Tak Cuma Materi, Kemenag Ajak Guru MIRAMA Tanamkan Cinta dalam Pembelajaran

Ummulqurahidayatullah.id | @Uqreat— Pembelajaran tidak hanya dirancang untuk membuat siswa memahami pelajaran, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak dan penuh kepedulian.

Pernyataan ini relevan dengan penguatan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang disosialisasikan Kementerian Agama kepada para guru Madrasah Ibtidaiyah Raadhiyatan Mardhiyyah (MIRAMA) Putra dan MIRAMA Putri.

Melalui kegiatan supervisi sekaligus sosialisasi Kurikulum Berbasis Cinta, Kementerian Agama menghadirkan Pengawas Kemenag, Nursiah, untuk memberikan penguatan kepada puluhan guru MI putra dan putri.

Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (20/10/2026), di ruang pertemuan LPPH Gunung Tembak, Pondok Pesantren Hidayatullah Balikpapan.

Dalam kegiatan ini, pembahasan tidak hanya berfokus pada kelengkapan administrasi pembelajaran, tetapi juga pada bagaimana guru mempersiapkan proses belajar yang terarah sekaligus menghadirkan nilai-nilai cinta dalam mendidik.

RPP Bukan Sekadar Berkas Administrasi

Dalam sesi supervisi, Nursiah menyoroti pentingnya Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sebagai pedoman guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar.

Menurutnya, pembelajaran yang baik perlu diawali dengan perencanaan yang jelas, agar guru mengetahui materi yang akan disampaikan dan siswa lebih mudah memahami ilmu yang diberikan.

“RPP itu penting karena menjadi pegangan kita saat mengajar. Jadi, sebelum masuk kelas, kita sudah tahu apa yang mau diajarkan, bagaimana cara menyampaikannya, dan apa yang ingin dicapai.

Kalau perencanaannya jelas, insyaallah anak-anak juga lebih mudah memahami ilmu yang kita sampaikan,” tutur Nursiah.

Baginya, persiapan pembelajaran bukan sekadar memenuhi tuntutan administrasi.

Ada tujuan yang perlu dicapai, materi yang harus dipahami, serta kebutuhan siswa yang mesti diperhatikan.

Karena itu, guru perlu menyusun perencanaan dengan sungguh-sungguh agar proses belajar berlangsung lebih terarah.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik pembelajaran yang berjalan baik, terdapat persiapan yang sering kali tidak terlihat oleh siswa.

Sebelum guru berdiri di depan kelas, ada tujuan, metode, dan langkah-langkah pembelajaran yang perlu dipikirkan dengan matang.

Selain supervisi perangkat pembelajaran, Nursiah juga menguatkan pemahaman para guru mengenai Kurikulum Berbasis Cinta, program yang digencarkan Kementerian Agama untuk menghadirkan nilai-nilai cinta dalam pendidikan madrasah.

Peran Guru yang Lebih Luas

Ia mengingatkan, mendidik bukan hanya tentang menyampaikan materi hingga selesai, melainkan juga tentang bagaimana guru membimbing dan memperlakukan peserta didik selama proses pembelajaran.

“Jangan sampai kita hanya fokus pada materi pelajaran, tetapi lupa bagaimana cara mendidik anak-anak dengan cinta.

Anak-anak itu bukan hanya perlu diberi ilmu, tetapi juga perlu dibimbing, dihargai, dan diarahkan dengan baik. Karena itu, nilai-nilai cinta ini perlu kita hadirkan dalam pembelajaran sehari-hari,” ungkapnya.

Pesan tersebut menegaskan bahwa guru memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar pengajar. Sikap, tutur kata, kesabaran, dan keteladanan guru turut menjadi bagian dari pendidikan yang diterima anak-anak setiap hari.

Dalam lingkungan madrasah, nilai-nilai cinta dapat tumbuh melalui hal-hal sederhana: memberikan arahan tanpa merendahkan, menegur dengan cara yang mendidik, menghargai usaha siswa, serta menciptakan suasana belajar yang membuat anak merasa diperhatikan.

Dengan demikian, Kurikulum Berbasis Cinta diharapkan tidak berhenti pada pemahaman konsep, tetapi juga tercermin dalam praktik pendidikan sehari-hari.

Proses Supervisi

Menjelang akhir kegiatan, Nursiah meminta para guru mengumpulkan RPP untuk diperiksa dan dinilai oleh pihak Kementerian Agama.

Pengumpulan ini menjadi bagian dari proses supervisi untuk meninjau perangkat perencanaan pembelajaran yang disusun oleh para guru.

Melalui pemeriksaan tersebut, guru diharapkan dapat mengetahui bagian yang perlu diperbaiki sekaligus meningkatkan kualitas perencanaan pembelajaran di kelas.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama ini menjadi momentum bagi guru MIRAMA Putra dan MIRAMA Putri untuk memperkuat kesiapan profesional, sekaligus memperdalam pemahaman mengenai pendidikan yang berlandaskan nilai-nilai cinta.* (Abana/Media Mirama Putra/@Uqreat)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *