Percepat Pembangunan Peradaban, Hidayatullah Dorong Sinergi Komite Pakar

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat- Membangun peradaban membutuhkan pertemuan antara kekuatan nilai, kedalaman ilmu, dan kemampuan menjawab persoalan masyarakat.
Dalam upaya tersebut, Komite Pakar menjadi wadah strategis bagi Hidayatullah untuk memperluas keterlibatan kaum intelektual dari berbagai bidang.
Gagasan itu mengemuka dalam pertemuan daring bertajuk “Urgensi Komite Pakar dalam Akselerasi Membangun Peradaban” baru-baru ini.
Kegiatan tersebut diikuti unsur Dewan Murabbi Wilayah dan Ketua Departemen Rekrutmen, Pembinaan Anggota, dan Perkaderan (RPAP) Wilayah se-Indonesia.
Ketua Bidang RPAP Dr. Abdul Ghofar Hadi menegaskan, cita-cita membangun peradaban Islam memerlukan sinergi dengan orang-orang yang memiliki keahlian dan kapasitas.
“Kita tidak mungkin membangun peradaban ini dengan kekuatan sendiri, kita butuh sinergi dan berkolaborasi dengan orang-orang yang berkualitas pada bidangnya masing-masing,” ungkapnya, Rabu (21/10/2026).
Landasan Kuat
Menurut Dr Abdul Ghofar, pelibatan pakar memiliki landasan kuat dalam Islam. Ia mengingatkan pentingnya bertanya kepada ahli, mempertimbangkan keilmuan dan keterpercayaan, serta menghormati kedudukan orang berilmu dan ulama.
Dalam praktiknya, kebutuhan terhadap keahlian dapat terlihat dari persoalan sehari-hari. Kader mungkin memiliki pemahaman tentang pengelolaan hati dan pembinaan spiritual. Namun, menata lingkungan agar terhindar dari banjir membutuhkan pandangan pakar yang memahami tata ruang dan pembangunan secara menyeluruh.
Contoh tersebut memperlihatkan pentingnya mempertemukan pembinaan manusia dengan penataan lingkungan hidupnya.
Persoalan masyarakat membutuhkan keahlian yang saling melengkapi agar program mampu memberikan manfaat secara berkelanjutan.
Perluasan Jaringan
Selain memperkuat kualitas pemecahan masalah, Dr Abdul Ghofar menilai interaksi dengan pakar membuka ruang pembelajaran dan kerja sama yang lebih luas.
“Berinteraksi dengan pakar selalu ada inspirasi dan insight baru, perluasan jaringan untuk percepatan program juga sangat terbuka. Seperti pengalaman kita dengan Prof. Icuk RB dari Unsoed Purwokerto,” ujarnya.
Menjaring Talenta
Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa Komite Pakar dapat menjadi sarana menjaring talenta sekaligus menjaga mutu intelektual dalam pengembangan program.
Peran ini sejalan dengan nilai kinerja Hidayatullah, yakni profetik-profesional, yang menempatkan nilai kenabian dan profesionalitas sebagai pijakan.
Relevan di Daerah
Menanggapi paparan tersebut, Ketua RPAP DPW Hidayatullah Nusa Tenggara Barat, Sholihin, menilai pembahasan Komite Pakar relevan bagi pengembangan gerakan di wilayah.
Ia menekankan perlunya konsep dan pendekatan yang sesuai dengan karakter masing-masing daerah.
“Kami mengira konsep dan pendekatan penting, syukur Alhamdulillah juga telah dijelaskan dengan lengkap oleh Ustadz Ghofar Hadi,” tuturnya.
Diskusi ini menegaskan bahwa pengembangan Komite Pakar perlu bertumpu pada kebutuhan nyata di lapangan. Ketika keahlian bertemu dengan kebutuhan masyarakat, gagasan membangun peradaban memiliki jalan yang lebih konkret untuk diwujudkan.* (Herim/@Uqreat)
Recent Comments