Kenapa Terjadi Bencana? “Karena Pencuri-pencuri Tebang Pohon di Hutan,” Jawab Anak Kecil Ini

Santri cilik KB-RA di Ponpes Hidayatullah Gunung Tembak, Balikpapan, melakukan nonton bareng dan penggalangan dana peduli Sumatera melalui BMH Kaltim, Jumat (5/12/2025).* [Foto: Itha/KBRA/Ummulqurahidayatullah]

Ummulqurahidayatullah.id | SUASANA di lingkungan KB Al-Aulad Hidayatullah & RA Raadhiyatan Mardhiyyah (KB-RA), Gunung Tembak, Balikpapan, dipenuhi antusiasme yang berbeda dari biasanya.

Anak-anak peserta didik duduk rapi menyaksikan video-video bencana yang terjadi di Sumatera. Mulai dari detik-detik sebelum terjadi, saat bencana berlangsung, hingga kondisi setelahnya, baru-baru ini.

Meskipun masih sangat kecil, ekspresi mereka berubah-ubah: terkejut, sedih, bahkan ikut menahan napas ketika melihat rumah roboh atau banjir melanda.

Melalui tayangan singkat itu, ustadzah ingin membuka pintu kesadaran bahwa bumi yang mereka pijak tidak selalu baik-baik saja, dan manusia memiliki peran besar dalam menjaganya.

‎Setelah pemutaran video, ustadzah memberikan pengantar sederhana tentang penyebab bencana dan pentingnya menjaga lingkungan.

Ustadzah menjelaskan dengan bahasa yang lembut tentang pohon yang ditebang sembarangan, sampah yang dibuang tanpa pikir, hingga sikap manusia yang kadang lalai menjaga amanah Allah terhadap bumi.

Polos tapi Menyentuh

Ketika materi selesai, Jumat (5/12/2025) itu, ustadzah mengajukan pertanyaan kepada anak-anak, “Siapa yang ingat, kenapa bisa terjadi bencana?”

Pertanyaan itu bukan sekadar evaluasi, melainkan cara menanamkan kembali apa yang baru saja mereka lihat dan dengar.

‎Jawaban anak-anak pun mengalir, polos sekaligus menyentuh.

Seorang anak mengangkat tangan dan berkata, “Karena orang-orang menebang pohon.” Yang lain menimpali, “Karena buang sampah sembarangan.”

Ada pula yang menjawab dengan lugas, “Karena malas mengaji,” mengaitkan musibah dengan kedekatan kepada Allah sesuai logika sederhana mereka.

Bahkan ada yang berkata, “Karena pencuri-pencuri tebang pohon di hutan.”

Jawaban-jawaban ini mungkin terdengar lucu bagi orang dewasa, tetapi di baliknya ada benih kesadaran ekologis yang mulai tumbuh. Dari usia sedini itu, mereka sudah mampu melihat hubungan antara perbuatan manusia dan kondisi alam.

Penggalangan Dana

‎Kesadaran inilah yang ingin ditumbuhkan melalui kegiatan penggalangan dana yang dilaksanakan bersama Baitul Maal Hidayatullah (BMH).

Setelah memahami makna menjaga lingkungan dan empati terhadap korban bencana, anak-anak dengan antusias memasukkan infak mereka ke dalam kotak donasi. Mereka membawa lipatan kecil dari orang tua mereka.

‎Pada akhir kegiatan, terkumpul dana sebesar Rp3.142.000. Para ustadzah menyampaikan terima kasih kepada wali murid atas kontribusinya.

Lebih dari sekadar jumlah, hari itu mereka menyaksikan tumbuhnya kepedulian yang menjadi bekal penting bagi masa depan.

Diharapkan, semoga kelak, ketika anak-anak ini dewasa dan mungkin memiliki peran dalam pengambilan kebijakan, mereka tetap menjadi penjaga bumi, bukan perusaknya.* (Itha/KBRA/@Ummulqurahidayatullah)

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *