Abdul Ghofar Hadi

Ustadz Abdul Ghofar Hadi

SELAMAT JALAN IBU HIDAYATULLAH

“Bi, ada salam dari Ibu Aida” Kata istri

” Ah yang serius, jangan bercanda” Jawab saya kaget.

” Pernahkah umi bohong dengan Abi, apalagi terkait salam Bu Aida” Jawabnya

” Memangnya Ibu Aida kenal Abi?” Tanya saya.

” Insyaallah kenal, buktinya titip salam” Jawabnya logis.

Itulah pengalaman pertama kali mendapatkan salam dari Ibu Aida. Selanjutnya beberapa kali beliau titip salam.

Tentu bukan hanya saya, tapi banyak santri dan ustadz-ustadzah yang sering mendapatkan salam dari beliau.

Padahal saya hanyalah salah satu santri dari ribuan santri Hidayatullah. Tapi luar biasa beliau memberikan perhatian kepada para santri.

Salam dari seorang ibu yang luar biasa. Salam adalah doa, salam adalah bentuk perhatian, salam adalah spirit motivasi.

Selama ini saya pribadi tidak berani mendekat bukan takut tapi karisma yg membuat sungkan luar biasa. Jangankan mendekat menatap wajahnya pun tidak berani.

Beliau memang bukan ibu yg melahirkan secara fisik, tapi melahirkan cita-cita dan idealisme para santri Hidayatullah

Ibu Aida memang tidak pernah membelai kepala tapi membelai isi kepala para santri dengan memori indah, orang yang dicintai dengan penuh kasih dan kekaguman. 

Ibu Aida memang tidak merangkul saya tapi memberikan ketenangan, dan kenyamanan para santri dengan nasehat-nasehatnya.

Linangan air matanya senantiasa mengiringi nasehatnya.

Ibu memang tidak pernah menjabat tangan saya tapi senantiasa menguatkan semangat para santri.

Setiap ada acara atau kegiatan di putri, senantiasa hadir lebih awal.

Ibu adalah seseorang yang mencintai tanpa syarat dan tanpa pilih kasih.

Ibu adalah orang yang membangun karakter dengan keteladanan dan kesantunannya

Ibu mengayomi, mendidik, membimbing, memberi kenyamanan, menyemangati kepada para santri untuk hadirnya generasi Islam.

Kami semua kehilangan, kami semua bersedih
Kader-kader Hidayatullah berbela sungkawa

Insyaallah kami semua siap meneruskan perjuangan dan cita cita ibu

Selamat jalan Ibu Aida Chered, ibu Hidayatullah, ibu kita semua.

Menjemput kemuliaan yang Allah siapkan, sebagai balasan atas cinta, ketulusan dan keikhlasan dalam mengawal perjuangan Islam lewat Hidayatullah ini.

Aamin ya Rabbal Alamin

Abdul Ghofar Hadi

KEMATIAN : BERITA BESAR

Ketika ada pilihan bersabar dalam kemiskinan atau bersyukur dalam kekayaan maka sebenarnya semuanya berat. Sekilas lebih mudah dan enak bersyukur dalam kekayaan. Tapi sebenarnya bersyukur itu berat. Bersyukur tidak cukup dengan mengucapkan hamdalah. Tapi harus dengan keyakinan hati dan perbuatan dengan ketaatan beribadah.

Ada cara bersyukur yang sederhana dan praktis, tapi perlu keseriusan untuk melatihnya, sebagaimana Rasulullah bersabda: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu ( dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu ( dalam masalah harta dan dunia). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Sering kali yang membuat kita tidak atau kurang bersyukur adalah saat melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain. Sehingga suasana hati dan fikiran tidak tenang bahkan sakit hati kepada diri sendiri, orang lain juga. Kebiasaan memandang orang lain yang lebih baik rezeki hartanya menjadikan tertutupi hati atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Padahal nikmat Allah yang diberikan kepadanya juga sudah sangat banyak.

Artinya itu kufur. Kebalikan dari syukur adalah kufur, tidak ada di pertengahan syukur dan kufur, kalau tidak bisa bersyukur berarti kufur. Kemudian ancaman Allah terhadap orang yang kufur adalah siksa yang sangat pedih.

Maka hadist di atas adalah menjadi solusi yang Rasulullah ajarkan dengan memandang orang lain yang dibawahnya. Seperti saat kita memiliki sepeda motor buntut, dengan melihat orang yang tidak punya sepeda motor atau hanya sepeda onthel saja maka akan ada rasa syukur di hati. Tapi kalau melihat atau mengambil standar dari tetangga yang punya motor baru atau mobil, maka hati ini tidak tenang, pasti mengeluh, mungkin akan timbul iri atau sakit hati.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting mempraktikkan hadist di atas. Cara pandang orang beriman dalam menyikapi perbedaan rezeki, harta kekayaan harus dengan kaca mata iman, bukan dengan kaca mata dunia. Kata mata iman yang akan melindungi kita dari iri hati, dengki dan kufur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Sebab Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu tidak sama kadarnya. Sehingga dalam kehidupan ini ada orang kaya, miskin, faqir dan lain sebagainya. Masing-masing ada hak dan kewajibannya yang berbeda dan harus ditunaikan. Ada kesamaan dari semuanya yaitu bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan.

Terkadang kita membayangkan ingin memiliki kekuasaan dan kekayaan yang melimpah.  Padahal sudah banyak sejarah manusia yang menceritakan kepada kita tentang orang kaya raya yang tidak bersyukur maka berujung kepada kenistaan dan kehinaan. Dari raja Namrud, raja Firaun, Qorun dan lain sebagainya.

Sehingga ketika terbersit keinginan aneh-aneh saat melihat orang lain yang lebih sukses dalam pencapaian dunia, maka spontan kita istiqhfar dan berdoa. Mendoakan diri agar bisa bersyukur dan terhindar dari kufur. Abdul Ghofar Hadi

KETAKUTAN & KEMANUSIAAN

Ketika ada pilihan bersabar dalam kemiskinan atau bersyukur dalam kekayaan maka sebenarnya semuanya berat. Sekilas lebih mudah dan enak bersyukur dalam kekayaan. Tapi sebenarnya bersyukur itu berat. Bersyukur tidak cukup dengan mengucapkan hamdalah. Tapi harus dengan keyakinan hati dan perbuatan dengan ketaatan beribadah.

Ada cara bersyukur yang sederhana dan praktis, tapi perlu keseriusan untuk melatihnya, sebagaimana Rasulullah bersabda: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu ( dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu ( dalam masalah harta dan dunia). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Sering kali yang membuat kita tidak atau kurang bersyukur adalah saat melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain. Sehingga suasana hati dan fikiran tidak tenang bahkan sakit hati kepada diri sendiri, orang lain juga. Kebiasaan memandang orang lain yang lebih baik rezeki hartanya menjadikan tertutupi hati atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Padahal nikmat Allah yang diberikan kepadanya juga sudah sangat banyak.

Artinya itu kufur. Kebalikan dari syukur adalah kufur, tidak ada di pertengahan syukur dan kufur, kalau tidak bisa bersyukur berarti kufur. Kemudian ancaman Allah terhadap orang yang kufur adalah siksa yang sangat pedih.

Maka hadist di atas adalah menjadi solusi yang Rasulullah ajarkan dengan memandang orang lain yang dibawahnya. Seperti saat kita memiliki sepeda motor buntut, dengan melihat orang yang tidak punya sepeda motor atau hanya sepeda onthel saja maka akan ada rasa syukur di hati. Tapi kalau melihat atau mengambil standar dari tetangga yang punya motor baru atau mobil, maka hati ini tidak tenang, pasti mengeluh, mungkin akan timbul iri atau sakit hati.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting mempraktikkan hadist di atas. Cara pandang orang beriman dalam menyikapi perbedaan rezeki, harta kekayaan harus dengan kaca mata iman, bukan dengan kaca mata dunia. Kata mata iman yang akan melindungi kita dari iri hati, dengki dan kufur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Sebab Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu tidak sama kadarnya. Sehingga dalam kehidupan ini ada orang kaya, miskin, faqir dan lain sebagainya. Masing-masing ada hak dan kewajibannya yang berbeda dan harus ditunaikan. Ada kesamaan dari semuanya yaitu bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan.

Terkadang kita membayangkan ingin memiliki kekuasaan dan kekayaan yang melimpah.  Padahal sudah banyak sejarah manusia yang menceritakan kepada kita tentang orang kaya raya yang tidak bersyukur maka berujung kepada kenistaan dan kehinaan. Dari raja Namrud, raja Firaun, Qorun dan lain sebagainya.

Sehingga ketika terbersit keinginan aneh-aneh saat melihat orang lain yang lebih sukses dalam pencapaian dunia, maka spontan kita istiqhfar dan berdoa. Mendoakan diri agar bisa bersyukur dan terhindar dari kufur. Abdul Ghofar Hadi

CARA BERSYUKUR

Ketika ada pilihan bersabar dalam kemiskinan atau bersyukur dalam kekayaan maka sebenarnya semuanya berat. Sekilas lebih mudah dan enak bersyukur dalam kekayaan. Tapi sebenarnya bersyukur itu berat. Bersyukur tidak cukup dengan mengucapkan hamdalah. Tapi harus dengan keyakinan hati dan perbuatan dengan ketaatan beribadah.

Ada cara bersyukur yang sederhana dan praktis, tapi perlu keseriusan untuk melatihnya, sebagaimana Rasulullah bersabda: “Pandanglah orang yang berada di bawahmu ( dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu ( dalam masalah harta dan dunia). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah kepadamu” ( HR. Bukhari dan Muslim)

Sering kali yang membuat kita tidak atau kurang bersyukur adalah saat melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain. Sehingga suasana hati dan fikiran tidak tenang bahkan sakit hati kepada diri sendiri, orang lain juga. Kebiasaan memandang orang lain yang lebih baik rezeki hartanya menjadikan tertutupi hati atas nikmat Allah yang telah diberikan kepada kita. Padahal nikmat Allah yang diberikan kepadanya juga sudah sangat banyak.

Artinya itu kufur. Kebalikan dari syukur adalah kufur, tidak ada di pertengahan syukur dan kufur, kalau tidak bisa bersyukur berarti kufur. Kemudian ancaman Allah terhadap orang yang kufur adalah siksa yang sangat pedih.

Maka hadist di atas adalah menjadi solusi yang Rasulullah ajarkan dengan memandang orang lain yang dibawahnya. Seperti saat kita memiliki sepeda motor buntut, dengan melihat orang yang tidak punya sepeda motor atau hanya sepeda onthel saja maka akan ada rasa syukur di hati. Tapi kalau melihat atau mengambil standar dari tetangga yang punya motor baru atau mobil, maka hati ini tidak tenang, pasti mengeluh, mungkin akan timbul iri atau sakit hati.

Dalam kehidupan bermasyarakat, sangat penting mempraktikkan hadist di atas. Cara pandang orang beriman dalam menyikapi perbedaan rezeki, harta kekayaan harus dengan kaca mata iman, bukan dengan kaca mata dunia. Kata mata iman yang akan melindungi kita dari iri hati, dengki dan kufur terhadap nikmat-nikmat Allah.

Sebab Allah memberikan rezeki kepada hamba-hamba-Nya itu tidak sama kadarnya. Sehingga dalam kehidupan ini ada orang kaya, miskin, faqir dan lain sebagainya. Masing-masing ada hak dan kewajibannya yang berbeda dan harus ditunaikan. Ada kesamaan dari semuanya yaitu bersyukur dengan nikmat yang Allah berikan.

Terkadang kita membayangkan ingin memiliki kekuasaan dan kekayaan yang melimpah.  Padahal sudah banyak sejarah manusia yang menceritakan kepada kita tentang orang kaya raya yang tidak bersyukur maka berujung kepada kenistaan dan kehinaan. Dari raja Namrud, raja Firaun, Qorun dan lain sebagainya.

Sehingga ketika terbersit keinginan aneh-aneh saat melihat orang lain yang lebih sukses dalam pencapaian dunia, maka spontan kita istiqhfar dan berdoa. Mendoakan diri agar bisa bersyukur dan terhindar dari kufur. Abdul Ghofar Hadi

UNTUK APA MILAD HIDAYATULLAH?

Ada sebagian santri atau masyarakat yang mungkin bertanya,

“Mengapa Hidayatullah ikut-ikutan mengadakan milad?”

“Milad kan bukan tradisi dalam Islam?”

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas tidak salah, tapi sebagai bentuk kecintaannya kepada Hidayatullah agar tetap dalam bingkai syariah Islam. Sehingga mersponnya juga harus dengan fikiran yang jernih.

Milad dilakukan oleh Hidayatullah bukan ulang tahun perorangan  sebagaimana orang lain lakukan. Tujuannya juga bukan untuk ikut-ikutan tradisi jahiliyah yang mengagungkan pribadi seseorang untuk mengkultuskan.

Ada beberapa tujuan dari pengadaan milad 50 tahun Hidayatullah:

Pertama, untuk mengenalkan kepada santri dan syiar kepada masyarakat bahwa Hidayatullah sudah setengah abad berdirinya. Syiar ini penting sebagai bagian dari dakwah Islam sebagai bentuk eksistensi. Hari ini para penggiat kemaksiatan dan kemungkaran yang melakukan syiar terhadap program-programnya sehingga pelan tapi pasti masyarakat terwarnai pemikiran dan sikapnya terhadap ajaran yang mereka syiarkan.

Kedua, mengenang jasa dari para pendiri Hidayatullah yang luar biasa menjadi pionir perjuangan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya” Kata Sukarno. Kemajuan bangsa hari ini jika dikatakan maju, itu tidak lepas dari perjuangan dari para pahlawan bangsa yang memberikan pengorbanan luar biasa dalam perjalanannya merebut kemerdekaan.

Demikian juga Hidayatullah 50 tahun yang sudah tersebar ke seluruh pelosok nusantara dengan berbagai kemajuan dan prestasi dakwah tarbiyahnya, tidak lepas dari peran para pendiri Hidayatullah yang dari nol memperjuangkan Hidayatullah. Kita bisa menikmat hidup berjamaah di Hidayatullah karena ada batu bata pondasi yang kuat dari para pendiri yang tanamkan.

Ketiga,  sebagai tanda syukur kita kepada Allah atas segala pertolongan dan nikmat yang diberikan kepada Hidayatullah tetap eksis 50 tahun. Kesyukuran terkadang harus dinampakkan dan dirayakan sebagai besarnya rasa syukur. Berbagai kebahagiaan kepada orang lain juga bagian dari syukur.

Keempat, sebagai motivasi para santri untuk bisa meneladani karya dari para pendahulu Hidayatullah. Ketika mengetahui jasa dan kiprah para pendahulu, maka santri diharapkan bisa termotivasi untuk bisa mengikuti karakter dan mentalitas dari para pendahulu. Mereka sudah punya karya yang mengalir pahalanya tercatat sebagai amal kebaikan. Generasi pelanjut Hidayatullah yaitu para santri juga harus berkarya meneruskan perjuangan para pendahulu Hidayatullah.

Kelima, ini juga baru pertama kali dilakukan di Hidayatullah  untuk mengambil momentum 50 tahun. Terkadang seseorang memerlukan momentum spesial untuk bisa terhenyak, dan tersadarkan terhadap suatu kebaikan. Sehingga 50 tahun, setengah abad atau orang bilang sebagai angka emas, sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa ada acara untuk mengingatkan sebuah peristiwa besar lahirnya Hidayatullah. 50 tahun bisa eksis dan terus berkembang, bagi sebuah organisasi dakwah Islam bukan pekerjaan mudah, bukan perjalanan tanpa  ujian dan tantangan, bukan jalan lurus tanpa batu yang menghadang. Di sinilah lika-likunya yang penting untuk dijadikan pelajaran bagi generasi pelanjut Hidayatullah.

Sehingga dengan berbagai tujuan tersebut, diharapkan semua santri dan jamaah Hidayatullah di seluruh nusantara bisa menyemarakkan milad 50 tahun Hidayatullah dengan berbagai acara. Bisa refleksi historis perjalanan Hidayatullah dari pelaku sejarah yang masih banyak, bisa mengupas mutiara sejarah dari gagasan dan ide para pendiri Hidayatullah, melakukan muhasabah atau evaluasi diri, curah pendapat untuk 50 tahun Hidayatullah ke depan dan berbagai perlombaan untuk menyemarakkan mliad 50 tahun Hidayatullah ini.

HIJRAH ADALAH KONSKWENSI IMAN

Bulan Muharam sebagai salah satu bulan haram yang dimuliakan oleh Allah swt. Lebih khusus lagi, Muharam ditetapkan sebagai awal bulan hijriyah dalam Islam karena di bulan inilah awal dari hijrahnya Rasulullah dari Makkah ke Madinah. Ada momentum spirit perjuangan Islam di bulan ini.

Pada umumnya, umat Islam merayakan tahun baru hijriyah tidak semeriah dengan tahun baru masehi. Adapun yang merayakan juga tidak optimal, terkadang hanya formalitas dan seremonial dengan berbagai kegiatan yang terkadang kontraproduktif dengan esensi dari spirit hijrah.

Apalagi di zaman pandemi ini, dengan pembatasan kegiatan masyarakat maka nyaris tidak ada perayaan tahun baru hijriyah. Tapi kemulian Muharam tidak pernah berkurang dan bertambah dengan perayaan manusia.

Hijrah dilihat dari segi makna, baik bahasa maupun istilah, makna sempit ataupun luas, hijrah adalah bentuk kesadaran untuk berpindah atau berubah dari yang kurang baik menjadi baik. Apapun bentuk dari hijrah maka mengandung risiko sesuai dengan tingkat keseriusan hijrahnya. Demikian juga ketika tidak hijrah juga berakibat risiko yang tidak ringan.

Mengapa dalam Islam ada hijrah?

Hijrah sebenarnya konskwensi dari sebuah keimanan yang harus teraktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah melakukan hijrah dari Makkah ke Madinah karena dorongan iman yang ingin mengaktualisasikan keimanannya. Sebab saat di Makkah tidak leluasa bahkan terintimidasi dalam usahanya berdakwah sebagai aktualisasi iman.

Iman itu membangun paradigma seseorang yang lurus dan sesuai dengan fitrah Allah. Paradigma yang menumbuhkan orientasi hidup sesuai dengan tujuan dari yang memberi kehidupan. Orientasi hidup bagi orang beriman bukan hidup itu sendiri, bukan juga untuk bertahan hidup di dunia ini. Orientasi orang beriman adalah hidup harus  memiliki makna dan memberikan kontribusi yang terbaik dalam kehidupan di dunia dan akherat.


رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

Artinya: “Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami kebajikan di dunia dan kebajikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa api neraka.”

Kebanyakan orientasi hidup manusia adalah untuk dirinya sendiri dan keluarga. Tujuannya hanya memperbanyak kekayaan dan keturunan. Sebagian lagi berorientasi pengaruh dan kekuasaan tapi semua sama bermuara kepada materialistik hedonis yang bersifat fana.

Iman menumbuhkan orientasi hidup yang terbingkai dalam kesadaran moral untuk berbuat yang terbaik dalam kehidupannya. Setiap orang yang tumbuh keimanan alam dirinya maka secara aksiomatik akan muncul keinganan untuk berubah atau meningkatkan kualitas diri dan itulah makna hakiki dari hijrah yaitu berubah untuk lebih baik.

Dalam kesadaran tersebut seringkali berhadapan dengan realitas masyarakat yang kurang mendukung atau bahkan memusuhinya. Sehingga dalam kondisi tertentu, diperlukan hijrah tempat, sebagaimana Rasulullah dan paa sahabat lakukan dari Makkah ke Madinah.

Rasulullah hijrah bukan karena putus asa dari dakwah di Makkah. Bukan juga tidak percaya dengan mukjizat pertolongan Allah. Tapi hijrah itu bagian dari perintah Allah dan menjadi tarbiyah bagi umatnya untuk mengoptimalkan ikhtiar secara manusiawi dalam menjalankan tugas keimanan.

Hati orang beriman ada perasaan ‘risau’ dengan kondisinya dan lingkungan sekitarnya yang belum sesuai dengan standar keimanan. Orang beriman tidak pernah dalam zona aman atau merasa puas. Ada yang bergelora karena senantiasa termotivasi untuk terus berbuat baik dan yang terbaik. Inilah dorongan dari hijrah yang paling kuat.

Rasulullah jika menuruti kepuasan diri sendiri maka beliau sudah menikmati menjadi seorang nabi, bahkan ditawari tahta, harta dan wanita tercantik di Makkah. Tapi bukan itu yang menjadi orientasi Rasulullah, bukan itu yang menjadi tujuan orang beriman. Orientasinya adalah memperjuangan agama Allah untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akherat. Maka hijrah menjadi jalan yang harus ditempuh oleh orang yang memiliki iman didadanya.

GUNUNG TEMBAK KAMPUNG HIJRAH

Pada silaturahim nasional beberapa tahu lalu di Hidayatullah Gunung Tembak, bapak Pemimpin Umum pernah menyampaikan kepada panitia. “Tidak usah terlalu repot menyiapkan akomodasi untuk teman-teman yang mau datang. Karena mereka datang bukan mau bertamu tapi pulang kampung. Hidayatullah Gunung Tembak ini adalah kampung hijrah dari semua kader Hidayatullah”

Pernyataan itu bukan kebetulan atau hal yang biasa. Tapi memberikan makna yang lebih mendalam yaitu Gunung Tembak sebagai kampung hijrah dan kampus bersama. Momentum Muharam ini mengingatkan dan menguatkan lagi status Gunung Tembak sebagai kampung hijrah.

Sebelumnya Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said, mengawali Hidayatullah di Kota Balikpapan. Berpindah-pindah dari menumpang di rumah Haji Rosyid di Gunung Sari, tidak lama kemudian berpindah ke ladang kebun di Karang rejo dengan status numpang juga. Setelah itu mendapatkan tanah di Karang Bugis dengan status wakaf. Namun masih ada keinginan dari Allahu Yarham untuk mencari tempat yang lebih luas untuk mengembangkan Hidayatullah.

Gayung bersambut bapak Walikota Balikpapan saat itu membantu mencarikan dan menfasilitasi untuk mnedapatkan tanah wakaf di Gunung Tembak dari pak Darman seluar 3.5 Hektar. Masih berupa hutan belantara dan kebun, hanya ada bangunan gubuk untuk pembakaran batu bata. Santri yang menyertai saat itu juga hanya beberapa orang saja, tidak mudah bisa bertahan hidup dengan hutan, jalanan dan listrik belum ada. Fasilitas betul-betul dari nol.

Di Gunung Tembak ada magnet spritual dari munajat dan idealisme yang mengundang hadirnya para santri dan aktifis Islam untuk bergabung. Mereka digembleng dengan ibadah, etos kerja dan mengubah mindset hidupnya untuk hijrah dan memperjuangan Islam. Sehingga mereka semangat dalam menjalankan tugas dakwah di mana saja di SK-kan.

Mereka datang silih berganti, datang untuk dikader beberapa saat lalu ditugaskan ke daerah dan terus berputar hingga akhirnya Hidayatullah berkembang ke seluruh propinsi di Indonesia. Mereka datang ke Gunung Tembak dengan niat hijrah atau ingin berislam dengan lebih baik. Bukan hanya belajar Islam tapi hidup berislam dengan berusaha mengamalkan ajaran dan nilai-nilai Islam.

Terkadang niat hijrah jika tidak dibarengi dengan hijrah fisik mencari lingkungan yang kondusif maka niat itu menjadi surut karena beratnya lingkungan dan arus pergaulan yang tidak mendukung untuk hijrah. Sehingga Gunung Tembak didesain menjadi miniatur peradaban Islam meski dengan fasilitas yang terbatas tapi terasa sangat nyaman secara spritual, bersih, rapih dan tertata. Siapapun yang datang ke Gunung Tembak terasa seperti memasuki dunia lain.

Ini tentu karunia dari Allah atas keikhlasan dan kegigihan Allahu Yarham Ustadz Abdullah Said dan para pendiri Hidayatullah serta generasi pelanjutnya. Gunung Tembak hanya miniatur, selanjutnya para kader yang ditugaskan ke daerah diharapkan bisa menduplikasi untuk membuat kampus-kampus hijrah di daerah tugasnya masing-masing.

Semakin banyak kampus hijrah maka semakin mempercepat untuk membangun peradaban Islam. Pembuatan kampus-kampus menjadi salah satu ciri khas Hidayatullah untuk menyemai peradaban Islam para kader.

Posisi  kampus-kampus Hidayatullah sangat strategis sebagai tempat hijrah. Karena untuk mencari tempat hijrah bukan perkara mudah, memang banyak perumahan mewah, kawasan yang tertata dan  fasilitas lengkap tapi jika tidak ada kesepemahaman dan satu tujuan dalam bermasyarakat untuk melaksanakan Islam dengan baik maka tetap sulit untuk mengkondisikan hati yang mau hijrah.

Kampus-kampus Hidayatullah dibuat dari tanah wakaf, hibah atau beli dengan beberapa meter persegi dan dihuni oleh beberapa warga dan santri. Jika di sana tegak pelaksanaan shalat berjamaah, infak, aturan syariah, lingkungan bersih dan islamiah maka itu menumbuhsuburkan hijrah menjadi keimanan yang terbaik.

 

 

 

 

 

 

 

 

HIDUP ITU UJIAN KOMPREHENSIF

Selasa, 17 Agustus 2021 ada pengumuman bahwa jadwal ujian komprehensif 21 Agustus 2021. Artinya kurang 4 hari, melengkapi administrasi pembayaran.

Meski banyak kegiatan tapi tetap menyiapkan waktu untuk belajar. Dengan murojaah pelajaran dulu, membaca buku dan mendengarkan youtube yang sinkron dgn pelajaran.

Ini jihad iqra’, artinya harus ada kesungguhan untuk konsentrasi membaca, memahami dan meresume intisari._Ujian dalam pendidikan adalah cara paling tepat utk memaksa belajar dan membaca.

Ujian komprehensif kata teman-teman lebih berat dari ujian disertasi. Karena berisi intisari mata kuliah dua semester.

Hari Jumat atau H-1 memohon dari teman-teman untuk kemudahan menjalani ujian komprehensif.

Hari H ujian, cukup tegang meski online. Apalagi beberapa saat sebelum ujian ada teman yg dicancel tidak boleh ujian. Ada kepanikan dan pertanyaan tentang kejadian tersebut.

Alhamdulillah ujian pukul 08.00 hingga 12.00. Dengan lima pertanyaan yg cukup sulit, bisa kami selesaikan 11.59 atau kurang 1 menit dari batas waktu pengumpulan.

Sebenarnya kurang puas dgn jawaban, apalagi setelah diskusi dgn teman-teman. Sepertinya kurang mendalam jawaban kami.

Masih ada satu tahapan ujian komprehensif lesan. Tentu ini lebih berat dan menegangkan dari pada ujian komprehensif tulisan kata teman-teman.

Kata teman yg sdh doktor, ada beberapa temannya gagal di komprehensif dan harus remedial mengulang dan membayar lagi. Ini informasi yang membuat semakin tegang juga jadi motivasi.

Bahkan teman-teman di grup peserta ujian komprehensif, sebagian galau dan mengusulkan tidak perlu ada ujian komprehensif lesan. Menganggap sdh cukup dgn ujian komprehensif tulisan. 😀

Tapi kebijakan akademik tidak bisa diubah karena itu sdh menjadi aturan UIN Suska Riau. Itu tahapan ujian yang harus dilalui utk program doktoral.

Jihad iqra’ lagi dan lebih fokus. Bermujahadah menyiapkan diri dgn belajar dan diskusi ke senior.

Rencana ujian komprehensif lesan adalah Rabu, 25 Agustus. Ternyata Senin sore menjelang Maghrib, keluar pengumuman ujian komprehensif Selasa, maju satu hari. Dengan jadwal dan pembagian dosen penguji masing-masing.

Laa haula wa laa quwwata illa billah

Rencana bakda Isya mau langsung pulang dan belajar. Tapi qodarullah ada tamu di masjid sehingga 21.00 baru pulang.

Tetap belajar tapi harus cepat tidur utk istirahat. Tidur kurang nyenyak karena kefikiran ujian komprehensif lesan. Alhamdulillah masih bisa bangun shalat lail dan munajat.

Tak lupa minta doa ke beberapa teman dekat untuk diberikan kemudahan.

Bakda subuh rencana mau cepat pulang untuk belajar tapi qadarullah diminta menemani sarapan seorang ustadz. Pukul 07.00 baru pulang.

Ujian direncanakan pukul 08.00, ternyata dimajukan pukul 07.30. Sehingga keluar keringat dingin juga.

Mendapatkan dosen penguji yang belum kenal dan tidak mengajar sebelumnya. Alhamdulillah beliau sangat cair dan rileks.

Sebelum ujian diajak berkenalan dan bercanda, agar tidak tegang. Akhirnya dikasih pertanyaan dan Alhamdulillah bisa menjawab dengan lancar.

Namanya ujian memang ada suasana beda. Meski sudah berpengalaman mengikuti banyak sekali ujian. Bahkan sering kali menguji juga.

Ini pengalaman pertama ujian komprehensif, sejak kuliah S1 hingga S3. Tapi ini ujian formal yang materinya jelas.

Sebenarnya secara keseluruhan hidup ini adalah ujian komprehensif. Sebab di saat yang bersamaan, tugas-tugas, program, tanggungjawab keluarga juga tidak ada liburnya. Belum lagi menyelesaikan beberapa masalah yg lain.

Hal yang seperti menjadi ujian tersendiri yang lebih komprehensif dan kompleks. Tanpa jadwal, materi ujian bisa di luar dugaan, pengujinya bisa anak, istri, teman, orang lain dan lingkungan sekitarnya.
Bentuk ujian bukan hanya tulisan dan lesan, tapi kombinasi di lapangan yang terkandang menegangkan dan melenakan.

Hidup ini adalah ujian komprehensif yang keren jika bisa melewati. Karena bisa semakin dekat dengan Allah.

Kita semua sedang teruji dan akan terus diuji secara komprehensif oleh Allah. Tetap husnudzan, bermujahadah dan istiqomah dalam keimanan

Terimakasih doa semua teman teman.

Abdul Ghofar
Selasa, 24 Agustus 2021

CATATAN SANTRI PUTRA UTK ASPURI

Hari ini ada reuni alumni santri asrama putri Gunung Tembak dari masa ke masa dan antar benua. Sepertinya heboh banget dari persiapan dan promosi.

Seperti itulah memang kegiatan santri Gutem. Tapi senantiasa terkesan dan bermakna

Salah satu wilayah haram sekaligus penasaran bagi santri putra di Gunung Tembak adalah asrama aspuri. Termasuk penulis saat jadi santri juga penasaran seperti apa asrama suasana dan kehidupan di aspuri.

Sesekali melihat dari teras masjid saat pulang shalat, menengok di selah-selah pintu ulin asrama putri atau memandang dari jauh di pinggir empang. Itu sdh merasakan kedamaian.

Bagi santri putra yg nekat. Ada yg melihat dari atap masjid atau berenang menyeberang empang. Tapi resiko berusan dgn keamanan dan dikeluarkan jika ketahuan.

Penulis beruntung menjadi salah satu santri putra yg pernah dipercaya menjadi pendamping pembimbing asrama putri. Maksudnya mendampingi istri menjadi pembimbing aspuri.

Bukan lagi haram tapi menjadi wajib tinggal di asrama putri. Tentu mahluk yg paling cakep di sana, selain bpk petugas dapur dan tukang rintis.

Satu sisi rasa penasaran dulu terobati. Tapi satu sisi lain, amanah di aspuri ternyata bukanlah pekerjaan mudah.

Menghadapi calon -calon bidadari yg masih kecil imut imut mts. Usia sedang puber-pubernya sehingga ada yg aktif, centhil dan manja

Ada bidadari aliyah yg lumayan dewasa, matang, kreatif plus berani.

Ada bidadari mahasiswi stis hidayatullah yg menjadi dewan santri dan pengasuh.

Dinamika aspuri itu luar biasa. Dengan lokasi asrama dan lingkungan yang tidak luas. Dihuni ratusan santri putri.

Mushola nya penuh menjadi panas meski kacanya dibuka. Apalagi kipas angin tua tidak mau berputar.

Dapur yg sederhana dipinggir empang yg indah menjadikan nikmat apapun masakan. Apalagi senin kamis ada lauk istimewa.

Saat bulan purnama, dengan cahaya memantul di empang. Nampak indah dan damai santri putri menikmati sambil duduk duduk di bawah pohon beringin pinggir empang.

Kegiatan dari bangun tidur hingga tidur kembali terawasi. Pengasuh seperti malaikat pencatat amal.

Kerlok dgn menyapu pagi, sdh harus menguras energi. Padahal belum sarapan.

Tidak ada televisi, hiburannya hanya pentas seni, nasid santri tanpa musik. Kadang nobar film-film jadul.

Kegiatan yg disenangi santri putri adalah saat lomba-lomba, makan-makan dengan ibu warga dan pergi rekreasi pergi ke pantai meski jalan kaki atau naik truk.

Keindahan aspuri bukan fisik asrama, taman, empangnya tapi kebersamaannya, keramahan dan ketaatan penghuninya dalam menjaga hijab dan syariat.

Kerja bakti, wirid pagi sore malam, shalat berjamaah, shalat lail dan banyak ibadah lainya. Berputar terwariskan terus di aspuri dari masa ke masa.

Jika dilihat dari sarana dan fasilitas, aspuri itu biasa saja bahkan sdh menua bangunannya. Jika dilihat dari manajemen maka pengelolaannya bukan profesional seperti lembaga bonafid.
Jika dilihat dari kegiatan santri juga tidak istimewa.

Keteladanan dari para ustadzah, doa -doa tulus yang menyertai perjalanan, keikhlasan menjadikan keberkahan aspuri dan para santri putri Gutem

Sehingga dari aspuri lahir wanita-wanita sholehah, para mujahidah yang mendampingi para suaminya di pelosok negeri. Bahkan ke penjuru benua.

Perjalanan dan perkembangan dakwah Hidayatullah tidak lepas dari para alumni aspuri ini. Mereka menjadi pendamping, support utama para dai mengembang amanah.

Aspuri, Hatiku Merindu
Abdul Ghofar Hadi

UNTUK APA MILAD HIDAYATULLAH?

Ada sebagian santri atau masyarakat yang mungkin bertanya,

“Mengapa Hidayatullah ikut-ikutan mengadakan milad?”

“Milad kan bukan tradisi dalam Islam?”

Sebenarnya pertanyaan-pertanyaan sejenis di atas tidak salah, tapi sebagai bentuk kecintaannya kepada Hidayatullah agar tetap dalam bingkai syariah Islam. Sehingga mersponnya juga harus dengan fikiran yang jernih.

Milad dilakukan oleh Hidayatullah bukan ulang tahun perorangan  sebagaimana orang lain lakukan. Tujuannya juga bukan untuk ikut-ikutan tradisi jahiliyah yang mengagungkan pribadi seseorang untuk mengkultuskan.

Ada beberapa tujuan dari pengadaan milad 50 tahun Hidayatullah:

Pertama, untuk mengenalkan kepada santri dan syiar kepada masyarakat bahwa Hidayatullah sudah setengah abad berdirinya. Syiar ini penting sebagai bagian dari dakwah Islam sebagai bentuk eksistensi. Hari ini para penggiat kemaksiatan dan kemungkaran yang melakukan syiar terhadap program-programnya sehingga pelan tapi pasti masyarakat terwarnai pemikiran dan sikapnya terhadap ajaran yang mereka syiarkan.

Kedua, mengenang jasa dari para pendiri Hidayatullah yang luar biasa menjadi pionir perjuangan. “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya” Kata Sukarno. Kemajuan bangsa hari ini jika dikatakan maju, itu tidak lepas dari perjuangan dari para pahlawan bangsa yang memberikan pengorbanan luar biasa dalam perjalanannya merebut kemerdekaan.

Demikian juga Hidayatullah 50 tahun yang sudah tersebar ke seluruh pelosok nusantara dengan berbagai kemajuan dan prestasi dakwah tarbiyahnya, tidak lepas dari peran para pendiri Hidayatullah yang dari nol memperjuangkan Hidayatullah. Kita bisa menikmat hidup berjamaah di Hidayatullah karena ada batu bata pondasi yang kuat dari para pendiri yang tanamkan.

Ketiga,  sebagai tanda syukur kita kepada Allah atas segala pertolongan dan nikmat yang diberikan kepada Hidayatullah tetap eksis 50 tahun. Kesyukuran terkadang harus dinampakkan dan dirayakan sebagai besarnya rasa syukur. Berbagai kebahagiaan kepada orang lain juga bagian dari syukur.

Keempat, sebagai motivasi para santri untuk bisa meneladani karya dari para pendahulu Hidayatullah. Ketika mengetahui jasa dan kiprah para pendahulu, maka santri diharapkan bisa termotivasi untuk bisa mengikuti karakter dan mentalitas dari para pendahulu. Mereka sudah punya karya yang mengalir pahalanya tercatat sebagai amal kebaikan. Generasi pelanjut Hidayatullah yaitu para santri juga harus berkarya meneruskan perjuangan para pendahulu Hidayatullah.

Kelima, ini juga baru pertama kali dilakukan di Hidayatullah  untuk mengambil momentum 50 tahun. Terkadang seseorang memerlukan momentum spesial untuk bisa terhenyak, dan tersadarkan terhadap suatu kebaikan. Sehingga 50 tahun, setengah abad atau orang bilang sebagai angka emas, sayang jika dilewatkan begitu saja tanpa ada acara untuk mengingatkan sebuah peristiwa besar lahirnya Hidayatullah. 50 tahun bisa eksis dan terus berkembang, bagi sebuah organisasi dakwah Islam bukan pekerjaan mudah, bukan perjalanan tanpa  ujian dan tantangan, bukan jalan lurus tanpa batu yang menghadang. Di sinilah lika-likunya yang penting untuk dijadikan pelajaran bagi generasi pelanjut Hidayatullah.

Sehingga dengan berbagai tujuan tersebut, diharapkan semua santri dan jamaah Hidayatullah di seluruh nusantara bisa menyemarakkan milad 50 tahun Hidayatullah dengan berbagai acara. Bisa refleksi historis perjalanan Hidayatullah dari pelaku sejarah yang masih banyak, bisa mengupas mutiara sejarah dari gagasan dan ide para pendiri Hidayatullah, melakukan muhasabah atau evaluasi diri, curah pendapat untuk 50 tahun Hidayatullah ke depan dan berbagai perlombaan untuk menyemarakkan mliad 50 tahun Hidayatullah ini.

ABDUL WAHAB  : HARUS TELANJANG BULAT

 

Ini hanya sebuah judul. Tidak perlu kaget dan fikiran kotor dulu.

 

Ini hanya pengalaman naik pesawat perjalanan dari Balikpapan ke Jakarta.

 

Sebenarnya saya duduk di 7A dekat jendela, tapi saya persilakan ada penumpang anak remaja utk tukar. Saya memilih di tengah, ternyata berdampingan dengan seorang chinese.

 

Meski bermasker tapi tetap terlihat wajah keturunan chinesenya. Tidak ada perasaan apa-apa, hanya sebuah kebetulan yg Allah taqdirkan.

 

Awalnya bertanya basa-basi dengan pertanyaan normatif, sebagai dua orang yang baru  kenal.

 

Dari mana?

Mau ke mana?

Apa aktifitas?

 

Ternyata bapak ini terus bicara dan bercerita. Sebagai orang yg baru kenal, berusaha utk respek dan mendengarkan dengan baik.

 

Lama-lama memang asyik dan menarik cerita-ceritanya. Bapaknya ini chinese dan Katolik tapinya namanya Abdul Wahab.

 

Mumpung beliaunya terbuka dan cair, maka kesempatan mengenal jauh dunia chinese dan Katholik. Sambil sharing banyak hal.

 

” Betul nama bapak Abdul Wahab?” Tanya saya sambil melihat wajahnya yg tertutup masker.

 

” Iya, pasti bapak heran dan aneh kan?” Dia balik bertanya

 

” Bagaimana ceritanya?

 

” Yang memberikan nama ini bapak saya, mungkin karena lingkungan tempat lahir saya di Palembang adalah muslim. Sehingga orang tua tertarik memberi nama Wahab awalnya, terus sama tetangga disempurnakan menjadi Abdul Wahab” Ceritanya pendek dan jelas.

 

” Tapi kata tetangga saya itu, nama ini berat”

 

” Apanya yang berat?” Tanya saya

 

” Artinya yaitu hamba dari Maha Pemberi. Sehingga harus menyesuaikan menjadi orang yang suka memberi atau berbagi.” Jawabnya sambil matanya menerawang optimis.

 

Ternyata bapak Abdul Wahab yang umurnya mendekati 60 tahun adalah pengusaha. Bisnis jual beli tambang batu bara, nikel dan sawit.

 

Dari Aceh, Kalimantan, Sulawesi dan Maluku sdh pernah berbisnis di sana. Yang belum tanah Papua katanya.

 

Salah satu prinsip bisnisnya jika harus bekerja sama dengan orang lain maka harus “telanjang bulat” di awal. Ini bukan telanjang fisiknya, tapi maksudnya jika berbisnis harus terbuka, jujur dan sampaikan apa adanya tentang kelebihan kekurangannya. Agar bisnisnya menghasilkan dan tidak ada yang dirugikan.

 

Beliau ibaratkan, jika suami istri tidak telanjang maka sulit mendapatkan anak dan mencapai keharmonisan.

 

Kembali masalah nama memberikan inspirasi beliau utk memberi dan berbagi. Tanpa memandang agama, suku dan siapa saja yg memerlukan.

 

Sehingga beliau akhir-akhir ini merasa dikejar-kejar rezeki bukan mengejar rezeki.

 

Omzetnya bisnisnya milyaran. Beberapa hari di Kalimantan Timur, tiba-tiba saja ada orang ingin bermitra bisnis yg nilainya luar biasa.

 

“Ini semua tentu karunia Tuhan” Kata beliau

 

Masih ada cerita-cerita menarik yang lain

ABDUL WAHAB ” TERORIS”

 

Di tengah-tengah kami ngobrol, sebenarnya kami ngantuk tapi tiba-tiba melek dan semangat lagi mendengarkan cerita bpk Abdul Wahab ini.

 

” Saya pernah dibuat sulit dan dipersulit dengan nama Abdul Wahab ini” Katanya dengan nada yang agak jengkel.

 

“Siapa yg mempersoalkan nama bapak?” Tanya saya penasaran

 

” Pemerintah Singapura, saat saya harus bolak-balik ke sana untuk berobat. Itu sekitar tahun 2006, saat maraknya isu teroris” Jawabnya

 

” Jadi bapak karena namanya Abdul Wahab  dianggap masuk jaringan teroris atau minimal tercurigai?” Tanya saya lagi memperjelas

 

“Betul begitu. Jadi ada sistem di bandara dan imigrasi yg screening. Diantara indikator teroris adalah nama yg berbau Islam. Abdul Wahab kan Islam banget. Padahal sdh saya jelaskan diri saya chinese dan Katolik tapi tetap saja rumit masalahnya” Jawabnya sambil mengenang kejadian beberapa tahun lalu.

 

” Apalagi saya ya, kalo dilihat  ada jenggotnya, mungkin tambah sulit dan tidak bisa masuk Singapura.” Kata saya sambil membuka masker untuk menunjukkan jenggot saya.

 

“Iya betul, saya sempat marah kepada petugas. Ini nama pemberian orang tua saya dan itu sdh taqdirnya begitu. Kenapa dipermasalahkan. Apalagi saya lagi sakit,  tujuan saya jelas yaitu berobat dan alamat jelas yang dituju” Jawabnya dgn nada masih agak marah dgn petugas.

 

” Tapi memang sistem screening nya begitu Pak. Namanya mesin dan ketakutan mereka terhadap teroris yang menyebabkan mereka harus hati-hati dan ketat” Kata saya untuk menetralisir

 

” Iya betul begitu. Tapi mestinya ada kebijakan karena saya bolak-balik. Pernah saya langsung menerobos langsung ke kantor imigrasi karena ujung dari pemeriksaan itu di imigrasi. Fikir saya dari antri panjang dan sdh paham alurnya seperti itu. Tapi ternyata ternyata tidak diterima juga oleh pegawai imigrasi” katanya sambil menerangkan prosedur.

 

Nama adalah doa. Terkadang nama menjadi keberuntungan tapi juga terkadang menjadi ujian bagi pemilik nama tersebut. Tapi semua menjadi dinamika kehidupan agar lebih dewasa.

 

Adapun isu teroris memang ada tapi hasil rekayasa atau konspirasi itu masalah yang masih diperdebatkan.

 

Kita semua berharap tidak masuk dalam pusaran fitnah teroris. Semua manusua dan negara tidak ada yg mendukung tindak kekerasan atas nama apapun.

 

Tapi isu teroris jangan sampai menjadi alat intimidasi dan mempersulit banyak orang. Termasuk masalah nama dan simbol–simbol agama.

 

Wallahu a’lam bis shawwab

KANKER MENJADI TITIK BALIK KESADARAN

 

Ada satu titik perjalanan kehidupan manusia yang secara dhohir musibah tapi sebenarnya itu anugerah. Jika direnungkan dan dimaknai secara benar. Yaitu sakit.

 

Pak Abdul Wahab pernah divonis sakit kanker. Dari istilah kanker saja sdh menakutkan dan mengerikan. Awalnya panik, nervous dan down mental karena langsung terbayang kematian. Kanker itu sangat dekat dengan kematian

 

Bapak Wahab merasa belum siap utk mati. Anak masih kecil-kecil, belum byk peninggalan dan banyak perbuatan  dosa belum diampunkan.

 

Beliau mengalami Kanker nasofaring (NPC), juga secara umum dikenal sebagai kanker hidung. Yaitu pertumbuhan abnormal jaringan dalam nasofaring. Nasofaring adalah area di belakang hidung, tepat di atas mulut dan tenggorokan.

 

Berobat selama 6 bulan pulang pergi ke Singapura yang sempat dipersulit terkait nama. Untungnya ada asuransi sehingga tidak ada masalah pembiayaan.

 

Saat menjalani terapi, pernah darah menetes terus dari hidung. Tanpa bisa dihentikan. Ada kepanikan dan ketakutan luar biasa.

 

Dokter langsung menasehati.

” Tenang Pak Wahab, jangan panik. Kalo bapak tenang maka darah itu akan berhenti sendiri”

 

Awalnya pak Wahab tidak bisa menerima nasehat dokter itu.

 

” Bagaimana bisa tenang, melihat darah terus mengalir dari hidung.” Katanya dalam hati sambil menghadapkan wajahnya di whastafel dan melihat masih menetes.

 

” Yang bisa menghentikan darah itu bukan dokter dan obat tapi bapak Abdul Wahab sendiri. Cobalah tenang, pasrahkan diri kepada Tuhan.” Kata dokter itu terus memberikan nasehat.

 

Akhirnya Bapak Wahab berusaha untuk tenang dan pasrah kepada Tuhan. Dengan ketulusan doa utk sembuh.

 

Tidak lama, darah itu berhenti menetes dari hidungnya. Dan perasaan menjadi tenang.

 

Enam bulan bukan waktu sebentar untuk menahan sakit. Dengan tetap berusaha dan berdoa.

 

Selama sakit, ada perenungan mendalam tentang hidup dan mati. Inilah momentum beliau berhenti dari segala perbuatan dosa.

 

Sejak itulah berhati-hati dalam urusan makan. Kemudian giat berbagi karena harta sebanyak apapun, meski trilyunan tidak akan pernah bisa dibawa ke kuburan.

 

Satu sisi, sakit nya sangat disyukuri karena menjadi titik balik kesadaran untuk berusaha menjadi orang baik. Tuhan masih memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri dan berbuat baik.

 

Beliau sekarang sangat senang dan sukarela utk memberikan motivasi, paradigma, sharing kepada orang-orang yang sakit parah. Ini penting untuk berbagi dan memberikan penguatan bagi orang-orang yang sakit parah.

 

Ada keterpanggilan untuk senantiasa berbagi dan sharing pengalaman kepada banyak orang.