping menjadi simbol yang mengingatkan pada kehidupan petani Indonesia, sosok yang tekun bekerja dan berjasa dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.
Perpaduan atribut tersebut menghadirkan pesan bahwa santri tidak hanya dekat dengan nilai-nilai keislaman, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap budaya, tradisi, dan kehidupan masyarakat Indonesia.

Simbol Nilai Kesantrian
Kepala MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Hidayatullah Balikpapan, Ustadzah Rasyidah, S.Pd., berharap kegiatan peringatan Hari Santri melalui pawai sarung batik dan caping ini dapat menanamkan pemahaman yang lebih mendalam kepada para murid, tentang identitas dan nilai-nilai luhur seorang santri.
Menurutnya, sarung bukan sekadar pakaian yang identik dengan santri, melainkan juga dapat dimaknai sebagai simbol kesederhanaan, kesantunan, dan kehormatan dalam menjaga adab.
Menjadi santri bukan hanya tentang penampilan, tetapi juga tentang bagaimana menjaga akhlak, menghormati guru, memuliakan ilmu, serta membiasakan diri dengan perilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam.
“Harapan kami, melalui kegiatan ini anak-anak tidak hanya mengenal sarung sebagai identitas santri, tetapi juga memahami nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Jadilah santri yang sederhana dalam penampilan, santun dalam perkataan, mulia dalam akhlak, dan bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Ke mana pun kelak mereka melangkah, semoga nilai-nilai kesantrian tetap melekat dalam diri mereka,” demikian harapan Ustadzah Rasyidah, S.Pd.
Ia juga berharap, peringatan Hari Santri menjadi sarana bagi madrasah untuk menumbuhkan generasi muslimah yang berilmu, berakhlak mulia, mencintai budaya bangsa, serta mampu memberikan kontribusi positif bagi umat dan Indonesia.
Menumbuhkan Semangat Santri
Kegiatan pawai yang mengelilingi lingkungan Pesantren Hidayatullah ini menjadi sarana edukasi yang menyenangkan bagi para murid.
Mereka dapat memaknai peringatan Hari Santri bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memperkuat karakter, kebersamaan, serta rasa bangga terhadap identitas sebagai generasi muslim Indonesia.
Melalui kegiatan ini, MI Raadhiyatan Mardhiyyah Putri Hidayatullah Balikpapan berharap semangat Hari Santri dapat terus tumbuh dalam diri setiap murid.
Santri diharapkan menjadi generasi yang mencintai Al-Qur’an, memiliki semangat menuntut ilmu, menjaga adab, dan mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Peringatan Hari Santri Nasional juga menjadi pengingat bahwa santri memiliki peran penting dalam membangun peradaban.
Dengan semangat cinta tanah air, para murid diajak untuk tumbuh menjadi generasi yang berilmu, beradab, mandiri, serta memberikan manfaat bagi agama, bangsa, dan umat.
Semangat santri tidak berhenti pada kegiatan pawai, tetapi hendaknya tercermin dalam perilaku sehari-hari, baik di lingkungan madrasah, pesantren, keluarga, maupun masyarakat.
Sebab, santri sejati bukan hanya mereka yang mengenakan atribut kesantrian, melainkan juga mereka yang menjaga akhlak, menghormati ilmu, dan berusaha menghadirkan kebaikan di mana pun berada.* (Aufa/Media Mirama Putri/@Uqreat)
Recent Comments