Ketika Body Shaming Melukai, Islam Memulihkan

Oleh: Mujtahidah*
Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- ADA satu kalimat dari seorang influencer yang terngiang di kepala saya:
“They thrive on making us feel like we’re not enough (mereka senang membuat kita merasa tidak cukup baik)”.
Ia menggambarkan sebuah realita yang mungkin selama ini kita rasakan, tapi jarang kita sadari. Dalam pernyataannya, ia menyebut bahwa kita hidup di dunia di mana perempuan masih harus terlihat “menarik” secara fisik agar lebih dianggap.
Menurutnya, perempuan lebih sering menjadi sasaran penilaian bukan tanpa sebab. Ada industri yang hidup dari rasa “tidak cukup” yang diam-diam banyak kita rasakan.
Industri ini tidak hanya menjual produk seperti pakaian, tetapi juga menjual rasa insecure (merasa tidak aman), agar kita terus membeli “solusi” untuk masalah yang sebenarnya mungkin tidak pernah ada.
Pernyataan itu terasa menohok. Bukan karena baru, tapi karena nyata.
Luka Itu Ternyata Sangat Dekat
Setelah saya membagikan hal itu di media sosial, ada satu respons yang begitu jujur dari seorang sahabat. Ia tidak sekadar setuju, ia menceritakan apa yang selama ini ia rasakan.
Ia berkata, sadar atau tidak, rasa insecure dan tidak percaya diri itu justru sering lahir dari lingkungan terdekat. Dari kalimat-kalimat sederhana yang mungkin dianggap biasa, tapi berujung pada satu perasaan: “aku berbeda.”
Ia menuliskan bagaimana realita itu terjadi:
Rambut keriwil, kulit hitam, hidung pesek, tubuh gemuk, dan kulit yang tidak mulus, hal-hal seperti itu sering dijadikan bahan candaan. Joke murahan yang dianggap biasa.
Padahal, dari situlah rasa tidak puas dan tidak menerima diri sendiri mulai tumbuh.
Yang lebih menyayat, ia menyadari bahwa industri hanya memanfaatkan kondisi jiwa yang sudah lebih dulu “retak” itu, lalu menjadikannya ladang keuntungan. Dan ketika saya membaca kalimat ini, saya terdiam cukup lama. Karena ia tidak berhenti di situ.
Ia juga mengungkapkan bahwa luka itu tidak hanya terjadi sekali, atau hanya di masa kecil. Bahkan sampai hari ini, saat ia sudah menjadi seorang ibu, penilaian fisik itu masih ia terima.
Dan ketika ditanya, siapa yang paling sering melakukannya?
Jawabannya justru bukan orang jauh.
Justru datang dari orang tua, kakak, adik, teman, paman, tante, nenek, kakek, bahkan guru.
Ketika Luka Menyentuh Tauhid
Yang paling dalam dari semua itu bukan sekadar rasa sedih. Tapi ketika seseorang terus-menerus merasa tidak cukup, tidak layak, tidak sesuai standar.
Perlahan ia bisa sampai pada titik tidak menerima dirinya sendiri. Dan pada titik itu, tanpa sadar, yang terluka bukan hanya hatinya, tapi juga tauhidnya.
Karena seakan-akan ia sedang berkata: “Aku tidak puas dengan bagaimana Allah menciptakanku.”
Padahal Allah telah berfirman:
“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
(QS. At-Tin: 4)
Fisik Bukan Ukuran
Dalam Islam, ukuran manusia tidak pernah pada fisiknya. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)
Ini bukan sekadar penghibur. Ini adalah koreksi cara pandang.
Kisah yang Menyembuhkan: Saat Tubuh Dihina, Iman Ditinggikan
Ada satu kisah yang sangat kuat tentang body shaming (celaan fisik) pada masa Rasulullah ﷺ.
Suatu hari, Abdullah bin Mas’ud naik ke pohon. Saat itu, tersingkap betisnya yang kecil. Sebagian Sahabat tertawa melihatnya.
Rasulullah ﷺ tidak membiarkan itu.
Beliau bersabda:
“Kalian menertawakan betisnya? Demi Allah, betis itu lebih berat di sisi Allah daripada Gunung Uhud.”
Yang ditertawakan manusia, justru dimuliakan oleh Rasulullah ﷺ.
Mungkin hari ini, banyak perempuan sedang berjuang diam-diam dengan luka yang sama.
Luka karena merasa tidak cukup, luka karena dibandingkan, luka karena komentar yang dianggap sepele.
Padahal, masalahnya bukan pada diri mereka.
Tapi pada cara dunia dan kadang orang terdekat, memandang mereka.
So, yang perlu kita ubah bukan wajah di cermin, tapi cara kita berbicara, cara kita menilai, dan cara kita melihat manusia.
Karena bisa jadi, satu kalimat yang kita anggap biasa, adalah luka yang dibawa seseorang hingga ia menjadi “mamak-mamak”, dan belum juga sembuh.*
- Penulis adalah ibu rumah tangga
Recent Comments