Sudahkah Menata Ulang, Apa Tujuan Menjadi Pendidik?

Oleh: Mujtahidah*
Ummulqurahidayatullah.id | HEDONISME adalah pandangan hidup yang menempatkan kesenangan dan kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama.
Ustadz Felix Siauw pernah menyampaikan, dalam sejarah tidak pernah ada satu pun peradaban yang bertahan ketika hedonisme menjadi fondasinya. Sebab, materi sejatinya hanyalah alat (tools), bukan tujuan.
Kita bisa melihat salah satu contohnya dalam kehidupan sehari-hari: uang.
Uang diciptakan sebagai alat tukar, tetapi banyak manusia menjadikannya sebagai tujuan hidup. Ketika alat berubah menjadi tujuan, maka arah hidup pun tersesat.
Belajar: Antara Tujuan & Alat
Dalam konteks pendidikan, kita juga sering keliru dalam menempatkan alat dan tujuan.
Belajar seharusnya menjadi wasilah (jalan) untuk mencapai tujuan: bertambahnya ilmu, keberkahan, keimanan, dan kebaikan dalam diri. Sementara nilai dari guru hanyalah alat bantu, bukan akhir dari perjalanan belajar.
Jika seorang siswa memahami hal ini, maka mencontek demi nilai tinggi tidak akan pernah menjadi pilihannya.
Ia paham bahwa nilai tinggi bukan tujuan dan proses yang salah tidak akan pernah mengantarkan pada hasil yang benar.
Maka ketika masih ada siswa yang mencontek, sejatinya mereka belum benar-benar paham untuk apa mereka belajar.
Inilah tugas besar kita terutama para pendidik: membimbing anak-anak untuk mengenali dan menentukan tujuan dari perjuangan mereka belajar, bukan sekadar mengajari cara mendapatkan nilai tinggi.
Mari kita sadari, bisa jadi ada siswa yang nilainya biasa saja, namun hatinya dipenuhi cahaya ilmu yang berkah.
Ia berubah menjadi pribadi yang lebih baik, lebih lembut, lebih jujur, dan lebih dekat kepada Allah. Inilah buah sejati dari belajar.
Pendidik: Menjaga Api Niat
Lalu bagaimana dengan kita, para pendidik? Sudahkah kita menata ulang tujuan dari pilihan kita menjadi guru?
Kita adalah bagian dari jalan yang dilalui siswa untuk mencapai tujuan belajarnya. Maka, jangan sampai kita terjebak menjadikan gaji, status, atau jabatan sebagai tujuan. Sebab Allah hanya akan memberi sesuai dengan niat yang kita tanamkan.
Menentukan tujuan menjadi pendidik adalah bekal menghadapi masa depan. Mungkin suatu hari nanti, tempat yang kini memberi kenyamanan harus kita tinggalkan.
Namun, jika niat kita benar, maka ke manapun kita melangkah, ruh perjuangan itu tetap menyala: menggapai ridha Allah, meraih surga-Nya.
Materi memang penting. Ia adalah darah perjuangan. Tapi bukan jantungnya. Karena jantung perjuangan adalah niat dan semangat yang tak pernah padam. Bila materi hilang, perjuangan tetap hidup karena jantung itu masih berdetak: lillahi ta’ala.*
- Penulis adalah Kepala KB-RA Hidayatullah Gunung Tembak
Recent Comments