“Lebih Baik Dipaksa dalam Kebaikan daripada Dibiarkan dalam Kesia-siaan”

Ummulqurahidayatullah.id | DI tengah senyapnya malam, sayup-sayup terdengar suara para santriwati yang tengah membaca Al-Qur’an.
Dinginnya cuaca dan godaan untuk lelap kembali, ditepis oleh mereka demi berburu kebaikan bulan Ramadhan.
Pada saat yang bersamaan, banyak pemuda pemudi di luaran sana yang masih terlelap, atau bahkan belum tidur demi menghabiskan waktu untuk bersenang-senang.
Selama 24 jam, kegiatan para santri itu dikemas sedemikian rupa, agar benar-benar sarat manfaat dan minim waktu yang terbuang percuma.
Begitulah suasana Ramadhan 1445 H di lingkungan asrama santri putri Sekolah Menengah Hidayatullah (SMH) Balikpapan, Gunung Tembak, Teritip.
Ustadzah Jariah, selaku pembimbing asrama putri, merincikan kegiatan santri selama Ramadhan.
“Jadwal harian santri dimulai pukul 02.00 dinihari. Seluruh santri dibangunkan untuk melaksanakan qiyamul lail berjamaah, yang dilanjutkan dengan halaqah Qur’an selama 30 menit. Setelah sahur dan shalat subuh, pantang untuk santri tidur kembali, melainkan berhalaqah selama satu jam,” jelasnya.
Setali tiga uang dengan kegiatan asrama, di madrasah pun kegiatan pembelajaran difokuskan untuk peningkatan kualitas ibadah santri. Lewat program yang dinamakan Syarat Ketuntasan Ibadah Amaliyah (SKIA), mulai dari pukul 08.00 – 10.30 WITA setiap harinya selama Ramadhan.
“Program ini merupakan salah satu bentuk evaluasi praktik ibadah santri. Jika selama ini santri sudah banyak diberikan materi melalui pembelajaran kelas maupun daurah-daurah, maka melalui SKIA ini, kita mengetahui apakah praktik ibadah anak-anak sudah benar, doa-doa harian sudah sesuai dengan dalil yang shahih, tajwidnya sudah terstandar atau belum,” jelas penanggung jawab program SKIA, Ustadzah Halisa.
Setelah shalat Zuhur, santri kembali mengikuti halaqah Al-Qur’an selama 1 jam 30 menit sebelum istirahat.
Selepas shalat ashar, ada kegiatan taklim, yang diisi oleh santri secara bergiliran, dengan materi yang telah ditentukan di setiap halaqoh. Taklim ini bertujuan melatih kemampuan santri berbicara di depan umum.
Tidak melulu kegiatan di dalam ruangan. Setelah taklim, santri terjun ke lapangan untuk membersihkan area asrama yang menjadi tanggung jawab mereka.
Tuntas kebersihan lingkungan, santri bersiap untuk berbuka puasa sembari mengikuti taklim menjelang buka yang diisi oleh ustadz/ustadzah terjadwal.
Setelah shalat berjamaah Maghrib dan makan malam, santri kembali shalat berjamaah isya. Kemudian bertadarrus Al-Qur’an sebagai penutup hari.
“Alhamdulillah, kegiatan kami selama Ramadhan sangat bermanfaat. Meskipun padat, tapi tidak terasa berat,” tutur Mayaza Ayu Ramadani, santriwati Hidayatullah asal Penajam Paser Utara.
Senada dengan Mayaza, Dinda Aulia Rahman, salah satu santri kelas X SMH Putri mengungkapkan, rasanya berbeda sekali suasana di pondok ini dengan di luar pondok.
“Ketika kami tidak di pondok, sulit untuk fokus ibadah dan belajar seperti di sini. Bagi saya, lebih baik dipaksa dalam kebaikan daripada dibiarkan dalam kesia-siaan,” pungkasnya.* (Ema Nahdah/SMH/MCU)
Baca juga: Ikuti Madrasah Ramadhan, Santriwati SMH Berkomitmen Maksimalkan Ibadah
Recent Comments