Suka Duka Dakwah Ustadz Panji di Papua, dari Sumur Bor hingga Malaria

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- BERANGKAT dengan rasa lapar alias penasaran akan tantangan hidup di Papua, kini Ustadz Muhammad Panji sudah kenyang dengan suka duka sebagai juru dakwah di bumi Cendrawasih.

Kisahnya berawal dari rasa penasaran akan cerita-cerita yang sering didengar di masa santri dahulu.

Berulang kali, akunya, ia mendengar paparan kisah di mimbar Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak, Balikpapan tentang kisah para dai yang terjun berdakwah di Papua.

“Jadi awalnya cuma karena didorong ingin tahu cerita sebenarnya, karena dai-dai yang bertugas di sana selalu menyampaikan Papua itu seram, nyamuknya sebesar anak ayam. Penasaran saja rasanya ingin membuktikan itu,” ucapnya tersenyum menceritakan awal mula tugas dakwah di Papua.

Kali ini giliran Ustadz Panji, sapaannya, yang berdiri di mimbar yang “sama” dahulu di Masjid Ar-Riyadh, Gunung Tembak.

20 Tahun Lebih

Seperti biasa di masjid itu, para dai diminta melaporkan progres dakwah sekaligus kisah-kisah motivasi selama dakwah di Papua.

Dua puluh tahun lebih, sejak tahun 1996, ia mulai keliling berdakwah di beberapa kota/kabupaten di Irian Jaya (nama sebelumnya) yang sekarang sudah mengalami pemekaran menjadi beberapa kota/kabupaten dan provinsi yang berbeda.

Menurutnya, selain kekuatan fisik dan silaturahim menjalin sinergi, modal utama berdakwah di Papua tak lain adalah kekuatan spiritual atau ibadah.

“Dakwah di Papua itu berat. Butuh bantuan dan pertolongan Allah. Orang bilang tidak mungkin, tapi kalau kita rajin ibadah dan berdoa, semua bisa terjadi karena kehendak Allah,” tegasnya memberi motivasi bagi para santri dan jamaah di Gunung Tembak, beberapa waktu lalu (23/5/2026).

Kisah Sumur Bor

Panji bercerita, di Biak dahulu, salah satu kendala adalah kebutuhan air bersih. Biar hujan jam berapa pun, lanjutnya, santri dan warga pasti bangun untuk tadah air hujan. Saking susahnya mendapatkan air bersih.

“Akhirnya, kita ikhtiar bikin sumur bor. Semua orang bilang percuma. Tidak bisa karena kebanyakan tanah karang. Tapi kita yakin bisa jika Allah berkehendak,” ungkapnya menceritakan “keajaiban” dan pengalaman dakwah di Papua.

Alhamdulillah, izin Allah sumur bor itu berhasil.

Lain Biak, lain pula Merauke. Awal tugas ke daerah yang sekarang jadi ibukota Papua Selatan itu pada tahun 2017. Kendalanya sama, susah mendapatkan air bersih. Sejak awal, kabarnya nyaris tidak ada yang berhasil membuat sumur.
“Dari awal pakai air asin. Tidak pernah berhasil bikin sumur, pernah bahkan bor hingga 150 meter,” ungkapnya.

Akhirnya, Panji mengumpulkan seluruh warga dan para santri. Ia berpesan khusus kepada mereka untuk berdoa dan meyakini usaha ini insyaAllah bisa.

“Ada donatur yang siap bantu. Jadi kita mulai mengebor hari Jumat. Lagi-lagi orang bilang tidak bisa. Tapi Alhamdulillah, meski belum tawar seratus persen, tapi sumur itu sudah bisa dipakai sampai sekarang,” ucapnya bersyukur.

Malaria

Soal malaria jangan ditanya. Tinggal di daerah yang dikenal “sarang Malaria”, Panji mengaku sudah mengalami hampir semua jenis penyakit yang dikenal mematikan itu.

“Awal tugas di Timika tahun 1996 lalu, hampir sebulan lebih setiap pekan pasti masuk rumah sakit. Pernah juga merasakan Malaria Tropika plus empat dan Malaria Tersiana plus lima sekaligus,” lanjutnya.

“Goyang sedikit muntah, beberapa hari di klinik samping kiri kanan meninggal semua, otak kayak encer,” kata Ustadz Panji menceritakan ganasnya penyakit Malaria tersebut.

“Jadi kalau ada pemuda Islam yang betul-betul mau merasakan nikmatnya berjuang dan berislam, Papua masih sangat butuh tenaga guru dan dakwah di sana,” tutupnya.* (Abu Jaulah/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *