“Ngapain Masuk Pesantren Hidayatullah?”

Ummulqurahidayatullah.id– “Ngapain masuk pesantren, masa depan tidak jelas. Kerjanya cuma shalat lima waktu, zikir, dan mengaji saja.”
Tidak sekali atau dua kali terlontar ungkapan ini. Mirisnya ia bukan dibisikkan oleh orang lain. Tetapi justru datang dari sebagian kerabat dekatnya sendiri. Bukan hanya menyesalkan atau tidak setuju, di antara mereka sampai mencap tidak lagi memiliki masa depan.
Itulah yang dialami dan diceritakan kembali Nur Wahid, seorang santri yang mondok di Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, era tahun 1980 hingga awal 1990-an silam.
Bayangan masa depan Nur Wahid dan saudara-saudaranya memang seolah pudar seiring putusan ayahnya, Joko Lelono, yang bulat tekad bergabung melebur di pesantren kala itu.
Maklum, bagi sebagian orang, keluarga besar Nur Wahid adalah orang yang berkecukupan jika diukur secara materi saja. Kakeknya pensiunan dari perusahaan minyak mentah yang berplat merah di Balikpapan. Ayahnya, Joko Lelono, meski cuma usaha sablon dan tukang buat stempel, namun sejak dulu jasa itu selalu diminati oleh masyarakat.
Sisi lain, masa itu fasilitas pesantren terbilang masih sangat minim, jika tidak dikatakan serba kekurangan. Mulai dari urusan tempat tinggal hingga konsumsi sehari-hari. Semua serba terbatas. Jangankan gedung sekolah untuk santri, rumah-rumah yang ditempati oleh para ustadz lebih tepat disebut gubuk sebenarnya.
Senada, Pemimpin Umum Hidayatullah saat ini, KH Abdurrahman Muhammad juga mengakui itu. Ia sendiri pernah mengajari Nur Wahid dan kawan-kawannya semasa mereka santri dahulu. Mereka disebut lebih suka tidak sekolah dan berkegiatan selain belajar.
“Nakalnya itu ya berenang di empang, tidak masuk sekolah. Apalagi memang waku itu tidak ada (bangunan) sekolah, tapi ada waktu belajar, utamanya setelah Maghrib,” terangnya menjelaskan kondisi pendidikan di pesantren masa silam.
“Pernah saya temukan itu tangannya tembus masuk kail di sini, dia mancing (terus) masuk kail. Ah kamu ini. Sambil saya pegang-pegang tangannya begini,” ucap Pemimpin Umum Hidayatullah.
Bagi Nur Wahid, masa depan itu justru semakin benderang di depan matanya sekarang. Ia bersyukur bisa mengenal kultur Hidayatullah sekaligus terlibat sebagai pejuang agama Allah.
“Saya bangga dan berterima kasih kepada semua guru-guru yang telah ikhlas mendidik para santri di tempat ini,” ucapnya dari atas mimbar Masjid Ar-Riyadh, Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, beberapa waktu lalu.
“Kalau bukan jasa guru dan hidayah Allah, tentu saya tidak bisa berdiri di tempat mulia ini,” lanjutnya.
Kini, bersama ribuan dai-daiyah Hidayatullah lainnya, Nur Wahid bersiap-siap mengikuti acara Silaturahim Nasional (Silatnas) yang digelar di Gunung Tembak yang tinggal beberapa hari tersebut.
Ratusan peserta dari sebagian daerah Papua dan Maluku bahkan sudah berlayar menuju Balikpapan. Mereka harus lebih awal check out dari tempat tugas di daerah dikarenakan mengikuti jadwal kapal yang hendak mereka tumpangi ke Balikpapan. Barakallah fikum.* (Abu Jaulah/Media Silatnas Hidayatullah/MCU)
Recent Comments