Mengabdi Melampaui Besarnya Upah

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat – “Jangan biarkan nilai seorang pendidik ditentukan oleh besarnya upah yang diterima. Kemuliaan guru terletak pada pengaruh yang ia tinggalkan dalam kehidupan murid-muridnya.”
Pesan tersebut disampaikan Ustadz Nashirul Haq, Wakil Ketua Pimpinan Majelis Syura Hidayatullah, dalam Pembinaan Guru dan Dosen bertema “Meneguhkan Jati Diri Guru dan Dosen Pejuang, Demi Lahirnya Kader Rabbani” di Aula LPPH, Sabtu, 26 Muharram 1448 H (11/7/2026).
Mengabdi Melampaui Materi
Ustadz Nashirul Haq mengingatkan bahwa menjadi guru atau dosen bukan sekadar menjalankan profesi. Di baliknya terdapat amanah untuk membentuk manusia, menanamkan nilai, dan melahirkan generasi penerus perjuangan. Karena itu, jati diri seorang pendidik dibangun oleh niat yang lurus, ketulusan, dan kesungguhan dalam menjalankan amanah.
Ia kemudian menggambarkan kisah seorang guru di daerah terpencil yang setiap hari menempuh perjalanan puluhan kilometer dengan berjalan kaki demi menemui murid-muridnya. Honor yang diterimanya hanya sekitar Rp150 ribu per bulan, namun keterbatasan tersebut tidak menyurutkan langkahnya untuk terus mendidik.
“Bayangkan seorang guru yang berjalan puluhan kilometer dari rumahnya setiap hari, sementara honor yang diterimanya hanya sekitar seratus lima puluh ribu rupiah dalam sebulan. Apa yang membuatnya tetap bertahan? Bukan karena besar kecilnya upah, tetapi karena ia memahami bahwa mendidik adalah panggilan jiwa dan bentuk pengabdian yang nilainya jauh melampaui materi,” tuturnya.
Menanam Benih untuk Generasi
Menurutnya, kisah tersebut menjadi pengingat bahwa sejarah pendidikan dibangun oleh orang-orang yang rela berkorban demi masa depan generasi. Semangat tersebut perlu terus dihidupkan oleh setiap guru dan dosen dalam menjalankan amanahnya.
“Ketika seorang pendidik bekerja dengan totalitas, ia sedang menanam benih yang mungkin tidak ia panen sendiri. Namun dari benih itulah akan tumbuh pemimpin, ulama, dan orang-orang yang memberi manfaat bagi masyarakat. Itulah warisan terbesar seorang guru,” pesannya.
Pembinaan yang diikuti puluhan guru dan dosen tersebut menjadi momentum memperbarui komitmen untuk menjadi pendidik yang tidak hanya mengajar, tetapi juga mendidik dengan keteladanan, kesabaran, dan pengabdian.
Melalui pembinaan ini, para guru dan dosen diharapkan semakin memahami bahwa jati diri seorang pendidik tidak diukur dari besarnya imbalan yang diterima, melainkan dari keikhlasan dalam menjalankan amanah, keteguhan menghadapi tantangan, serta kesungguhan dalam membentuk generasi yang berilmu, berakhlak, dan siap memberikan manfaat bagi umat dan bangsa. (Abana/@Uqreat)
Recent Comments