Terungkap! Kisah UNA Ketum DPP Hidayatullah saat Awal-awal Mondok di Gunung Tembak

Ustadz Naspi Arsyad (UNA) di Kedai Rabiul, Gunung Tembak, Balikpapan, saat berdiskusi dengan pegiat media @Uqreat (8/11/2025).* [Foto: SKR/Uqreat/Media Center Ummulqurahidayatullah]

Ummulqurahidayatullah.id– Amanah baru selaku Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) Hidayatullah tak membuat Ustadz Naspi Arsyad, Lc. (UNA) kehilangan hobi dan kebiasaannya selama ini. Salah satunya yaitu suka ngobrol dan menyapa siapa saja dan bercanda penuh humor.

Hari itu, di tengah kesibukan kunjungan perdana ke Kampus Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, beberapa waktu lalu, ustadz lulusan Universitas Islam Madinah tersebut tampak asyik mengobrol dengan sejumlah pegiat media social @Uqreat dan dai.

Malam itu, di Kedai Rabiul, pusat kuliner di Gunung Tembak yang cukup dekat dengan Pondok Pesantren Hidayatullah, Ustadz Naspi bercerita soal pengalaman dan motivasi ketika nyantri dahulu.

UNA bercerita saat awal-awal bergabung dengan Pondok Pesantren Hidayatullah Gunung Tembak.

“Jadi ada keluarga yang bertanya, eh kemae Naspi (kemana Naspi)?”

“Oh, lampai pesantreng, di Balikpapang (Oh, dia pergi (mondok) di pesantren, di Balikpapan),” ucapnya menirukan sebuah dialog dengan logat Makassar, Sulawesi Selatan.

“Kenapa jauh sekali, pesantren seperti apa itu?” Rupanya, tutur UNA, ada tetangga di kampung yang masih penasaran. Ada apa di Gunung Tembak saat itu kok bisa Naspi Arsyad muda kala itu memilih masuk pondok?

Menurutnya, rasa penasaran tetangga itu makin menjadi-jadi karena orang tuanya yang akrab disapa dengan panggilan “Daeng (Dg) Lalang” menceritakan pengalaman anaknya belajar di Gunung Tembak.

Mencangkul & Bertukang

Bahwa, selain belajar, Naspi juga diajari dan dibiasakan mencangkul, berkebun, hingga bertukang atau membantu para tukang membangun gedung-gedung pondok pesantren.

“Eh, ngapa nakkulle Dg. Lalang? (Kenapa bisa begitu?)” kata Ustadz Naspi menirukan kembali rasa penasaran itu.

Menurut mereka di kampung, keluarga Dg. Lalang adalah keluarga terpandang dan secara ekonomi lumayan mapan. Ukuran masyarakat sekitar, orang tua UNA sangat mampu menyekolahkan ke sekolah bonafid atau yang tebilang mahal sekalipun.

“Di kampung itu, asumsinya kalau bertani atau berkebun itu pekerjaan ekonomi menengah ke bawah biasanya,” ucap UNA memberi keterangan tambahan atas keheranan sebagian tetangga dan keluarganya.

Sisi positifnya, mondoknya dia menjadi sesuatu yang dibicarakan. Viral istilah media sekarang. Berarti ada sesuatu di Hidayatullah Gunung Tembak pada saat itu. Kenapa anaknya Dg. Lalang mau mondok?

Jadilah, beberapa kerabat dan keluarganya hingga tetangganya ikut nyantri dan mondok di pesantren Hidayatullah di Balikpapan juga.

Uniknya, kata UNA, ketika ada santri yang goncang atau tidak betah. Orang tua mereka ikut berdalih, “Eh, kamu tidak malukah, anaknya Dg. Lalang saja bisa bertahan, masak kamu tidak bisa bersabar,” ungkap UNA tersenyum mengingat kejadian itu.

Bahan Evaluasi Pendidikan

Kisah di atas, lanjut ustadz yang kini diamanahi sebagai Ketua Umum DPP Hidayatullah, bisa menjadi pelajaran. Bahwa urusan pendidikan bukan soal pelayanan dan fasilitas semata saja. Tetapi lebih penting adalah tentang nilai yang ditransformasikan oleh para pendidik kepada santri-santrinya.

“Ini harus jadi evaluasi pendidikan Hidayatullah sekarang dalam mendidik dan melahirkan generasi pelanjut perjuangan dakwah Islam,” ucapnya.

“Termasuk soal membangun kepercayaan publik dan peranan media sekarang,” pungkasnya saat itu (8/11/2025) di hadapan para pegiat media sosial @Uqreat yang juga guru dan dai tersebut.* (Abu Jaulah/@Uqreat/@Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *