Dr. Ghofar Hadi: Kaderisasi Butuh Mental Tangguh & Kekuatan Spiritual

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Kaderisasi yang kuat membutuhkan perencanaan matang, mental kerja keras, dan ketahanan spiritual.

Ketiganya menjadi bekal penting agar kader mampu menghadapi tantangan zaman sekaligus melanjutkan perjuangan membangun peradaban Islam.

Hal itu menjadi penekanan Ketua Bidang Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan (RPAP) DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, saat menjadi narasumber dalam agenda Kamisan, ruang diskusi daring yang rutin digelar DPW Hidayatullah DKI Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Dalam kesempatan itu, Dr. Ghofar mengajak peserta untuk kembali memperhatikan kualitas proses kaderisasi.

Menurutnya, kekuatan kader tidak lahir dengan sendirinya, melainkan melalui pembinaan yang terarah dan berkelanjutan.

“Kaderisasi perlu dirancang sebaik mungkin, caranya dengan membangun mental kerja keras, pengorbanan dan sikap mental sami’na wa atho’na,” ungkapnya.

Meneladani Mental Perjuangan Pendiri

Untuk memperjelas pentingnya mental, Dr. Ghofar mengajak peserta menengok kembali sejarah perjuangan pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said.

Ia menilai keberanian dan kesungguhan para perintis merupakan warisan berharga yang perlu terus hidup dalam jiwa setiap kader.

“Warisan Ustadz Abdullah Said adalah mental berani dan kesiapan menembus ketidakmungkinan. Kader masuk ke hutan dan membangun peradaban melalui hadirnya pesantren-pesantren,” jelasnya.

Pengalaman itu memberikan pelajaran bahwa keterbatasan keadaan tidak harus menghentikan perjuangan.

Justru dalam situasi yang sulit, kader perlu memiliki keberanian mengambil langkah dan kesungguhan mewujudkan cita-cita.

Ketahanan Spiritual = Kekuatan

Namun, keberanian dan kerja keras memerlukan fondasi yang kokoh.

Karena itu, Dr. Ghofar menekankan pentingnya kekuatan spiritual sebagai sumber keteguhan kader dalam menjalankan amanah dakwah.

“Oleh karena itu kita harus punya kekuatan Iqra’ Bismirabbik, termasuk ketahanan spiritual dengan mengamalkan kandungan surah Al-Muzzammil kemudian Gerakan Nawafil Hidayatullah,” terangnya.

Penekanan itu mengingatkan bahwa perjuangan dakwah membutuhkan kedekatan yang terus terjaga dengan Allah.

Kader perlu merawat kekuatan batin agar tetap teguh ketika menghadapi berbagai perubahan dan tekanan kehidupan.

Terlebih, perkembangan zaman membawa tantangan yang semakin kompleks. Kemajuan dan berbagai kemudahan hidup juga dapat mengalihkan perhatian seseorang dari tujuan perjuangannya.

“Kalau tidak ada ketahanan spiritual, kita akan mudah terpental di tengah zaman yang luar biasa arus duniawinya ini,” tegasnya.

Membaca, Perkuat Kapasitas Kader

Selain ketangguhan mental dan spiritual, Dr. Ghofar juga mengingatkan pentingnya tradisi membaca.

Ia kembali mengangkat keteladanan KH Abdullah Said yang memiliki perhatian besar terhadap pengembangan wawasan dan kapasitas diri.

“Membaca buku, manajemen, kepemimpinan dan berbagai tema menjadi lahapan Ustadz Abdullah Said. Fakta ini memberi petunjuk bahwa kader itu harus senang, akrab, dan tekun membaca,” tuturnya.

Dengan demikian, proses kaderisasi perlu memberi ruang yang luas bagi tumbuhnya budaya literasi. Melalui kebiasaan membaca, kader dapat memperkaya pengetahuan, mempertajam cara berpikir, dan meningkatkan kemampuan dalam mengelola amanah organisasi.

Pada akhirnya, pesan Dr. Ghofar dalam forum Kamisan itu memperlihatkan tiga kekuatan yang perlu terus tumbuh dalam diri kader, yakni mental perjuangan yang tangguh, spiritualitas yang terjaga, dan tradisi membaca yang kuat.

Ketiganya menjadi bekal agar kader mampu menjaga arah perjuangan, menjawab tantangan zaman, dan melanjutkan ikhtiar membangun peradaban dengan ilmu, iman, serta pengabdian nyata.* (Herim/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *