Dr Abdul Ghofar: Pesantren Harus Menjadi Episentrum Perkaderan & Pusat Riset Peradaban

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Pesantren memiliki peran yang jauh lebih besar daripada sekadar menjadi tempat mempelajari ilmu-ilmu keislaman. Pesantren harus menjadi episentrum perkaderan yang melahirkan pribadi berilmu, berkarakter, dan siap memimpin peradaban.
Gagasan tersebut disampaikan Ketua Bidang Perkaderan DPP Hidayatullah, Dr. Abdul Ghofar Hadi, dalam pemaparannya pada Rabu (23/9/2026).
Menurut Dr Abdul Ghofar, sejak awal KH Abdullah Said (Pendiri Hidayatullah) telah meletakkan fondasi pesantren sebagai ruang pembentukan kehidupan Islam secara utuh.
Karena itu, orientasi pesantren tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi menghadirkan pengalaman hidup yang membentuk kepribadian seorang Muslim.
“Bagi Ustadz Abdullah Said, pesantren didesain bukan semata tempat belajar Islam, tetapi juga bagaimana ber-Islam.
Jadi misinya pesantren memberikan pengalaman hidup nyata bagaimana menikmati ajaran Islam dalam praktik keseharian. Mulai dari shalat berjamaah, gotong royong dalam membangun pesantren, hingga bagaimana melayani tamu dengan meneladani Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,” jelasnya.
Kawinkan Sains – Teknologi
Lebih jauh, Dr Abdul Ghofar menegaskan, tantangan zaman terus berkembang. Karena itu, pesantren tidak boleh hanya menjaga tradisi keilmuan, tetapi juga mampu melahirkan inovasi yang memberi manfaat bagi umat.
Tradisi spiritual harus berjalan beriringan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.
“Pesantren ke depan harus bisa mengawinkan sains dan teknologi, menjadi pusat riset. Ini yang harus kita siapkan untuk generasi ke depan,” ujar Abdul Ghofar.
Ia menjelaskan, semangat tersebut sesungguhnya telah diwariskan oleh KH Abdullah Said sejak masa awal berdirinya Hidayatullah.
Penggunaan Istilah ‘Kampus’
Salah satu bentuknya ialah penggunaan istilah kampus untuk menyebut lingkungan pesantren. Pilihan istilah itu bukan tanpa makna, melainkan membawa visi besar tentang arah pendidikan Islam.
“Ini juga spirit yang diwariskan oleh Ustadz Abdullah Said yang dahulu mengenalkan pesantren dengan istilah kampus. Tentu ini adalah sebuah upaya mengenalkan pesantren sebagai lembaga yang tidak usang oleh zaman.
Istilah kampus itu memberi pesan bahwa semua yang ada di dalam pesantren harus berupaya menjadi insan yang cerdas secara intelektual juga spiritual. Artinya pesantren harus menjadi tempat lahirnya kader yang berilmu, pemikir, dan penegak syariat Islam,” tegasnya.
Pemikiran tersebut menegaskan, kekuatan pesantren tidak hanya diukur dari banyaknya santri yang belajar, tetapi juga dari kemampuannya membangun ekosistem yang melahirkan kader berkualitas.
Dari lingkungan seperti inilah akan lahir generasi yang memiliki kedalaman spiritual, keluasan ilmu, ketangguhan berpikir, serta kesiapan menjawab tantangan zaman dengan tetap berpijak pada nilai-nilai Islam.* (Herim/@Uqreat)
Recent Comments