KH Abdurrahman Muhammad: Visi Masjid Ar-Riyadh Menyatunya Aktivitas Ilmu & Ruhiyah

Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, di Kampus Induk Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan.* [Foto: Ruhul Hamzah/Media Silatnas Hidayatullah/MCU]

Ummulqurahidayatullah.id– Visi besar Hidayatullah dalam membangun peradaban Islam membutuhkan model nyata untuk dijadikan qudwah.

Di sinilah peran strategis dari setiap kampus, khususnya Kampus Utama dan Induk Hidayatullah, sebagai uswah hasanah bagi kampus-kampus lainnya di setiap daerah.

Menurut Pemimpin Umum Hidayatullah, KH Abdurrahman Muhammad, mencapai model peradaban demikian setidaknya membutuhkan empat unsur pokok dalam mewujudkannya.

Aktivitas Ruhiyah

Pertama, tuturnya, dibutuhkan aktivitas ruhiyah. Dai senior yang sudah melanglang berdakwah ke pelosok daerah itu menyatakan urusan ruhiyah ini patokannya terang untuk dicontoh.

“Siang malam kita lihat kan, di tiga tempat ini: Masjid al-Aqsha, (Masjid Nabawi) Madinah dan (Masjidil) Haram (di Makkah) ini 24 jam aktivitas ruhiyahnya,” ucapnya lugas pada Penutupan Rakornas Kampus Induk & Kampus Utama Hidayatullah di Timika, Mimika, Ahad 28 Syawal 1446 H (27/4/2025).

Jika hal ini berjalan optimal, maka diyakini menjadi sumber keberkahan di lingkungan tersebut. Karena ini disebut bukan daya tarik manusia tapi daya tarik langit.

“Ini sumbernya berkah, coba saja lihat itu (Masjidil) Haram. Ini keyakinan bahwa untuk memberkati hidup ini dan memberkahit kampus ini harus bolak balik ke masjid,” ucapnya.

Aktivitas Keilmuan

Selanjutnya, semua kampus menurut Ustadz Abdurrahman, harus menampakkan aktivitas keilmuan.

Aktivitas ruh dan ilmu idealnya bisa menyatu di masjid. Hal ini berkaca kepada kisah Nabi Ibrahim ketika mendirikan pondasi Baitullah dan juga merujuk kisah Nabi Muhammad yang menguatkan posisi Sahabat para Ahlus Shuffah di Masjid Nabawi, Madinah.

“Itulah visi masjid di Gunung Tembak. Menyatunya aktivitas ilmu dan aktivitas ruhiyah, makanya ada PUZ (Pendidikan Ulama Zuama) dan bikin perpustakaan di (lantai) atas,” ungkapnya menceritakan visi Masjid Ar-Riyadh Gunung Tembak.

“Karena hanya orang yang bagus ruhiyahnya dan yang bagus ilmunya yang bisa menjadi contoh keimanan dan keislaman,” lanjutnya.

Etika & Estetika

Pilar berikutnya, adanya etika dan estetika. Setiap kampus Hidayatullah adalah cermin peragaan peradaban Islam secara nyata.

“Ini bisa menjadi alat peraga sekaligus daya tarik dakwah yang nyata,” ujarnya.

Kerapian Administrasi

Terakhir, kampus-kampus Hidayatullah dituntut untuk mengelola kehidupan yang terpimpin dengan manajemen yang baik.

Termasuk di dalamnya adalah kerapian administrasi dan laporan secara tertulis.

“Bahwa di kampus itu bekerja 24 jam namanya kepemimpinan dan manajemen, sebagaimana Allah membolak balik siang dan malam,” terangnya memberi ilustrasi pergantian waktu yang begitu tertata rapi dan berjalan konsisten.

“Saya ingin mengatakan begini, bikinlah benar-benar kampus-kampus yang santrinya banyak, yang (pendidikannya) terintegrasi dan benar-benar unggul serta menjadi rujukan orang Papua,” pungkasnya menunjuk Kampus Hidayatullah Timika sebagai contoh.* (Abu Jaulah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *