Muslimah Gaza: Jika Masih Ada, Ambil Dariku untuk Perjuangan Ini, Ya Allah

Ummulqurahidayatullah.id | “SESUNGGUHNYA wanita adalah saudaranya para lelaki”
Kalimat ini menggema pada pagi yang penuh keberkahan itu, membuka tausyiah yang disampaikan oleh Syaikh Anas Khader, seorang dai asal Jabaliya, Palestina.
Pagi itu terasa berbeda, lebih menyentuh dan mendalam.
Bukan hanya karena suasana Ramadhan 1446 H yang penuh keberkahan, tetapi juga karena sang dai, yang tumbuh dan besar di tengah perang dan konflik, membawakan materi yang begitu relevan dan penuh makna bagi para Ummahat di Kampu Induk Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, dan sekitarnya, Ahad, 2 Ramadhan 1446 H (2/3/2025) itu.
Syaikh Anas memulai dengan menekankan pentingnya kedudukan wanita dalam Islam. Wanita dalam pandangan Islam adalah permata yang sangat dimuliakan.
Bahkan, ulama-ulama menyebutkan bahwa wanita adalah perhiasan yang harus diperlakukan dengan sangat hormat dan penuh perhatian, sebagaimana kita menjaga permata yang berharga.
Salah satu indikator sejati dari keimanan seorang laki-laki adalah bagaimana ia memperlakukan wanita.
“Wanita adalah ratu di rumahnya,” ujar Syaikh Anas.
Dari tangan wanita, generasi baru dibentuk. Oleh karena itu, tidak salah jika dikatakan bahwa wanita adalah cermin dari baik dan buruknya masyarakat.
Sejarah para ulama besar kaum Muslimin pun menunjukkan bahwa mereka semua dibentuk oleh ibu-ibu yang hebat, yang memberikan didikan penuh cinta dan keteguhan.
Pendidikan Disiplin Sejak Dini
Syaikh Anas kemudian mengisahkan bagaimana ia dibentuk oleh ibundanya, yang dengan tegas mengajarkan disiplin dalam beribadah sejak ia kecil.
Setiap subuh, tuturnya, meski dalam keadaan gelap dan dingin, sang ibunda membangunkannya untuk shalat berjamaah di masjid. Bahkan, sang ibunda rela mengantar Anas kecil hingga masjid atau bertemu dengan orang dewasa yang menuju masjid, hanya untuk memastikan sang anak tidak sendirian dalam perjuangan tersebut.
Sang ibunda selalu mengatakan, “Ibu tidak peduli dengan keadaanmu hari ini, yang ibu pikirkan adalah apa yang akan kamu hadapi di masa depan.”
Sebuah kalimat yang menggambarkan betapa visionernya seorang ibu, yang meskipun telah tiada, namun nilai-nilai yang ditanamkannya menjadikan Syaikh Anas tabah menghadapi segala ujian kehidupan.
Tidak hanya itu, Syaikh Anas juga menggambarkan betapa luar biasa kekuatan mental para wanita Palestina.
Wanita-wanita di Palestina, yang harus menghadapi kehilangan anak-anaknya dalam peperangan, tetap mengucap hamdalah ketika mendengar kabar syahidnya sang buah hati.
Salah seorang ibu di Palestina bahkan berkata, “Ya Allah, jika masih ada yang bisa Engkau ambil dariku untuk perjuangan ini, ambil ya Allah. Untuk agama ini apapun aku serahkan.”
Masya Allah, betapa besar pengorbanan mereka yang jauh melampaui apa yang kita jalani sehari-hari.
Bahkan sejak usia dini, wanita Palestina telah menanamkan semangat perjuangan pada anak-anak lelakinya.
Mereka memanggil anak-anak laki-laki mereka dengan panggilan, “Wahai komandaku, wahai panglimaku”, menunjukkan betapa seriusnya mereka dalam membentuk karakter pejuang pembebas Al-Quds.
Prinsip para wanita di Gaza sebagaimana yang terkandung dalam Surah Thaha ayat 84,
وَعَجِلْتُ إِلَيْكَ رَبِّ لِتَرْضَىٰ
“Aku bersegera kepada-Mu, Ya Tuhanku, agar supaya Engkau ridha (kepadaku)”, sehingga setiap kali ada yang merasa sedih ketika kehilangan, dan itu manusiawi, mereka akan saling mengingatkan bahwa ada kasih sayang Allah di setiap musibah, bahwa tujuan hidup mereka adalah ridha Allah, maka kesedihan mereka tidak pernah berlarut-larut.
Peran Ummahat
Di akhir tausyiah, Syaikh Anas mengingatkan pentingnya peran para Ummahat (wanita Muslimah) dalam mendidik generasi yang tangguh.
Mereka diharapkan mendidik anak-anak mereka dengan Al-Qur’an dan sirah Nabi, serta bersabar dalam menjalankan tugas mulia ini.
Sabar, katanya, adalah perintah yang paling banyak disebutkan dalam Al-Qur’an namun tidak disebutkan apa ganjarannya, sebab semua amalan ketaatan akan menjadi besar jika ditambahkan kesabaran, dan Allah sebaik-baik pemberi balasan.
Semoga kita semua bisa meneladani keteguhan dan semangat para wanita Palestina, serta menjadikan mereka inspirasi dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan pengorbanan dan kesabaran, demi mencapai keridhaan Allah.* (Ema Nahdhah/Media Center @Ummulqurahidayatullah)
Recent Comments