Mengenang Sosok Almarhumah Ustadzah Nurseha

Ustadzah Nurseha (dua dari kanan) bersama sejumlah alumnus STIS Hidayatullah Balikpapan.* [Foto: Istimewa/@Uqreat]

Ummulqurahidayatullah.id | @UqreatInnā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn. Kamis pagi, 3 Muharram 1448 H (18/6/2026), matahari bahkan belum sempat menampakkan cahayanya.

Namun, sebuah kabar duka telah lebih dahulu hadir, mengejutkan dan menyisakan keheningan di hati kami. Ustadzah Nurseha, warga Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, wafat di RS Pertamina Balikpapan, Kamis sekitar pukul 01.26 WITA.

Kabar berpulangnya Ibu Nurseha, istri dari salah seorang pembimbing di Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, menjadi berita yang tidak pernah kami sangka akan datang secepat itu.

Mungkin, beliau tidak terlalu mengenal kami satu per satu. Interaksi kami dengannya tidaklah berlangsung begitu lama. Namun, dari waktu yang singkat itu, kami dapat merasakan bahwa beliau adalah sosok yang meninggalkan kesan yang begitu mendalam.

Tegas

Pada semester akhir perkuliahan, kami mendapatkan amanah untuk mengajar di Rumah Qur’an Asy’ari di rumah beliau.

Hari-hari yang kami lalui di sana menjadi saksi bagaimana kami mengenal sosok Ibu Nurseha —seorang perempuan yang baik, penuh perhatian, dan memiliki ketegasan yang menjadi ciri khasnya.

Bagi Lisa, kawanku, salah satu kenangan yang paling melekat adalah panggilan khas beliau.

“Lisaaa…”

Sebuah panggilan sederhana yang kini hanya tinggal dalam ingatan. Pertemuan saat buka bersama tahun ini sebelum kepulangan mereka ternyata menjadi pertemuan terakhir.

“Beliau baik sekali, beliau sangat perhatian. Saya belum sempat berkunjung lagi ke rumah beliau. Semoga Allah melapangkan kuburnya dan menerima amal ibadahnya,” ungkap Lisa dengan penuh haru.

Perhatian

Kesan serupa juga dirasakan oleh Sisi, kawanku yang lain. Baginya, Ibu Nurseha adalah sosok yang sederhana namun penuh kasih.

“Ibu itu baik, perhatian, pokoknya baik,” tuturnya singkat.

Sementara itu, Reyna mengenang sisi ketegasan Ibu Nurseha yang justru menjadi pelajaran berharga baginya. Saat pertama kali berada di rumah beliau, Reyna pernah ditegur tentang cara membersihkan rumah.

“Beliau mengajarkan bahwa saat mengelap rak dengan tisu, jangan asal mengusap. Tisu harus dilipat terlebih dahulu agar lebih efektif.

Setelah Subuh pun, beliau selalu mengingatkan untuk membuka gorden agar rumah terasa terang dan rapi. Saat itu rasanya seperti dimarahi, tetapi kini saya menyadari bahwa itu adalah bentuk kasih sayang dan pelajaran agar kami tidak bekerja asal-asalan,” kenang Reyna.

Ketegasan beliau bukanlah kemarahan tanpa makna. Di balik setiap teguran, tersimpan harapan agar kami menjadi pribadi yang lebih teliti, disiplin, dan bertanggung jawab.

Bahkan ketika masa pengabdian kami telah usai setelah wisuda, dan kami berpamitan untuk tidak lagi mengajar di Rumah Qur’an tersebut, Ibu Nurseha memberikan hadiah sebagai tanda perhatian dan kasih sayangnya.

Doa untuk Ibu

Kini, rumah yang dahulu sering kami datangi mungkin tak lagi mendengar sapaan dan nasihat beliau. Namun, kebaikan seseorang tidak pernah benar-benar pergi. Ia akan tetap hidup dalam cerita, dalam pelajaran kecil yang pernah diajarkan, dan dalam doa orang-orang yang pernah merasakan kehangatannya.

Selamat jalan, Ustadzah Nurseha. Terima kasih atas setiap perhatian, teguran, dan pelajaran sederhana yang ternyata begitu berharga.

Semoga Allah melapangkan kubur Ibu, mengampuni segala khilaf, menerima seluruh amal ibadah, serta menempatkan Ibu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Karena sejatinya, seseorang tidak diingat karena berapa lama ia hadir dalam hidup kita, tetapi karena seberapa besar kebaikan yang ia tinggalkan.* (irfatunazhifah02/Alumnus STIS Hidayatullah Putri/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *