Santriwati Usrah Mujaddidah Setorkan Hafalan Qur’an 30 Juz Sekali Duduk

Ummulqurahidayatullah.id– Suasana penuh haru dan rasa syukur mewarnai Sabtu sore ini, momen di mana salah seorang santri tuntas menyetorkan hafalan 30 juznya.
Ialah Alinita Asyabil, santri Usrah Mujaddidah (Program khusus Tahfidz SMH Raadhiyatan Mardhiyyah Putri) asal Balikpapan.
Disaksikan oleh keluarga, para ustadzah dan santri takhassus tahfidz kelas akhir, Alinita menyelesaikan setoran hafalannya dengan lancar.
Prosesi tasmi’ atau penyetoran hafalan ini dibagi menjadi 6 sesi. Per sesinya, hafalan yang disetorkan sebanyak 5 juz dengan penyimak 6 orang ustadzah pengajar di program takhassus, yakni Ustadzah Karimah Athiullah, Ustadzah Maysarah Kamilah, Ustadzah Nur Aini Ismail, Ustadzah Siti Hajar, Ustadzah Fithratul Munawwarah, dan Ustadzah Haniyah Lukman.
Tasmi’ ananda Alinita berlangsung pada Jumat-Sabtu (14-15/2/2025). Dimulai dari Jumat sore untuk sesi 1 (juz 1-5), kemudian dilanjutkan setelah Maghrib dan Isya untuk sesi 2 (juz 6-10). Usai shalat lail, dilanjutkan untuk sesi 3 (juz 11-15). Sesi 4-5 (juz 16-25) pada keesokan paginya, sesi 6 (juz 26-28) setelah zuhur, dan sesi 6 (juz 29-30) dituntaskan setelah shalat ashar.
Membahagiakan Orang Tua
Ibunda Alinita, Ibu Yuliet Pelitawati mengungkapkan kesyukuran dan kebahagiaannya.
“Rasanya, tidak ada yang lebih membahagiakan dibandingkan menyaksikan setoran 30 juz ananda. Betapa perjalanannya menjadi penghafal penuh liku, tapi selalu saya motivasi, selalu saya doakan di setiap shalat saya agar Allah mampukan dia menghafal Al-Qur’an, karena itu cita-citanya,” ujarnya.
Diakui Yuliet, Alinita sejak kelas 4 SD sudah mengazamkan diri ingin menjadi penghafal, meski sempat diragukan oleh ibundanya, dan bahkan diarahkan untuk masuk SMH reguler. Sebab, ia karena khawatir Alin -sapaan akrabnya- tidak sanggup mencapai target yang terlalu besar. Namun rupanya Alin tetap mempertahankan tekadnya untuk masuk program khusus tahfidz.
Alin saat ini telah menyelesaikan pendidikan formalnya. Ia menjalani masa pengabdian sebagai musyrifah Tahfidz. Meskipun ia telah menyelesaikan hafalannya sejak duduk di bangku kelas XII, namun baru saat ini berkesempatan untuk menyetorkannya sekaligus, sebab terkendala sakit.
Keadaan Alin tidak menyurutkan langkahnya menjadi haafidzah. Pada masa pengabdiannya, ia memaksimalkan murajaah hafalannya. Tugasnya sebagai musyrifah yang menerima setoran hafalan santriwati setiap hari, secara tidak langsung membantunya memutqinkan hafalannya.
Pada akhir acara, Ustadzah Dhiya’an Musaddad memberikan motivasi untuk para santri yang hadir dengan mengutip sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :
إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنَ النَّاسِ قَالُوا : مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ : أَهْلُ الْقُرْآنِ هُمْ أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ
“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia. Para Sahabat bertanya, “Siapakah mereka, ya Rasulullah?” Rasul menjawab, “Para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan hamba pilihan-Nya.” (HR. Ahmad)
Bahwa, tambah Ustadzah Dhiya’an, cita-cita mulia para penghafal itu adalah menjadi keluarga Allah, yang menghafal Al-Qur’an bukan hanya di lisan, tetapi Al-Qur’an di hati yang menjadi pedoman dalam bertingkah laku.

Setor Hafalan Dinihari
Untuk diketahui, prosesi tasmi’ atau menyetorkan hafalan sekali duduk ini adalah salah satu program di kelas takhassus SMH putri.
Program ini diberikan kepada seluruh santri yang telah tuntas menghafal 5 juz. Dilaksanakan setiap hari Sabtu dengan beragam jumlah hafalan, mulai dari 5 sampai 30 juz.
Adapun tasmi’ 30 juz biasanya dimulai lebih awal, pada hari Jumat, sebab membutuhkan waktu yang lebih panjang.
Sebagian santri malah memilih memulai setoran setelah shalat lail, yakni sekitar jam 3 atau 4 malam, hal ini karena mereka merasa lebih fokus dan fresh.* (Ema Nahdhah/SMH Putri/MCU)
Recent Comments