Dari Bangku MI ke Kehidupan Nyata, Wali Murid Ini Rasakan Buah Pendidikan Putranya di MIRAMA

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat— Pendidikan yang baik tidak hanya meninggalkan kenangan di ruang kelas, tetapi juga membentuk karakter yang terus tumbuh dalam kehidupan sehari-hari.
Hal inilah yang dirasakan Pratiwi Lestari, ibunda Muhammad Fatih Athara, setelah menyaksikan perubahan positif pada putranya itu, yang beberapa bulan lalu menyelesaikan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Raadhiyatan Mardhiyyah (MIRAMA)Putra, Ponpes Hidayatullah Balikpapan .
Beberapa Waktu lalu, Pratiwi menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya kepada Ustadz Jalaluddin, wali kelas Fatih saat duduk di kelas VI MIRAMA Putra.
Ia menceritakan bagaimana berbagai pembelajaran dan pembiasaan yang diterima putranya selama bersekolah kini mulai terlihat hasilnya.
Kebahagiaan Seorang Ibu
Bagi seorang ibu, menyaksikan anak tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik merupakan kebahagiaan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Perubahan itu bukan semata-mata tentang nilai akademik, melainkan juga tentang karakter, kebiasaan, dan cara anak membawa dirinya dalam kehidupan.
“Assalamualaikum, Ustadz. Alhamdulillah semua pembelajaran yang pernah Fatih dapatkan di MI mulai terlihat hasilnya.
Jiwa kepemimpinan, kebersamaan, terlihat jelas apa yang Ustadz ajarkan, semua didik untuk ananda kami. Pengalaman yang didapat di MI yang kini Fatih terapkan. Alhamdulillah membuahkan hasil,” ungkap Pratiwi dalam pesannya kepada Ustadz Jalaluddin (28/09/2026).
Hasil dari Proses Panjang
Ungkapan itu menjadi gambaran bahwa pendidikan yang ditanamkan dengan kesungguhan tidak selalu menunjukkan hasil secara instan.
Ada proses panjang yang dijalani anak selama bertahun-tahun, mulai dari mengikuti pembelajaran, membangun kedisiplinan, belajar bekerja sama, hingga dibiasakan memiliki semangat untuk terus berkembang.
Setelah tidak lagi mengenakan seragam MIRAMA dan telah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), Fatih mulai menunjukkan bagaimana nilai-nilai itu tumbuh dalam dirinya.
Jiwa kepemimpinan, rasa kebersamaan, dan semangat yang dahulu dibiasakan di MIRAMA Putra perlahan menjadi bagian dari kesehariannya.
Pratiwi juga menyampaikan terima kasih atas ilmu dan bimbingan yang telah diberikan para guru selama putranya menempuh pendidikan di MIRAMA Putra.
“Terima kasih untuk semua ilmu-ilmunya, Ustadz,” ungkapnya dengan penuh rasa syukur lewat tulisannya lewat WhasApp.
Tak berhenti di situ, Pratiwi menegaskan bahwa ia melihat perbedaan dalam pembawaan Fatih dibandingkan dengan anak-anak lain.
Menurutnya, pembiasaan dan semangat yang ditanamkan selama bersekolah di MIRAMA Putra turut memberikan pengaruh terhadap cara putranya bersikap dan menjalani aktivitas.
“Iya, Ustadz, beda pembawaannya anak didik Ustadz dibanding anak-anak lain. Pembiasaan dan semangat yang diajarkan selama di MI,” lanjutnya.
Rasa Syukur Sang Guru
Mendapatkan apresiasi itu, Ustadz Jalaluddin membalas pesan Pratiwi dengan rasa syukur dan kebahagiaan.
Baginya, mendengar kabar bahwa ilmu dan pembiasaan yang diberikan di madrasah mulai diterapkan oleh anak didiknya merupakan kabar yang menggembirakan.
“Waalaikumsalam. Alhamdulillah, senang sekali kami mendengarnya. Semoga ananda bisa istiqamah selalu dalam kebaikan dan terus belajar dan berlatih lebih semangat lagi,” balas Ustadz Jalaluddin.
Pesan singkat itu menyimpan harapan besar seorang guru kepada anak didiknya. Meski Fatih telah menyelesaikan pendidikan di MIRAMA Putra, perhatian dan doa dari sang wali kelas tetap menyertainya.
Kelulusan bukanlah akhir dari proses belajar, melainkan awal bagi seorang anak untuk mengamalkan ilmu dan mengembangkan potensi dirinya di jenjang berikutnya.
Bagi seorang guru, keberhasilan anak didik tidak hanya diukur dari pencapaian selama berada di sekolah. Ada kebahagiaan tersendiri ketika nilai-nilai yang dahulu diajarkan tetap melekat, bahkan ketika anak sudah melangkah keluar dari lingkungan madrasah.
Tentu, Ananda Fatih masih terus berproses dan belum berhenti pada jenjang SMP. Diharapkan, Ananda Fatih kelak menjadi anak yang shaleh, senantiasa berbakti kepada kedua orang tuanya, serta memberikan manfaat untuk agama, bangsa, dan negara.* (Abana/Media Mirama Putra/@Uqreat)
Recent Comments