Silaturahim Pengurus & Ibu-ibu Senior: Menyulam Spirit Kaderisasi & Doa yang Tak Putus

Ummulqurahidayatullah.id– Sebuah momentum yang sarat makna terjadi di Gedung WKP (Kantor Yayasan Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan), Gunung Tembak, 9 Muharram 1447 H (5/7/2025).

Yaitu saat lebih dari seratus peserta yang terdiri dari ibu-ibu pembimbing dan ibu-ibu senior YPPH Balikpapan berkumpul dalam balutan silaturahim, menyatukan hati dan visi dalam rangkaian ukhuwah yang mendalam.

Acara ini bukan sekadar temu wicara, tetapi sebuah pertemuan ruhaniyah yang menyentuh, menguatkan kembali spirit kaderisasi biologis dan ideologis Hidayatullah.

Diawali dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an QS. Ibrahim ayat 35-40 oleh seorang Mahasiswa PUZ-STIS Hidayatullah semester 2 asal Sulawesi Tenggara, suasana ruangan langsung terbangun dengan rasa khidmat.

Ayat-ayat tersebut mengisahkan keteladanan Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dalam menanamkan fondasi iman melalui kekuatan doa.

Sebuah pesan mendalam yang relevan dalam membina generasi beriman hari ini.

Terpenting Jalinan Hati

Ustadz Abul A’la Maududi, Sekretaris Yayasan, membuka sambutan dengan menegaskan bahwa acara ini murni silaturrahim. Gedung WKP, katanya, hanyalah simbol.

“Yang terpenting adalah jalinan hati dan peran sentral ibu-ibu dalam melanjutkan kaderisasi. Kami meyakini, dalam 50 tahun pertama ini sudah tumbuh “dinasti” dalam makna positif. Hasil dari ikatan ruhiyah dan pernikahan yang saling memperkuat jaringan perjuangan,” ungkapnya.

Ia juga mengajak peserta melakukan tur ke ruang-ruang penuh sejarah di Kantor WKP, termasuk kamar yang pernah ditempati tokoh nasional seperti Anies Baswedan, KH. Ma’ruf Amin, dan lain-lain.

Perjuangan Era KH Abdullah Said

Sementara itu, Ustadz Sujaib, Bendahara Yayasan yang telah mengabdi lebih dari 30 tahun, menceritakan secuplik perjuangan mengelola keuangan lembaga.

Dengan haru dan harap, H Sujaib menyampaikan kenangan pada zaman KH Abdullah Said (Pendiri Hidayatullah) di mana begitu besar keinginan untuk menaikkan natura pembimbing dari Rp50 ribu menjadi Rp70 ribu per bulan. Namun tidak mudah rasanya.

“Kami mohon doa ibu-ibu semua, semoga kami dimampukan untuk melayani lebih baik,” ucapnya tulus.

Berpikir Jauh ke Depan

Dalam kesempatan berikutnya, Ustadz Hamzah Akbar, Ketua Yayasan, mengajak para peserta untuk berpikir jauh ke depan, dengan kesadaran bahwa perjuangan tidak semata tentang hasil, tapi proses panjang yang ditempuh dengan sabar dan penuh harap kepada Allah.

“Ada hal yang tidak bisa kita ikhtiarkan, seperti takdir dilahirkan dari ibu siapa. Tapi banyak hal bisa kita usahakan, dan kuncinya ada pada kekuatan doa,” pesannya.

Ia juga menekankan bahwa catatan-catatan empiris dalam kepengurusan perlu terus ditulis, karena menjadi bagian dari sejarah yang otentik.

“Jangan Sampai Lalai”

Tak kalah menyentuh adalah sepatah dua kata dari perwakilan peserta, Bunda Rosmala, santriwati awal sekaligus Istri Alm. Ustadz Hasyim HS yang mengingatkan pentingnya menjaga kultur syar’i dalam setiap kegiatan.

“50 tahun kita di sini, dari tidak punya apa-apa, lalu Allah bangunkan pelan-pelan, maka jangan lalai karena dunia. Yang sesak bukan karena kurangnya materi, tapi kalau adzan terdengar dan anak-anak kita tak langsung wudhu karena asik dengan handphone-nya, itu yang menyakitkan,” ujarnya lirih namun menghunjam hati.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para pengurus yang terus berjuang “jungkir balik” memuliakan lembaga.

“Kami tak bisa membalas, hanya bisa mendoakan. Semoga anak-anak kita, lembaga ini, dan Hidayatullah se-Indonesia diberi jalan lurus oleh Allah,” tutupnya dengan suara bergetar.

Acara ditutup dengan makan bersama, dan tur ke area WKP, yang menjadi kebahagiaan tersendiri bagi para peserta.

Mereka menyusuri ruang-ruang yang menjadi saksi bisu lahirnya gagasan besar dan kader-kader umat dari masa ke masa.* (Itha/Mushida/Media Center @Ummulquraidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *