Ustadz drg Fathul Adhim Ajak Berpuasa Ramadhan dengan Cerdas & Sehat

Ustadz Fathul Adhim, Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah, ceramah di Masjid Ar-Riyadh Hidayatullah, Gunung Tembak, Balikpapan, Selasa (14/03/2023).* [Foto: SKR/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Berpuasa sebagaimana pada bulan suci Ramadhan ini tidak hanya melatih iman. Namun juga dapat memberikan efek kesehatan bagi manusia.

Apalagi, sebagaimana dikatakan Ketua Dewan Mudzakarah Hidayatullah, Ustadz drg Fathul Adhim, M.K.M., jika dilanjutkan dengan berpuasa sunnah di luar bulan Ramadhan.

“Apabila kita melanjutkan puasa Sunnah setelah puasa ramadhan ini, maka in syaa Allah kita ini sehat,” ujar dai yang juga dokter ini, saat berbagi tips kesehatan di mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, jelang Ramadhan 1444H, Selasa (14/03/2023).

Pada kesempatan itu, ia mengajak warga Hidayatullah agar memanfaatkan potensi Ramadhan dengan cerdas. “Sehingga bisa mendapatkan ketakwaan ketika di luar Ramadhan,” imbuhnya.

Dalam sebuah forum Halaqah Pemimpin Umum Hidayatullah di Gunung Tembak, para ustadz berdiskusi, bagaimana agar para santri dan warga mampu membawa nilai-nilai Ramadhan hingga bakda Ramadhan.

“Kami kemarin di halaqah bersama Bapak Pemimpin Umum diskusi untuk bagaimana kita ini mampu mengambil ketakwaan dan nilai-nilai yang ada di bulan suci Ramadhan,” ujarnya.

Hal ini, jelasnya, penting. Karena pada bulan suci Ramadhan manusia berpuasa dari makan dan minum serta menjaga syahwatnya.

“Saya pernah baca ada seorang bertanya kepada Imam al- Jauzi, apa konsep Islam dalam kesehatan itu di Qur’an tidak ada? Kemudian Imam Al Jauzi mengutip salah satu ayat, al-A’raf ayat 31,” tuturnya.

“Menurut Imam Jauzi ini adalah inti dari kesehatan. (Bahwa) penyebab utama yang paling banyak orang sakit adalah faktor makanan,” lanjutnya.

Ustadz Fathul Adhim juga menjelaskan, puasa pada bulan Ramadhan baik dalam belajar untuk mengatur pola makan.

“Konsep puasa itu cukup baik karena kita mengurangi makanan mulai dari fajar sampai magrib, baru setelah itu kita disegerakan makan setelah buka puasa,” ujarnya.* (MUAS/Media Ramadhan/MCU)

Baca juga: Cerita Ustadz Fathul Adhim Ingin Bangun Pesantren Masyarakat

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *