“Abi Bukan Punya Kita, Abi Milik Allah!”

Ummulqurahidayatullah.id | GADIS itu turun dari mobil bersama abang pertamanya. Ia berjalan lunglai memasuki rumah. Mereka adalah anak-anak yang terakhir ditunggu, sebelum jenazah ayah mereka dikebumikan.
Semalam, mereka tidur di bandara kedatangan demi mengejar penerbangan pertama pada pagi hari.
Sang ayah yang telah menjadi almarhum itu adalah Ustadz Andi Ahmad Ishaq. Warga Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, Kalimantan Timur, yang juga seorang guru.
Ustadz Ishaq, sapaannya, wafat pada Rabu, 14 Syakban 1446 H (12/2/2025) malam di RS Medika Utama Manggar, Balikpapan. Sebelum wafat, ia memang tengah sakit dan beberapa kali bolak-balik rumah sakit.
Kamis siang, suasana duka menyelimuti rumah almarhum di Gunung Tembak. Tangis memecah di ruang tamu, tempat jenazah Ustadz Ishaq dibaringkan. Abang Albi, anak pertama Ustadz Ishaq, langsung menangis tersungkur di kaki kakeknya, Ustadz Qadir Jaelani, yang duduk di kursi roda.
Derai air mata sang kakek tak kalah deras, badannya berguncang keras sembari terisak.
“Sabar, Nak! Sabar, Nak!”
Hanya itu kalimat yang mampu ia ucapkan di depan cucu-cucunya.
Kami yang menyaksikan berusaha menahan sesak di tengah tangisan tanpa suara.
Mbak Anin, putri ketiga almarhum yang baru saja tiba dari Jawa, tidak mampu menahan tangisnya.
Suaranya bergetar, berbicara dengan ayahnya yang terbujur kaku, tampak seperti orang tertidur.
“Abi (ayahku)!!! Anin belum selesai (hafalan Al-Qur’an) 30 Juz , kita belum bahagiain Abi, belum minta maaf sama Abi!”
“Ummi, Anin belum nelepon Abi, Anin mau bicara sama Abi, mau cium Abi!”
Umminya memeluk erat sang putri sembari mengingatkan untuk tidak meraung-raung. Namun tubuh putri kecilnya itu terguncang hebat, jari jemarinya tampak kaku menahan kesedihan. Butuh waktu beberapa menit untuk akhirnya ia sanggup mencium jenazah ayahnya.
“Tolong, jangan dibawa pergi Abi!” pintanya pada keluarga. Ia tampak masih ingin berlama-lama melihat wajah ayah tercintanya.
Beberapa kali ia menghapus air matanya yang mengalir deras saat hendak mencium jenazah ayahnya. Hanya sekitar 10 menit setelah kedatangannya, jenazah dibawa untuk dishalatkan di Masjid Ar-Riyadh. Saat itu sudah masuk waktu shalat zuhur dan jenazah akan dimakamkan bakda zuhur.
Masih dengan tubuh yang bergetar hebat, Anin mendatangi kakeknya dan menangis kencang. Ustadz Qadir, di tengah tangis hebatnya, berusaha mengingatkan sang cucu.
“Sabar, Nak! Kuat kamu, Nak! Kita semua akan ke sana (berpulang ke Rahmatullah)!”
Saat jenazah diangkat keluar rumah, sang putri dengan suaranya yang tercekat-cekat mengatakan, “Kasihan Abi pergi sendirian. Anin mau ikut Abi!”
Anin terduduk lunglai di depan pintu rumah. Berderai air mata, ia menatap mobil ambulans yang membawa jenazah ayahnya.
“Istighfar, Dek!”
Ya Allah! Tidak kuat rasanya melihat pemandangan tersebut.
Namun, MasyaAllah, yang membuat tak kalah haru saat menyaksikan kakak kedua memeluk adiknya dan menasihatinya, “Sadar, Anin! Abi bukan punya kita, Abi milik Allah, istighfar, Dek!”
Si adik, Anin, akhirnya terbaring tak berdaya, bibirnya terus memanggil-manggil ayahnya.
“Gak bisa, Mbak! Banyak kenangan kita, Mbak, sama Abi!” ucapnya, saat si kakak berusaha untuk kembali menenangkannya.
Namun si kakak tidak gentar, sampai akhirnya si adik mulai tenang dan mengambil air wudhu.
Mereka shalat dzuhur berjamaah dengan ibu dan kakaknya.
Hikmah di Balik Duka
Allahu Akbar! Ada begitu banyak hikmah yang terserak di tengah suasana duka. Kalimat-kalimat yang keluar dari lisan mereka yang telah ditarbiyah, adalah bahasa keimanan yang mampu menenangkan hati yang berduka.
Ditambah cerita yang tak henti mengalir tentang kebaikan almarhum Ustadz Ahmad Ishaq.
وَاجْعَلْ لِّيْ لِسَا نَ صِدْقٍ فِى الْاٰ خِرِيْنَ
“Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.” (QS. Asy-Syu’ara’ :84).* (Itha/Mushida/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments