Cerita Pemimpin Umum Hidayatullah Malang Melintang Mengejar Cita-citanya

Ummulqurahidayatullah.id– Siapa sangka, lika-liku perjalanan dakwah yang begitu panjang sejak puluhan tahun lalu, ternyata tak mengubah cita-cita KH. Abdurrahman Muhammad.
Ibarat kata peribahasa, tak lapuk oleh hujan dan tak lekang oleh panas. Rupanya, sejak kecil hingga sekarang, cita-cita itu tak juga pernah berubah. Bahwa sosok yang didaulat menjadi Pemimpin Umum Hidayatullah tersebut tetap saja ingin menjadi seorang guru mengaji.
Hal ini disampaikan oleh Ustadz Abdurrahman, sapaannya, dalam kesempatan taujih (penguatan dan pencerahan) di hadapan puluhan guru Ma’had Tahfizh al-Qur’an Ahlus Shuffah, Gunung Binjai, Balikpapan, Kalimantan Timur beberapa waktu lalu.
Menurut dai senior yang sudah malang melintang hingga ke pelosok Jayapura, Papua dan Manado, Sulawesi Utara itu, guru adalah kesempatan terbaik untuk meraih amalan dan cita-cita terbaik.
“Bagaimana saya bisa melahirkan orang, dan itulah amal terbaik. Tidak ada amal yang lebih baik dari ini,” ucapnya menerangkan alasan di balik cita-citanya itu, pada acara silaturahim yang dirangkai dengan Rapat Laporan Akhir Tahun 2024 dan Program Kerja Tahun 2025 oleh manajemen Ahlus Shuffah, Kamis (2/1/2025).
Dari sini, sahabat karib Pendiri Hidayatullah, KH Abdullah Said Rahimahullah itu, terkadang mengaku masih mendapati bisikan perasaan dari dirinya sendiri.
“Saya bilang (dalam hati) ‘aduh kenapa saya ini jadi pemimpin, coba jadi guru betul-betul saja dulu, sehingga banyak muridku’,” ucapnya sambil tersenyum seperti mengingat-ingat perjalanan hidupnya.
Ustadz Abdurrahman menceritakan, sejak dahulu ia sudah berstatus sebagai pegawai negeri. Sebab ia bersekolah dengan ikatan dinas dari pemerintah. Sehingga sudah terima gaji sejak dulu.
Lika-liku di Yogyakarta
Waktu itu ia memilih menjadi guru di Pulau Kalimantan. Alasannya, karena memiliki teman yang sudah lebih dulu berdiam di Grogot, Kab. Paser saat itu.
Begitupun ketika pergi merantau ke Yogyakarta. Cita-cita itu tak berubah.
“Itu karena saya mau jadi ulama dan sudah masuk di Pendidikan Ulama Yogyakarta, dulunya Majelis Tarjih (Muhammadiyah),” lanjutnya.
Sayangnya, petualangan akademik yang baru dimulai di Kota Pelajar itu kandas hanya setahun. Uniknya, tidak tahannya karena digoda terus oleh teman-teman untuk bergabung kuliah di IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (sekarang bernama UIN Sunan Kalijaga).
“Tidak tahannya karena digoda terus teman-teman di IAIN. Dibawa terus ke IAIN, ah, akhirnya tertarik juga dengan gedung-gedung mewah waktu itu,” ujarnya sambil tersenyum lebar.
Meski ada kendala administrasi pada awalnya, Ustadz Abdurrahman kemudian resmi menjadi mahasiswa di kota yang terkenal dengan berbagai macam budaya dan makanan khasnya.
Bak peribahasa, malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Meski sudah masuk tahun ketiga, lagi-lagi perkuliahannya putus karena satu sebab. Hingga akhirnya ia memilih balik dari perantauan di tanah Jawa dan kembali ke tanah kelahiran di Pare-Pare, Sulawesi Selatan.
Meski demikian, tak ada yang patut disesali dari setiap petualangan dan lika-liku perjalanan itu. Ustadz Abdurrahman menyebut ada hikmah di balik semuanya.
“Hikmahnya saya bisa datang ke Gunung Tembak. Itulah hikmahnya diputar-putar dulu oleh Allah berjuang dan berdakwah di tanah Jawa,” terangnya.
“Aku mau jadi guru, tapi Allah tidak sampaikan. Yang dia sampaikan seperti ini,” tutupnya mengakhiri cerita perjalanannya menuntut ilmu.
“Jadi, kalian jadi guru, Alhamdulillah. Karena Nabi Muhammad begitu, innama buitstu mualliman, itu juga doa Nabi Ibrahim. “wa yu’allimuhul kitaba wal hikmah,” tambahnya.
“Beruntunglah yang Jadi Guru”
Terakhir, Pemimpin Umum Hidayatullah menitip pesan kepada seluruh guru. “Kalian (beruntung) sudah mendapat doa itu. Tapi betul-betul harus jadi guru.”
Bahwa guru itu memang melahirkan murid. Murid yang betul-betul memang baik. Kalau cuma jadi “guru-guru” saja atau “ngajar-ngajar” saja, nanti muridnya jadi “murid-murid” saja.
Ustadz Abdurrahman berkeinginan, satu saat dengan usia yang diberikan, dirinya tetap bisa duduk menyimak mendengarkan anak-anak menyetorkan hafalan al-Qur’annya.
“Saya ini tetap mau jadi guru. Ini cita-citaku,” pungkasnya.* (Abu Jaulah/MCU)
Recent Comments