“Hati-hati Jadi ‘Santri Anomali’ Macam Walid!”

ILUSTRASI: SKR/MCU

Ummulqurahidayatullah.id | “ADA tak antara korang yang kenal Walid?”

Mendengar itu, puluhan santri yang duduk setengah lingkaran tampak tersenyum. Ada juga yang terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Seperti ingin memastikan temannya yang lain ikut tersenyum juga.

Walid, nama salah seorang tokoh dalam film Bidaah asal negeri jiran Malaysia, yang tengah viral.

Meski mengaku tak juga menonton film berseri itu, namun melihat senyum mereka, bukti kecil bahwa para santri yang bermukim di Ma’had Tahfizh Al-Qur’an Ahlus Shuffah Balikpapan itu pun tak luput dari kepopuleran Walid pemeran film tersebut.

Tapi, “Ni bukan Walid yang viral tu,” ujar sang ustadz masih berlagak dengan aksen atau dialek negeri jiran itu. Ia segera mengingatkan bahwa tokoh yang dimaksud bukanlah si “Walid” asal tanah Melayu.

“Ni lagi viral sangat, sebab dah terkenal pun sejak ribu-ribu tahun dulu,” jelas sang ustadz mengenai Walid yang dimaksud.

Iya, namanya Walid bin Al-Mughirah. Sosok bangsawan Quraisy Makkah ini memang lebih “viral”. Bahkan nyaris tanpa ada bandingannya.

“Sepak terjang dan perilaku Walid ini diceritakan sampai 100 ayat lebih di dalam al-Qur’an. Itu dibaca dan diulang-ulang oleh jutaan manusia hingga hari Kiamat nanti,” terang Ustadz Masykur kepada para santri Ahlus Shuffah.

Jumat siang itu, 26 Syawal 1446 H (25/4/2025), Ketua Lembaga Pendidikan dan Pengkaderan Hidayatullah (LPPH) Balikpapan tersebut didaulat mengisi “Pekan Motivasi” di hadapan ratusan santri penghafal al-Qur’an di bilangan hutan karet Gunung Binjai, Kecamatan Balikpapan Timur.

“Tapi itulah anomalinya,” tegas ustadz dengan penampilan koko warna putih dan kacamata tersebut.

Anomali itu, terangnya, karena sedemikian dekatnya dengan al-Qur’an, sampai berulang kali diceritakan dalam kitab suci, tapi tidak juga menjadikan Walid bin al-Mughirah mendapatkan hidayah dari Allah.

“Itu anomali namanya. Karena Walid ini pulalah yang kedapatan dan terciduk diam-diam lagi sembunyi-sembunyi sedang menikmati bacaan al-Qur’an dari Sahabat Nabi,” lanjutnya menerangkan istilah anomali yang dimaksud. 

Ustadz Masykur mengingatkan bahwa fenomena “anomali” ini bukan tak mungkin menimpa para santri yang mondok di pesantren pula.

Setidaknya sebagai instropeksi diri untuk merawat kesungguhan sebagai santri yang bercita-cita sebagai penghafal al-Qur’an.

“Namanya santri tahfizh tapi selalu gelisah ketika muraja’ah atau berhalaqah, misalnya. Hati-hati! Itu tanda-tanda santri anomali,” terang Ustadz Masykur memberi contoh.

“Dia santri penghafal al-Qur’an, tetapi yang dihafal malah jadwal pertandingan sepakbola. Hati-hati, itu ciri-ciri anomali juga,” tambahnya.

Di hadapan ratusan santri Ahlus Shuffah Gunung Binjai itu, dai yang juga pengajar di Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS) Hidayatullah Balikpapan itu kemudian menerangkan dua senjata utama dalam menjaga konsistensi dan komitmen seorang Muslim.

Yakni, adanya tekad yang kuat dan kesabaran yang penuh. Hal ini, menurutnya, perkara pokok dalam merawat sebuah cita-cita atau tujuan hidup seseorang.

“Apapun urusannya, perlu tekad kuat dan kesabaran. Apalagi kalian disiapkan menjadi generasi penghafal al-Qur’an,” pungkasnya.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *